Tamu, oh, Tamu

Bisa jadi karena saya introvert, bisa juga karena saya berasal dari keluarga kecil dan tak pernah ada orang lain tinggal di rumah kami, atau bisa juga karena saya tak pernah tinggal selain bersama keluarga kecil itu, hingga saya punya hubungan yang ribbbettt banget dengan tamu.

Yang saya sebut keluarga kecil adalah mama, papa, saya, dan satu adik. Saya punya dua adik. Adik pertama wafat saat adik ke-2 kelas TK Besar. Alhasil saya minim sekali menyimpan ingatan saat kami tiga bersaudara. Yang ada, hanya dengan adik pertama atau hanya dengan adik ke-2, jarang sekali dengan keduanya sekaligus. Itu sebabnya saya sebut “satu adik”.

Sejak kecil dulu, saya selalu bingung harus bagaimana jika ada tamu. Si Evi kecil yang sedang bermain di ruang tamu bisa lari tunggang langgang ke belakang kalau ada suara “Assalaamu alaikum” di luar, kemudian saya memanggil mama atau papa memberi tahu ada tamu tanpa tahu siapa yang datang.

Papa biasanya menegur agak keras, “Ada tamu ya bukakan pintu, kok malah lari.”

Saya akan berada terus di belakang, bermain di samping tempat tidur, sampai tamunya pulang, yang ditandai mama membawa nampan berisi gelas kosong ke belakang.

Kepanikan tiap ada tamu berlanjut hingga saya remaja dan dewasa walau tak separah masa kecil dulu. Kali ini, saya harus yakin hidangan yang saya suguhkan layak: teh cukup manisnya, tak terlalu kental hingga cenderung pahit, ada makanan kecil untuk teman minum teh, dan di dapur sudah siap hidangan besar jika tamu tinggal untuk makan.

Ini bukan masalah kecil buat saya. Sampai-sampai saya sering mimpi menyiapkan teh untuk tamu lalu air panas yang baru saja direbus tumpah semua atau teh yang sudah siap dibawa ke depan jatuh bergelimpangan dari baki.

Makin diperparah dengan jadwal kerja saya yang tanpa jadwal. Saat orang lain istirahat siang, saya baru berangkat kerja. Orang lain sudah di jalan untuk pulang, otak saya baru mulai panas untuk mengetik. Yang lain sudah mimpi sampai Paris, saya masih di Transjakarta. Orang lain sudah bersiap berangkat kerja, saya masih bergulung selimut. Orang lain libur, saya kerja. Orang lain sibuk rapat sana-sini, saya leha-leha janjian ngopi dengan kawan-kawan.

Jadiiii jaaangan sekali-kali berpikiran begini, “Tanggal merah nih. Yuk ke rumah Evi.” Lalu cusss aja cabut jam 9 pageee.

Kalian tahu saya sedang apa jam 10 saat sang tamu sampai di rumah? TIDUR. Alhasil saya akan tergeragap bangun, panik buka lemari cari baju, lalu lari lintang pukang ke kamar mandi untuk cuci muka, kemudian menyiapkan minum.

Muka cetakan bantal, kepala pusing, kamar kayak kapal pecah. Padahal kamar saya menghadap ruang tamu. Di situ kadang saya merasa malu. Sering juga malah saya tidak ada di rumah karena sudah pergi liputan pagi-pagi di tanggal merah.

Berlebihankah kalau saya berharap tamu kasih kabar dulu sebelum memutuskan datang agar saya siap? Agar saya siap. Bukan agar saya menyiapkan suguhan. Bukan. Menyiapkan suguhan sama sekali tidak merepotkan, selama bukan dadakan. Yang dadakan-dadakan itu yang merepotkan. Sungguh. Tolooong deh. Bisa ya? Ya? Ya?

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s