Jalan Lurus Marida Nasution

20150330_MajalahDetik_174_102 copy

Dia dijuluki “mental cetak”. Di tengah booming pasar seni lukis Indonesia pada era 1990-an, Marida konsisten berkarya di jalur seni grafis.

Oleh Silvia Galikano

Foto Ratna Riantiarno sedang bersandar di kursi malas ditempelkan di latar belakang pagar bambu, jemuran centang perenang, bangunan belum jadi, dan anak-anak bermain di sungai kota. Wajah cantik Ratna tak mengekspresikan terganggu dengan latar belakangnya. Terang saja, asalnya ini dua karya yang berbeda, foto Ratna dan foto latar belakang.

Keduanya disatukan, dibuatkan semacam klise filmnya untuk kemudian dicetak saring bermedium silk screen. Marida Nasution kemudian menjuduli karyanya itu Bersantai (1987). Cetak saring yang merupakan perkembangan dari cetak stensil adalah mencetak gambar di atas kertas, tinta di atas kain sutera, atau nylon yang terentang dengan tegang disapukan dengan semacam karet.

Ada beberapa lain karya Marida Nasution yang menggunakan cara serupa, satu lagi adalah Di Antara Gedung (1982), yakni gambar gedung-gedung tinggi yang ditempeli sketsa pria berdiri menghadapkan badan ke deretan gedung tersebut.

Marida Nasution (1956-2008) adalah nama besar di dunia grafis Indonesia hingga kini, walau sang pegrafis sudah berpulang tujuh tahun lampau. Karya-karyanya dipamerkan dalam pameran tunggal bertema Marida Nasution, Kiprah Seorang Perempuan Pegrafis Indonesia dan dikuratori Setiawan Sabana dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD-ITB). Tak kurang 40 karya grafis cetak saring, etsa, dan instalasi grafis dipamerkan di Gedung A Galeri Nasional Jakarta, 20-30 Maret 2015.

Marida yang alumnus Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta adalah salah satu tokoh penting dalam perkembangan seni grafis Indonesia. Sejak 1984 dia aktif berpameran di dalam dan luar negeri, bahkan sempat mendapat medali khusus pada II Mediteranean Biennale of Graphic Art di Athena, Yunani (1990) dan International Biennial of Graphic Art di Ljubljana, Yugoslavia (1996). Bahkan di tengah booming pasar seni lukis Indonesia pada era 1990-an, dia konsisten berkarya di jalur seni grafis.

Ini pameran tunggalnya ke-7 (pertama setelah Marida wafat) setelah pameran terakhir tahun 2005 bertema Pameran Tunggal Grafis Perjalanan Marida Nasution, 28 April – 12 Mei 2005. Pameran kali ini adalah upaya saudara-saudaranya mewujudkan cita-cita Marida untuk membuat pameran tunggal ke-7, keinginan yang sudah dibuatnya sebelum wafat.

Marida Nasution, Kiprah Seorang Perempuan Pegrafis Indonesia mengumpulkan karya-karya Marida dari sejumlah koleksi yang disimpan keluarga; dari para kolektor, seperti Arifin Panigoro dan Mien Soedarpo; serta dari Galeri Nasional. Dari banyak karya yang disimpan keluarga, kurator memilah dan hanya memilih karya-karya yang jelas informasinya, yakni bertanda tangan dan berjudul.

“Ada juga yang tak terpelihara dengan baik, sobek, dan berjamur,” ujar Setiawan Sabana, sebelum pembukaan pameran. Dia menunjuk Renungan (2007), satu dari deretan karya cetak saring koleksi keluarga, terlihat paspartu (bingkai kertas)-nya yang sudah menguning itu berjamur.

Karya-karya Marida digolongkan secara tematik, bukan linear berdasarkan tahun pembuatan. Dari sana kita temukan bagaimana perjalanannya dengan etsa (intaglio) dan cetak saring (serigrafi). Di masa awal dia bermain dengan warna tapi belum ada warna yang “greget”.

Pengaruh fotografi, yang sejalan dengan cetak saring, kian kental tercermin dalam karyanya, terutama yang mengangkat tema perempuan, khususnya perempuan di perkotaan. Secara fotografis, karya-karyanya dengan tema ini kuat sekali. Marida seperti masuk dalam sosok-sosok perempuan bikinannya, berdialog dan bermonolog dengan mereka.

Namun di atas semua itu, Marida ingin menunjukkan bahwa dia perempuan. Perempuan yang pegrafis, bukan pegrafis yang “kebetulan” perempuan.

Ada kalanya dia keluar dari konvensi dan membuat grafis cetak saring tiga dimensi atau cetak saring di atas akrilik, seperti serial Kehidupan (1997) dan serial Semangat Hidup (1998). Marida, ujar Setiawan, menyebut karya tiga dimensi yang meruang itu instalasi grafis.

Menjelang akhir hayatnya, karya-karya Marida bukan hanya dekoratif, tapi juga mulai menunjukkan renungan serta ekspresi muram dan marah. Seperti perempuan dalam delapan bingkai dengan mata tertutup (Renungan, 2007), pendeta Buddha dikelilingi lotus (Berdoa, 2003), dan wajah yang di samping kiri dan kanannya ditempeli kawat berduri melingkar-lingkar (Kemarahan, 2003).

Dari pameran yang terbilang komprehensif begini, benang merah sebuah perjalanan hidup bisa ditarik, walau kesimpulannya akan sangat subyektif, berbeda-beda tiap orang. Pesan-pesannya tetap segar walau tujuh tahun berlalu dan perempuan masih dalam perjuangannya, sehingga konsep “in memoriam” pameran ini boleh dikantongi sejenak.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 174, 30 Maret – 5 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s