Fantasi Bersama Tohpati

20150420_MajalahDetik_177_a02

Setelah tujuh album, baru kini Tohpati mengeluarkan album gitar tunggal. Sepuluh lagu beragam genre.

Oleh Silvia Galikano

Seperti menyaksikan film-film Eropa yang aktris-aktornya minim ekspresi tapi justru dari sana tersampaikan riuhnya emosi, seperti itulah rasa komposisi Middle East. Bukan nada padang pasir yang meliuk-liuk a la Negeri 1001 Malam. Tak ada itu.

Hingga ke bagian fingering yang rumit, barulah bisa ditangkap mengapa Middle East jadi judul, tak lain karena ruwetnya. Ya, ini Timur Tengah zaman kiwari, era CNN dan Al Jazeera berikut berita perang yang tak kunjung usai serta peta politik yang rumit dan tumpang tindih. Lupakan eksotisnya negeri khayali Abunawas.

Middle East jadi lagu ke-7 yang dimainkan Tohpati pada konser mini Tohpati – Guitar Fantasy di Bentara Budaya Jakarta, 9 April 2015, sekaligus memperkenalkan album terakhirnya, Guitar Fantasy.

Selama hampir dua jam, pemilik nama lengkap Tohpati Ario Hutomo itu cuma berteman lima gitar yang tersandar di sisi kiri dan kanan yang dia mainkan bergantian tiap lagu, tanpa musisi lain. Guitar Fantasy sepenuhnya hanya tentang gitar yang Tohpati mainkan, tak diriuhkan instrumen lain.

Selama 30 tahun berkarier, gitaris ini pernah bergabung dengan beberapa kelompok musik, antara lain Halmahera, Simak Dialog, Trisum, dan Tohpati Ethnomission. Dia jadi music director acara KD Show (2002-2004) di Trans TV, Konser Titi DJ Sang Dewi (2011) di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, dan banyak pertunjukan musik lainnya. Tohpati memainkan semua genre musik.

Guitar Fantasy adalah albumnya ke-8 setelah Tohpati (1997), Serampang Samba (2002), It’s Time (2008), Tohpati Ethnomission (2010), Tohpati Bertiga (2011), Song For You (2013), dan Tribal Dance (2014). Namun baru kali ini dia membuat album gitar tunggal.

Di tengah penggemar yang memadati ruang dalam Bentara Budaya, Tohpati di atas panggung rendah, membuka penampilannya lewat My Dream yang justru menampilkan kentalnya nuansa Timur Tengah, hal yang absen di Middle East. Bersambung ke Layang-layang yang jazzy, ceria, segar, seperti pagi berteman segelas air lemon hangat.

Unsur country samar-samar terdengar di Guitar Fantasy. Lagu yang dijadikan judul album ini awalnya tenang, makin lama chord demi chord berganti sangat cepat lalu tiba-tiba menukik turun yang melinukan.

Bicara tentang Guitar Fantasy, Tohpati bercerita sedikit tentang putri sulungnya Saskia Gita Sakanti (Kanti) yang sekarang berumur 15 tahun dan malam itu hadir. Hobinya menggambar dan menonton film Korea. Sulit dihentikan saat sedang menggambar, sebaliknya ogah-ogahan kalau diminta berlatih piano.

Kanti-lah pelukis cover album terbaru ayahnya dengan merangkum perlambang lagu-lagu di dalamnya. Kanti pula yang mengusulkan agar Guitar Fantasy diambil jadi nama album.

Tohpati kemudian mengganti gitar akustiknya dengan gitar elektrik putih. Saturday menderap ditingkahi pekikan dan lengkingan gembira. Kegembiraan hari Sabtu yang kerap terasa pendek.

Setelah menyandarkan kembali gitar elektrik putih dan mengambil gitar akustik, dia mainkan tiga lagu lembut berturut-turut, yakni Sendiri dari album pertama, Cinema Paradiso yang jadi soundtrack film Cinema Paradiso (1988), dan Yang Dinanti tentang menunggu kelahiran Kanti, 15 tahun lampau.

It’s A Beautiful Day yang gembira, dan Peace yang menentramkan hati semakin melembutkan malam, berlanjut ke dua lagu yang asalnya berlirik, yakni Semusim sebelumnya dinyanyikan Marcell dan Panah Asmara milik Afgan. Penonton menyanyi lirih-lirih saja seakan tak ingin mengganggu konsentrasi sang bintang di depan.

Ada satu gitar yang dari tadi tak dimainkan, kini dia ambil. Gitar Martin itu sebelumnya koleksi Chrisye, pernah dipakai rekaman album Akustik Chrisye (1996), dan belum lama ini dibelinya.

“Saya beli ke mbak Yanti (Yanti Noor, istri Chrisye, red.) pakai harga keponakan,” ujar Tohpati berselang tertawa kecil, “Janji ngga dijual lagi.”

Kisah Cintaku mengalun, penonton pun menyanyi. Tohpati yang meminta penonton menyanyi tak lirih-lirih lagi, dan dia jadi pengiring. Mengapa terjadi kepada dirimu/ Aku tak percaya kau telah tiada/ Haruskah ku pergi tinggalkan dunia/ Agar aku dapat berjumpa denganmu….

Lantas di mana Lukisan Pagi yang ada di album pertama sekaligus menandai karier solonya? Lagu yang dulu dinyanyikan Shakila itu disimpannya untuk encore. Tentu penonton lagi penyanyinya, menggantikan suara Shakila. Lukisan Pagi yang indah sangat sebagai penutup malam.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 177, 20-26 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s