Mimpi Indah Negeri Italia

20150427_MajalahDetik_178_a08

Mimpi bukan sekadar bunga tidur. Setidaknya bagi Peny Pujiati. Belasan mimpinya terabadikan dalam karya grafis menawan.

Oleh Silvia Galikano

Berapa banyak dari kita yang ingat apa isi mimpi semalam? Bagaimana cerita mimpi itu berawal dan bagaimana berakhirnya? Ataukah seperti kebanyakan, mimpi sekadar pengisi tidur untuk segera dilupakan begitu mata terbuka?

Peny Pujiati menyimpan mimpi demikian rapi dalam ingatan sampai terbangun keesokan paginya. Ingatan itu terus menggedor-gedor hingga Peny tuangkan dalam gambar bermedia pulpen Boxy biru di atas blocknote 12×10 cm. Gambarnya detail dengan ke-telaten-an yang luar biasa dalam mengisi satu bidang gambar.

A Girl Who Look Towards The Sea, misalnya. Di situ tergambar seorang gadis duduk menghadap belakang, menghadap laut. Rambut panjangnya ditiup angin. Di atasnya awan bergulung-gulung. Sementara di latar depan adalah rumah-rumah batu dengan pintu melengkung.

Di sisi tiap gambar, Peny tampilkan juga deskripsinya dalam kalimat seperti berikut: Satu hari saya terdampar di perumahan dengan bangunan segiempat berwarna merah muda dan pintu melengkung. Tak ada seorang pun di sana. Sebuah mobil kotak berkeliling di situ tanpa henti. Lalu saya lihat seorang gadis berlari, yang tanpa sengaja saya ikuti dari belakang, keluar dari gerbang dan menuju laut.

Pantai dengan pasir berwarna cokelat, air biru terang, dan langit hijau toska. Awan bergulung ditemani camar terbang dan saya berdiri di belakang. Ketika saya coba memanggilnya, saya sadari, setelah ini mungkin akan jadi adegan horor yang menegangkan. Maka saya lebih baik bangun dari mimpi.

Gambar-gambar yang berisi mimpi Peny Pujiati ditampilkan dalam pameran bertema Sogni d’Oro (Mimpi Indah) di Pusat Kebudayaan Italia, Jakarta, 17-24 April 2015. Selain gambar, dipamerkan pula foto-foto dari perjalanannya ke Italia pada Februari 2015.

Peny Pujiati adalah fotografer di bidang periklanan. Menggambar adalah hobinya. Dia belajar fotografi di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti (angkatan masuk 2001), berlanjut di Kelas Pagi Jakarta Anton Ismael angkatan ke-2 pada 2007.

Peny kemudian belajar bahasa Italia di Pusat Kebudayaan Italia, Jakarta, mulai 2008 dan mendapat beasiswa untuk mendalami bahasa Italia langsung ke negara asalnya pada Januari-Maret 2010. Peny mengulang kunjungannya ke Italia pada 2012 dan 2015.

Sogni d’Oro adalah pamerannya yang ke-3. Pada 2010, Peny pernah menggelar pameran fotografi bertajuk Cartoline dall’Italia (Kartu-kartu Pos dari Italia) di Pusat Kebudayaan Italia, Jakarta. Acara ini menjadi ajang inisiasi seninya, terutama sebagai penerima beasiswa dari Pemerintah Italia yang memberinya kesempatan tinggal dan mengalami perjalanan seni serta spiritual di Italia.

Pameran solo lainnya, Biroe, pada Februari 2015, berlangsung di Third Eye Space Studio, Jakarta, sebagai penanda Peny bukan semata-mata sebagai tukang gambar, melainkan terutama sebagai fotografer, dan menampilkan transformasi artistiknya.

Sogni d’Oro menuturkan kisah-kisah dalam mimpinya, beberapa berlangsung di Italia. “Mimpi saya kadang kala absurd,” ujar Peny usai pembukaan pameran, Jumat 17 April 2015. Ucapan itu seakan merangkum sekaligus merupakan benang merah karya-karya gambarnya.

Selain A Girl Who Look Towards The Sea yang mimpinya berhasil dia hentikan sendiri sebelum jadi adegan horor, tengok A Tent Made from Dragon’s Corpse tentang Peny dan kawan-kawan pada suatu malam menemukan kulit naga teronggok setelah ditinggalkan pemiliknya, sang naga. Mereka akhirnya memasang tonggak-tonggak di dalam kulit naga, lalu berkemah di dalamnya.

Sebagai seniman multitalenta, karyanya unik, dengan sentuhan hangat, idealis, penuh keterbukaan, dan sarat akan nilai berbagi. Foto-foto hitam putihnya lebih bersifat kontemplatif. Seperti Il gatto di Civita, tentang kucing yang duduk di bawah bayangan pohon di depan bangunan tua; atau Tevere yang menampilkan seorang lelaki berjalan menyusuri deretan pohon di sisi sungai, sementara di kejauhan menyembul kubah gereja di antara bangunan lain yang lebih rendah.

Sebaliknya, foto-foto berwarnanya, sebagian diambil menggunakan ponsel pintar, menunjukkan cerianya seorang turis, seorang asing yang punya kesan mendalam pada Italia. Misal empat foto yang dijuduli Il Dolce di Firenze, Mangiate la Pizza in Italia!, Panino dall’ Antico Vinaio, dan Un Biscottino Davanti al Tempio Rotondo. Peny memotret empat kudapan berbeda di tangannya dengan latar belakang bangunan tetenger (landmark) Italia.

“Mimpi bukanlah sesuatu yang tiada guna,” demikian tertulis dalam katalog pameran, sebaliknya, dengan berbagi mimpi dapat menginspirasi orang lain, penikmat karyanya. Perjalanan Peny adalah perjalanan khayal sekaligus nyata, yang mengantarkan pesan artistik dari satu nuansa. Karya otentik yang jadi khasnya.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 178, 27 April – 3 Mei 2015

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s