Sang Guru dari Peneleh

tjokro

Tjokro menyadarkan bumiputera akan harga diri mereka yang utuh. Bukan seperempat manusia seperti disematkan pemerintah Hindia Belanda.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Guru Bangsa Tjokroaminoto
Genre : Drama, Biografi
Sutradara : Garin Nugroho
Skenario: Sabrang Mowo Damar Panuluh, Erik Supit, Ari Syarif
Produksi : Picklock Production, Yayasan Keluarga Besar HOS Tjokroaminoto
Produser : Sabrang Mowo Damar Panuluh, Didi Petet, Nayaka Untara, Ari Syarif, Christine Hakim, Dewi Umaya Rachman
Pemain : Reza Rahadian, Tanta Ginting, Putri Ayudya, Egi Fedly, Chelsea Islan, Maia Estianty, Alex Komang, Ibnu Jamil, Deva Mahenra, Sujiwo Tejo, Christine Hakim
Durasi: 2 jam 40 menit

Sudah sampai mana hijrah kita, Gus?”
Dalam beberapa kesempatan, Tjokroaminoto (Reza Rahadian) melontarkan pertanyaan itu ke Agus Salim (Ibnu Jamil). Pemuda yang ditanya ini datang jauh-jauh dari Koto Gadang, Sumatera Barat ke Surabaya untuk mendukung dan bergabung dengan Sarekat Islam bentukan Tjokro.

Hijrah sejak kecil ditanamkan kakek Tjokro yang ulama Ponorogo, Kyai Bagoes Kesan Besari. Hingga tahun-tahun berikutnya, hijrah jadi kunci gerak di setiap tikungan hidupnya.

Dia melawan mandor Belanda yang semena-mena dengan menumpahkan teh tepat di depan hidung si mandor. Akibatnya Tjokro dipecat dari pekerjaannya sebagai jurutulis di sebuah pabrik.

Tjokro memutuskan meninggalkan rumah nyaman orangtuanya di Ponorogo dan menitipkan istrinya, Soeharsikin (Putri Ayudya), yang tengah mengandung ke orangtuanya, hijrah ke Surabaya untuk bekerja di pelabuhan. Berbilang bulan Tjokro tak pulang dan tak ada kabar sampai-sampai ayahnya, Mangoensoemo (Sujiwo Tejo), menyarankan Soeharsikin bercerai saja. Namun perempuan itu berteguh suaminya cuma satu, Tjokro.

Tjokro pulang ke Ponorogo saat putrinya, Oetari, sudah lahir. Dia menjemput istri dan anaknya untuk dibawa ke Surabaya dan memulai hidup baru. Ibunda Tjokro (Maia Estianti) membekali menantunya batik-batik tulis cantik untuk suatu hari jadi penawar rindu. Mereka tinggal di Gang Peneleh, Surabaya.

Setelah berhenti bekerja sebagai ahli kimia sebuah di pabrik di Surabaya, pada 1912 Tjokro memulai karier politiknya. Dia menerima tawaran Samanhudi untuk mengembangkan Sarekat Dagang Islam (SDI), pertama dengan mengubah nama organisasi itu jadi Sarekat Islam (SI).

Tujuan SI memajukan perdagangan, menolong anggota yang kesulitan, memajukan kepentingan bumiputera, dan memajukan kehidupan agama Islam. Samanhudi sebagai ketua, dan Tjokroaminoto sebagai komisaris untuk daerah Jawa Timur. Organisasi ini berkembang pesat dan menjadi organisasi terbesar pertama dengan 2 juta anggota dari berbagai kelas sosial.

Lewat SI, Tjokro berpidato dari kota ke kota, menyerukan kebangkitan rakyat bumiputera yang dipandang seperempat manusia. Di Bandung, misalnya, dia berpidato, “Tidak wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberi makan hanya disebabkan susunya.”

Loteng Rumah Peneleh adalah kamar kost pemuda, seperti Sukarno, Semaoen, Alimin, dan Moesso. Mereka murid-murid politik Tjokro dengan pandangan politik masing-masing.

Sukarno yang paling rajin melatih pidatonya, terinspirasi pidato-pidato Sang Guru. Demikian besar pengaruh Tjokro bagi rakyat hingga Pemerintah Hindia Belanda menjulukinya Raja Jawa tanpa Mahkota.

Guru Bangsa Tjokroaminoto akhirnya rampung dibikin dan dapat disaksikan mulai 9 April 2015. Selain tentang pahlawan nasional Tjokroaminoto (1882-1934), film ini juga serbasekilas menampilkan situasi politik di tempat lain pada masa yang sama, yang mempengaruhi politik di Hindia Belanda.

Siapa Snouck Hurgronje dan Henk Sneevliet, bagaimana semangat Revolusi Tiongkok dan Revolusi Rusia membakar semangat pemuda, pergolakan di Turki menyebabkan banyak penduduk Yaman (Hadramaut) mengungsi hingga ke Hindia Belanda, bagaimana gejolak politik di Garut, bagaimana pertentangan partai nasionalis dan Islam, serta beragam-ragam masalah kemanusiaan.

Dan, jika di sekolah, yang diajarkan adalah sejarah formal, seperti tempat-tempat penting bagi politikus, dari Tjokroaminoto kita tahu ada “sejarah kecil”, bukan cerita yang berkobar-kobar, melainkan yang manis.

Kita jadi tahu, di masa hidup Tjokro ada komedi stamboel sebagai industri hiburan penting, pelabuhan sebagai sejarah turisme, industri baru perkebunan karet dan kopi, dan Matahari si penari telanjang yang jadi mata-mata.

Internationale, lagu komunis internasional, dinyanyikan tanpa ada masalah. Ibunda Tjokro sambil memainkan piano menyanyikan Surabaya Johnny, lagu yang dipopulerkan artis Jerman, Carola Neher pada 1929.

Sutradara Garin Nugroho menekankan pada detail, pada perlambang, dan perhatian yang besar pada gesture. Set Surabaya awal abad ke-20 dibangun di Yogyakarta termasuk Rumah Peneleh, lori, dan pabrik pengolahan karet. Tak heran jika untuk riset sejarah saja memakan waktu dua tahun.

Ansambel pemain pun baik dan saling mengisi. Christine Hakim “dipaksa” menurunkan standar keaktrisannya untuk berperan sebagai mbok Tambeng. Aktor-aktris dari Teater Garasi Yogyakarta dan kelompok ludruk dari Surabaya tampil sangat memukau sebagai pemain pendukung.

Aktor serbabisa Reza Rahadian benar-benar bagai bunglon, bedanya ekstrem dari satu film ke film lain. Dia sudah bermain demikian bagus sebagai BJ Habibie di Habibie & Ainun (2012), sebagai bapak yang sendirian membesarkan putrinya di film Brunei Yasmine (2014), dan sebagai pendekar bernama Biru di Pendekar Tongkat Emas (2014). Kali ini sebagai Tjokro yang mengobarkan kesadaran bumiputera akan harga diri mereka. Tjokroaminoto juga menyodorkan bintang baru, Putri Ayudya sebagai Soeharsikin, istri Tjokro.

Menyaksikan Tjokroaminoto adalah menelusuri peta kecil masa lampau untuk memahami peta politik negeri dan dunia sekarang. Betapa ternyata persoalan-persoalan dua abad lampau berulang lagi sekarang. Tjokroaminoto memberi cara memahami negeri ini. 

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 175, 6-12 April 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s