Ultron di Pucuk Permainan

20150427_MajalahDetik_178_a02

Avengers kali ini memberi porsi lebih banyak untuk plot-plot emosional, bukan hanya gagah-gagahan action karakternya.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Avengers: Age of Ultron
Genre: Action, Adventure, Sci-Fi
Sutradara: Joss Whedon
Skenario:
Joss Whedon
Produksi: Walt Disney Pictures
Pemain: Robert Downey Jr., Chris Evans, Mark Ruffalo, Scarlett Johansson
Durasi: 2 jam 30 menit

Di bawah komando Iron Man/Tony Stark (Robert Downey, Jr.), Captain America (Chris Evans), Thor (Chris Hemsworth), Hulk (Mark Ruffalo), Black Widow (Scarlett Johansson), dan Hawkeye (Jeremy Renner) menyerbu benteng Baron Strucker (Thomas Krestchmann), agen terakhir Hydra yang masih selamat.

Yang hendak direbut adalah tongkat Loki. Di ujung tongkat ada batu bertuah yang membawa plot film ke beragam arah, khususnya ketika Stark menyadari ada mata-mata di dalamnya. Mata-mata itu mewujud jadi Ultron (diisisuarakan James Spader), menyusup ke komputer dan mulai merakit pasukan robotnya sendiri untuk menghapus ras manusia di permukaan bumi.

Dua mantan letnan Strucker jadi orang kepercayaan Ultron, yakni si kembar Wanda (Elizabeth Olsen) dan Pietro Maximoff (Aaron Taylor-Johnson). Dua manusia hasil eksperimen genetik itu punya kekuatan super, yakni sebagai Scarlet Witch yang dapat menguasai dan menyetir pikiran orang lain dan Quicksilver yang bergerak lebih cepat dari kilat. Mereka menyimpan rahasia dan dendam pada Stark.

Pertempuran hebat pun pecah. Avengers babak belur hingga harus bersembunyi dahulu di tempat tenang, sebuah rumah kayu di tengah lahan pertanian. Mereka disambut penghuni rumah…istri Hawkeye dan anak-anaknya.

Ya, Avengers kali ini, Age of Ultron, memberi porsi lebih banyak untuk plot-plot emosional, bukan hanya gagah-gagahan action karakternya. Selain Hawkeye yang ternyata punya keluarga, ditampilkan juga bagaimana tumbuhnya hubungan Bruce Benner dan dan Black Widow.

Stark pun kini lebih banyak khawatir dan cenderung bergantung pada Iron Legion-nya. Walau tetap orang nomor satu di Avengers, dalam banyak hal Stark menyerahkan komando ke Captain America.

Age of Ultron secara tone lebih dekat ke The Winter Soldier (2014), pijakan untuk Captain America: Civil War yang akan dirilis tahun depan. Dalam The Avengers (2012) pertama, sutradara-penulis Joss Whedon menunjukkan bagaimana membawa buku komik modern ke layar lebar dengan memberi porsi sama bagi semua jagoan.

Kini di Age of Ultron, Whedon menekankan sisi menyenangkan dan manusiawi para jagoan, pada etika, psikologi, dan mendasarkan pada dunia nyata. Itu sebabnya ada kisah cinta, tragedi, kejutan, action menegangkan, emosi, dan penjahat yang sakit jiwa.

Saat-saat jeda antara pertempuran-pertempuran besar digunakan Whedon untuk memberikan banyolan khasnya, seperti palu Thor yang masih jadi bahan taruhan lucu-lucuan dan tetap tak bisa diangkat orang lain kecuali sang empunya.

Gejolak internal Avengers tak kalah serunya, saat Bruce Renner dan Black Widow berjuang dengan masa lalu mereka, Thor memperjuangkan tanggung jawabnya, dan Hawkeye berusaha menyeimbangkan kehidupan sebagai agen dan sebagai kepala keluarga.

Deretan pemain (termasuk Don Cheadle, Stellan Skarsgård, Linda Cardellini dan, tentu saja, Samuel L. Jackson) tahu benar tugas mereka dan menunaikannya tanpa banyak “renda”. Untunglah si kembar The Maximoffs tak diberi spandex warna-warni sehingga bobot emosionalnya lebih terasa. Seluruh karakter kecil ini, yang pastinya dilengkapi cetak biru fungsi mereka, berpotensi dikembangkan jadi cerita menarik di masa mendatang.

James Spader, pengisi suara Ultron, memancarkan kecerdasan dan kecanggihan di tengah kemarahan dan kemurkaan. Seorang megalomaniak dan sosiopat jenius yang mengagumi sekaligus membenci “ayah”-nya, sehingga mendorongnya memberontak dengan cara sedramatis mungkin.

Durasi 2 jam 30 menit terasa tak terlalu panjang, pun bagian akhir yang pertarungannya masif dan lama. Alur, adegan, serta penggunaan teknologi CGI lebih mengesankan dibanding film pertama. Sebuah episode yang solid, yang dikoreografi secara cantik, dan disutradarai serta diedit dengan baik. Pendeknya, Avengers: Age Of Ultron tetap ada di pucuk permainan, film yang meletakkan Marvel di pusat semesta sinema dunia. 

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 178, 27 April – 3 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s