Bermula Janji Vera Brittain

testament

Perang Dunia I pecah. Vera meninggalkan kampus, bergulat dengan horor maut di rumah sakit garis depan pertempuran. Hingga dia muak pada perang.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Testament of Youth
Genre:
Biography, Drama, History
Sutradara: James Kent
Skenario: Juliette Towhidi
Produksi: Sony Pictures Classic
Pemain: Alicia Vikander, Taron Egerton, Roland Leighton, Colin Morgan, Georgina Bennett
Durasi: 2 jam 9 menit

Mengapa pula piano mahal itu yang ayahnya beli? Vera tak pernah minta piano. Yang Vera minta melanjutkan ke universitas. Toh harga satu piano itu sama dengan ongkos kuliah setahun di Oxford.

Jawaban ayahnya, selalu, perempuan bersekolah cuma buang-buang duit. Lagipula, lanjut ayahnya, semakin baik kemampuan Vera berpiano, semakin tinggi pula kelas sosial laki-laki yang akan meminangnya.

Jangan heran dulu, ini Inggris tahun 1914, di pedesaan Derbyshire. Vera Brittain (Alicia Vikander) dan adiknya, Edward (Taron Egerton), adalah anak dari seorang industrialis sukses (Dominic West) dan istrinya yang borjuis (Emily Watson).

Melihat kerasnya kemauan putrinya, Mr. Brittain akhirnya mengizinkan putrinya kuliah di Oxford. Edward pun bersedia ikut membantu ayahnya membiayai kuliah Vera. Vera lolos tes masuk dan diterima di jurusan Sastra Inggris.

Di tengah perkuliahan, Perang Dunia I pecah. Edward bergabung dalam militer dan pergi berperang bersama hampir seluruh pemuda di Derbyshire, termasuk kawannya yang sering bertandang ke rumah, Roland Leighton (Kit Harington).

Antara Roland dan Vera ada percikan asmara. Keduanya kerap bertukar puisi. Kepergian Roland ke medan perang tak urung menimbulkan kekhawatiran di diri Vera. Berbeda dengan Edward yang ditempatkan di wilayah yang relatif aman, Roland akan bertempur di garis depan di Prancis. Namun Vera berhasil diyakinkan, perang ini tak akan lama, akan usai begitu Natal tiba.

Hari-hari perkuliahan tak pernah sama lagi bagi Vera sejak masa perang. Dia tak bisa hanya berurusan dengan timbunan buku di kampus sementara pemuda lain bertaruh nyawa di medan perang.

Vera pun mengambil cuti kuliah untuk bergabung dalam perang sebagai perawat di Voluntary Aid Detachment. Seperti yang diyakini masyarakat, toh perang ini bakal singkat saja, dan mereka akan berkumpul lagi saat Natal. Ternyata semua perkiraan meleset. Para pemuda itu, juga Vera, masih lebih lama lagi di medan perang.

Testament of Youth adalah adaptasi dari memoar Vera Brittain setebal 600 halaman dan pertama diterbitkan pada 1933, yang berisi hari-hari pada masa Perang Dunia I. Film ini menandai debut feature sutradara James Kent sebelumnya menggarap dokumenter dan drama untuk TV Inggris.

Kent bersama produser David Heyman dan Rosie Alison secara cekatan menarik tuas, dari plot romance, menaikkan volumenya jadi plot perang, sehingga dengan mudah menarik penonton terlibat dalam konflik karakter-karakternya. Kengerian perang ditampilkan secara personal, seperti ketika Vera tiap hari menyusuri nama demi nama tentara gugur yang tertulis di halaman khusus di koran.

Sewaktu karakter demi karakter diperkenalkan, segalanya diberi sedikit sentuhan magis lewat pendar indah cahaya. Pendekatan slow-burn diambil guna memberi cukup waktu bagi penonton memahami setiap karakter sebelum masuk ke dalam kekejaman perang.

Adaptasi yang ditulis Juliette Towhidi mengalir natural dengan rentangan getar emosional. Tak ada sentimentalitas yang dibuat-buat atau dipaksakan. Di sana ada kesedihan, hati yang remuk, sekaligus karakter yang tahan banting. Semua elemen tersebut dirangkum dalam sebuah bungkus genre perang yang diceritakan dari persepsi berbeda.

Beberapa adegan adalah rekayasa (tak ada di memoar), seperti adegan Vera tampil di depan pertemuan masyarakat yang menuntut “Jerman Musti Bayar”. Vera naik panggung, menyerukan untuk berhenti saling tuding dan balas dendam tak berkesudahan, walau dia sendiri kehilangan orang-orang tercintanya.

Kent memperhatikan benar nilai-nilai yang dianut masyarakat Inggris pada masa itu, khususnya perbedaan peran perempuan dan laki-laki yang jelas digambarkan. Perhatikan momen tak terduga ketika Mr. Brittain menunjukkan emosinya sewaktu Edward pergi berperang.

Juga adegan Vera yang tergopoh-gopoh pulang setelah menerima telegram dari rumah dan mendapati ibunya (Emily Watson bermain bagus di sini) mengeluhkan kehidupan makin sulit bagi keluarga kaya seperti mereka. Padahal yang setiap hari Vera hadapi adalah horor maut di rumah sakit darurat di garis depan pertempuran.

Yang dipuji dari film ini adalah tak ada adegan perang sama sekali. Kita melihat ada prajurit mati dan terluka, tapi tak ada adegan tembak menembak, tak ada pertempuran, dan tak ada ledakan granat, sehingga bisa fokus pada pergulatan batin personalnya.

Aktris Swedia Alicia Wikander (A Royal Affair, Anna Karenina) menangkap semangat Vera Brittain dengan sangat bagus. Karakter profesor judes yang diperankan Miranda Richard menarik perhatian lewat keengganannya mengakui bahwa laki-laki pergi berperang sementara perempuan tinggal di rumah, merajut.

Dengan plot sederhana, Testament of Youth jadi drama mengharukan dan powerful. Dikentalkan skor sentimentil Max Richter, Kent membuat sebuah keseimbangan yang anggun antara keintiman personal dan kisah sejarah. 

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 179, 4-10 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s