Perang Drone Tak Pernah Enteng

good kill

Seorang pilot F-16 diturunkan jabatan jadi operator drone. Kini, berperang melawan Taliban cukup dari jarak jauh. Kemanusiaannya pun terkikis.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Good Kill
Genre: Drama, Thriller
Sutradara: Andrew Niccol
Skenario: Andrew Niccol
Produksi: IFC Films

Pemain: January Jones, Zoë Kravitz, Ethan Hawke
Durasi: 1 jam 40 menit

Mayor Thomas Egan (Ethan Hawke) bekerja di negeri antah berantah. Benar-benar di titik antah berantah: dalam sebuah kotak besi berukuran 3x3x10 meter di kawasan lapangan udara militer AS, pinggir Las Vegas, Nevada.

Egan bekerja mengikuti jam kantor seperti militer kantoran lainnya, masuk pagi, pulang petang. Bedanya, tiap pagi dia melewati ambang pintu yang memasang tulisan “Anda kini meninggalkan AS”.

Di dalam kotak, Egan duduk di hadapan barisan tombol yang terhubung ke armada pesawat drone di langit Afganistan. Tangannya menggenggam tuas yang punya tombol tembak. Begitu sasaran dikunci, lalu tombol dipencet, hitungan mundur 10 detik pun dimulai, dan booom! tembakan drone yang berdaya ledak seperti granat menghabisi sasaran. Tinggal kemudian Egan menghitung berapa banyak “kerusakan”, yakni berapa orang yang tewas.

Ya, mantan pilot F-16 itu sekarang bertugas menembak target Taliban lewat komputer, persis video game, hanya saja yang ini mematikan. Antara dia dan drone yang dikendalikannya berjarak lebih dari 12 ribu kilometer. Selama berada di kotak, selama itu pula secara hukum Egan berada di Afganistan.

Tugas baru ini membuat Egan kehilangan sensitivitas. Pernikahan dengan Molly (January Jones) di ujung jurang, anak-anak nyaris tak kenal bapaknya, dan dia mulai mempertanyakan moralitas misinya. Terlebih ketika sebelumnya Egan hanya punya komandan Kolonel Jack Johns (Bruce Greenwood), kini ada kebijakan baru bahwa unitnya dibawahi C.I.A.

C.I.A. ingin meningkatkan serangan, mengeksekusi berdasar alasan yang lemah, serta mengulang serangan begitu serangan pertama dilancarkan untuk menghabisi orang-orang yang berkerumun (kemungkinan ada simpatisan di sana). Hal ini mendorong krisis pribadi yang sudah lama jadi api dalam sekam dalam diri Egan.

Ditangani secara cekatan dan meyakinkan oleh Ethan Hawke dan Andrew Niccol membuat Good Kill film perang modern yang provokatif sekaligus menjadikan film terbaru Clint Eastwood, American Sniper pada awal tahun ini, tampak lambat menemukan sasaran.

Film ini menggambarkan meningkatnya CGI-fikasi perang dengan parameter drama-ruang yang sengaja terbatas untuk mempertanyakan etika perang yang menempatkan ekskutornya di posisi seperti dewa, jauh dan tak tersentuh. Cara Good Kill memanusiawikan efek pertempuran jarak jauhnya mempesona, juga bagaimana gabungan kekerasan dan hiburan jadi formula yang bikin mual.

Film ini adalah kerja sama ketiga Hawke dan Niccol setelah Gattaca (1997) dan Lord of War (2005).

Good Kill mengingatkan kita pada dokumenter Drone (2014) yang dibuat Tonje Hessen Schei yang memetakan peningkatan perang drone serta menunjukkan bukti dari campaigner anti-drone, seperti mantan operator Brandon Bryant. Salah satu horor film ini adalah diskusi tentang bagaimana industri game komputer mendorong militerisasi masyarakat dan terjaminnya pasokan gamer muda yang siap direkrut sebagai eksekutor jarak jauh. Istilah yang digunakan salah satu komentator adalah “militainment”.

Menyusul rilisnya American Sniper, muncul kalimat satir komedian Skotlandia Frankie Boyle: “Bukan hanya Amerika pergi ke negara Anda dan membunuhi rakyat, mereka akan kembali 20 tahun kemudian dan membuat film tentang betapa membunuh rakyat Anda itu membuat sedih tentara mereka.”

Sentimen inilah yang menohok saat menonton Good Kill, drama cerdas dan suram yang mengkritik kebijakan drone secara besar-besaran oleh pemerintahan Obama agar serangan udara yang dilancarkan lebih bersih, efisien, dan sasaran dihabisi dengan risiko minimal. Itu sebabnya judul film ini Good Kill. Karakter pemencet tombol digambarkan sebagai antihero yang tersiksa dengan tugasnya.

Jack Johns awalnya lucu, tampak tanpa beban, dan dengan ringan menjelaskan mekanisme perang drone ke angkatan baru. Seiring waktu, kalimatnya penuh geraman, “Bukan urusan kita apakah ini cuma perang atau bukan. Bagi kita, ini cuma perang!”

Sementara itu, obrolan politik dibuat sedikit teoritis oleh kolega-kolega Egan. Di sana ada Vera Suarez (Zoë Kravitz) yang yakin serangan mereka tak lebih baik dari pengeboman oleh Hamas. Dua kolega pria memain-mainkan teori dan mulai sedikit menyerempet bahaya.

Peningkatan serangan, seperti diperintahkan C.I.A. menghasilkan adegan-adegan yang bikin tahan napas, bukan oleh actionnya, melainkan pertentangan batin para operator. Ketika Egan menekan tombol di tuasnya, tanpa disadari diam-diam kita ikut menghitung mundur hingga ledakan pecah. Momen-momen inilah yang akan lekat di ingatan.

Ethan Hawke yang selalu memainkan karakter pria ganteng penuh pesona, karakternya kali ini lebih tegang, bicara pendek-pendek, dan menonjolkan garis-garis stres di wajah. Dan Good Kill lebih dari sekadar film yang “melelahkan”, tapi juga menyodorkan sebuah penggalian fotografi yang menakjubkan di tengah banalitas dan ambivalensi moral Amerika. 

***
Dimuat di Majalah Detik 180, 11-17 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s