Bias Retro Kota Kinabalu

kinabalu

Dengan iklim yang sama, dekatnya jarak, dan karibnya budaya dengan Indonesia, Negara Bagian Sabah di Malaysia Timur sebenarnya bukanlah negeri asing bagi orang Indonesia. Sabah punya gunung juga laut yang dikelola dengan baik. Namun wisatawan Indonesia terbilang sedikit yang datang ke sini.

Oleh Silvia Galikano

Wisatawan terbanyak masih dari Tiongkok, menyusul kemudian wisatawan Eropa, dan Australia. Maka Sabah Tourism Board (Badan Promosi Pariwisata Sabah) menyiasati dengan menyasar pasar Indonesia yang spesifik, penggemar kegiatan bawah air saja atau kegiatan gunung saja.

KK dilihat dari Signal Hill Observatory Tower, KK
Kota Kinabalu dilihat dari Signal Hill. Foto: Silvia Galikano

Khusus Kota Kinabalu, ibukota Sabah, cocok untuk keluarga karena tenang khas kota kecil, tapi semua ada. Apalagi Kota Kinabalu mudah diakses. Ada penerbangan langsung AirAsia dari Jakarta dan Bali

Karena itu pasar kami di Indonesia adalah orang-orang Jakarta yang sangat sibuk. Silakan ke Sabah untuk rileks,” ujar Deputy General Manager Sabah Tourism Board Gordon Yapp, April lalu, saat menerima majalah detik dan sejumlah jurnalis dari Indonesia yang datang ke Kota Kinabalu memenuhi undangan Sabah Tourism Board dan AirAsia.

Satu lagi kelebihannya: Kota seluas 351 km persegi itu dihuni 500 ribu penduduk itu bebas macet, sehingga ke mana-mana tak banyak makan waktu. Contoh, dari Kota Kinabalu ke pulau-pulau di Tuanku Abdul Rahman Park hanya makan waktu 20 menit sedangkan ke Kinabalu Park yang jaraknya 90 km hanya 2 jam.

Walau bahasa Melayu jadi bahasa resmi, namun bahasa Inggris digunakan secara luas dan mampu bicara bahasa Mandarin akan jadi suatu kelebihan mengingat masyarakat keturunan Tionghoa juga banyak di kota ini, hampir 50 persen.

Mesjid Negeri Sabah
Masjid Negeri Sabah. Foto: Silvia Galikano

Masjid-masjid jadi tetenger (landmark) penting di sini, kebanggaan penduduknya. Masjid Negeri Sabah (Sabah State Mosque) di Sembulan, misalnya, dengan ciri utama kubah besar berwarna emas yang dikelilingi 16 kubah kecil, juga berwarna emas. Masjid yang dibangun pada 1977 itu terdiri dari dua lantai, yakni lantai bawah untuk laki-laki dan lantai atas untuk perempuan.

Masjid Bandar Raya KK
Masjid Bandar Raya Kota Kinabalu. Foto: Silvia Galikano

Ada pula Masjid Bandar Raya Kota Kinabalu (Kota Kinabalu City Mosque) di tepi Teluk Likas, didirikan pada 1997. Masjid yang desainnya terinspirasi Masjid Nabawi di Madinah itu punya ciri khas berdiri di atas danau buatan, karenanya mendapat julukan Masjid Apung (Floating Mosque).

Yang terbilang unik adalah Masjid Bandar Kota Kinabalu karena merupakan alih fungsi gereja Seventh-day Adventist (SDA – Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh) yang dibangun setelah Perang Dunia II selesai. Pada tahun 1960-an, pemerintah membelinya untuk dijadikan masjid kaum Tionghoa muslim, sedangkan gereja SDA dipindahkan ke luar Kota Kinabalu.

Kubah dengan lambang bulan sabit dan bintang yang ada di pucuk menara menggantikan lonceng. Suara “akustik” lonceng pun berganti jeritan loud-speaker. Satu-satunya yang tak dapat dihilangkan adalah tulisan “SDA” di dinding menara, penanda masjid ini sebelumnya adalah gereja.

Kota Retro

Tun Mustapha Tower
Tun Mustapha Tower. Foto: Silvia Galikano

Tetenger klasik Kota Kinabalu adalah Tun Mustapha Tower di dekat Teluk Likas. Gedung yang diresmikan pada 1977 itu pernah jadi gedung tertinggi di Sabah dengan tinggi 122 meter. Namanya diambil dari nama bapak kemerdekaan asal Sabah, Tun Datu Mustafa.

Kekhasan Tun Mustapha Tower adalah bentuknya silinder, dari jauh seperti baterai raksasa. Strukturnya menggantung dengan hanya satu tiang, sehingga pendukung utama bukan dari bawah, melainkan dari atas bangunan. Gedung ini terdiri dari 30 lantai. Lantai 18, yang ditempati restoran, dapat berputar 360 derajat dengan pemandangan ke Teluk Likas.

Teluk Likas yang dipinggiri seruas panjang Jalan Tun Fud Stephens adalah tempat berlangsungya lomba-lomba internasional, seperti triathlon dan perahu naga. Di sepanjang tepinya, pemerintah membangun jalur khusus untuk jogging dan bersepeda, sebuah upaya mendukung gaya hidup sehat.

Sabah Tourism Boar (1)
Gedung Sabah Tourism Board. Foto: Silvia Galikano

Pada masa Perang Dunia II, Sekutu membumihanguskan Kota Kinabalu (masih bernama Jesselton) dengan bom sehingga hanya menyisakan tiga bangunan, yakni Gedung Sabah Tourism Board, Menara Jam Atkinson, dan kantor Jabatan Ukur dan Pemetaan Sabah.

Dari tiga itu, hanya kantor Jabatan Ukur yang kini sudah tak ada akibat kebakaran pada 1992, menyisakan tiang-tiang beton. Pemerintah memutuskan untuk tak membangun kembali, dan membiarkannya jadi ruang seni bagi seniman lokal membuat grafiti.

Gedung Sabah Tourism Board dibangun pada 1916 untuk Kantor Percetakan Kerajaan, pindahan dari Sandakan. Setelah itu, sempat berganti-ganti lembaga pemerintah berkantor di sini, seperti Departemen Keuangan, Kantor Pos, Kantor Residen, Kantor Distrik, dan Kejaksaan Agung. Kecuali untuk Kantor Pos, kantor-kantor lain pindah pada 1950-an ketika bangunan lain tersedia.

Kantor Jabatan Ukur dan Pemetaan (2)
Reruntuhan Kantor Jabatan Ukur. Foto: Silvia Galikano

Kantor Kementerian Pariwisata dan Lingkungan mengambil alih bangunan ini pada 16 Juni 1987. Setelah merestorasi dan mengembalikan ke bentuk aslinya, gedung ini dijadikan kantor Sabah Tourism Board dan berfungsi sebagai Pusat Informasi Pariwisata. Bangunan ini dikukuhkan sebagai bangunan bersejarah pada 13 Juli 1988. Tak jauh dari kantor Sabah Tourism Board berdiri Menara Jam Atkinson yang bertinggi 14.63 meter (48 kaki). Mulai dibangun pada 1902 dan rampung 1905. Menara ini adalah bentuk penghormatan bagi Pejabat Distrik Jesselton pertama, Francis George Atkinson yang wafat pada 1902 akibat malaria dalam usia 28 tahun.

Menara Jam Atkinson
Menara Jam Atkinson. Foto: Silvia Galikano

Aslinya dari kayu merbau. Selama bertahun-tahun dan melalui sejumlah renovasi, fasad aslinya telah berubah secara signifikan. Museum Sabah mengambil alih pemeliharaan Menara Jam pada 1979. Situs ini dikukuhkan sebagai Simpanan Pemerintah pada Agustus 1983 dan dideklarasikan sebagai “Warisan Budaya” di bawah Undang-undang (Konservasi) Warisan Budaya 1997 pada 26 Maret 1998.

Pembumihangusan Sekutu dulu menjadikan pemandangan Kota Kinabalu kini seperti kota retro dengan jajaran pertokoan bergaya 1950-an dan 1960-an, masa dimulai lagi pembangunan kota. Gordon Yapp mengatakan, walau pembangunan gedung-gedung tinggi untuk pusat perbelanjaan dan hotel tengah marak, namun tak menghancurkan bangunan retro.

Gedung-gedung baru dibangun di lahan lain,” ucapnya.

Hotel terkenal di Jesselton pada 1937
Hotel terkenal di Jesselton pada 1937.
Jesselton setelah dibumihanguskan pada PD II
Jesselton setelah dibumihanguskan pada PD II.

Sunset di Pasar

Walau Kota Kinabalu relatif kota kecil, jangan takut kelaparan atau mati gaya mencari restoran yang buka di jam-jam yang tak biasa. Umumnya restoran buka di jam normal, yakni pukul 10.00-22.00 seperti Little Italy, restoran terkenal dengan menu khas Italia, terutama pizza.

20150416_090210
Kedai Kopi Yee Fung. Foto: Silvia Galikano

Ada yang buka pukul 15.00 hingga lewat tengah malam, umumnya kedai kopi Tionghoa seperti Fatt Kee, dan ada yang buka 24 jam, seperti Azlina Sulawesi, restoran mamak milik pria Makassar yang menikah dengan perempuan Sabah. Ada juga restoran spesialis sarapan, seperti Kedai Kopi Yee Fung yang punya menu andalan laksa.

Restoran-restoran itu berada di kawasan backpacker, Jalan Gaya dan Jalan Pantai, tempat bertebarannya hotel murah. Toko obat, dari yang toko tradisional Tionghoa sampai waralaba macam Guardian, lengkap tersedia di kawasan ini, juga minimarket 24 jam.

Jalan Gaya
Jalan Gaya. Foto: Silvia Galikano

Bicara tentang hotel murah, Sabah tercatat sebagai penyumbang utama homestay di Malaysia. Atau dalam kalimat lain, homestay terbanyak di Malaysia adalah di Sabah. Sedangkan secara keseluruhan, tak kurang 24 ribu hotel berdiri di Sabah, dari kelas backpacker hingga bintang 5.

Handicraft Market (2)
Handicraft Market. Foto: Silvia Galikano

Kalau mencari buah tangan khas Sabah, seperti benda-benda kerajinan kulit, bambu, dan rotan, juga perhiasan mutiara Borneo, silakan datang ke Handicraft Market di Jalan Tun Fuad Stephens, buka dari pagi hingga petang. Seperti pasar tradisional di Indonesia, dagangan di sini bisa ditawar.

Saat malam tiba, sepanjang Jalan Pantai akan berubah jadi pasar malam, menjual baju, mainan, buah tangan, hingga makanan. Para pedagang mulai membuka tendanya pukul 5 petang, dan akan menunggui dagangannya hingga tengah malam.

Pasar malam khusus makanan dan bahan mentah ada di Pasar Malam Sinsuran, lokasinya di samping Handicraft Market, hanya saja menjorok jauh hingga ke tepi laut. Dari buah yang diatur seonggok-seonggok seharga RM10 (Rp37 ribu), ikan, sayur, jagung dan kacang rebus, mi goreng, hingga kue tradisional yang dimasak di tempat, menjadikan tempat ini meriah dengan berbagai suara.

Pasar Malam Sinsuran
Pasar Malam Sinsuran. Foto: Silvia Galikano

Dari suara sutil beradu dengan wajan di los donat kampung dan martabak (ada pedagang yang menuliskan “murtabak”), los ikan goreng, hingga dominasi suara penjaja yang merayu calon pembeli untuk singgah. Semua berhias asap, samar-sama hingga pekat, dari penjual ikan bakar dan ayam bakar.

Datanglah sebelum matahari terbenam. Setelah berputar-putar sebentar sambil ngemil jagung atau kacang rebus (seharga RM1 per buah atau per takar), singgahlah ke los yang menjual jus dan es campur dan cari bangku yang menghadap barat. Maka sambil menghabiskan jagung dan menyeruput jus mangga Sabah yang aduhai wanginya, Anda akan disuguhi pemandangan mahal: matahari jingga perlahan-lahan turun di barat, berseling siluet ibu-ibu penjual martabak yang bolak-balik dari kompor ke lemari pajang ke pembeli, dengan latar suara “Singgah dulu, Kak, semua ada.” Sunset yang anti-mainstream deh

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 181, 18-24 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s