Streaming adalah Musik Masa Depan

20150525_MajalahDetik_182_a02

Mengunduh musik sudah cerita masa lalu. Dalam satu hingga dua tahun ke depan, tren mendengar musik adalah lewat streaming. Apalagi harga ponsel Android makin murah.

Oleh Silvia Galikano

Datangnya era streaming musik berarti makin beragamnya pasar. Jika sebelumnya masyarakat hanya fokus pada musik-musik mainstream, seperti lagu Barat, KPop, dan lagu tertentu yang sedang terkenal, kini penyedia layanan streaming musik dapat menggarap tiap daerah Indonesia secara spesifik dan berbeda-beda.

Dangdut koplo yang sangat merakyat di Jawa Timur, tidak begitu populer di Jawa Barat. Di Sumatera, musik Batak dikenal luas. Streaming musik seperti yang disediakan MixRadio memungkinkan untuk memenuhi selera pasar yang sangat spesifik dan, lebih penting lagi, aplikasinya mudah.

Setelah empat tahun terakhir hanya tersedia di Windows Phone bagi pengguna (Nokia) Lumia, terhitung 20 Mei 2015, MixRadio dapat diakses di iOS dan Google Play. Pengguna iPhone dan Android tinggal instal MixRadio dengan logo berwarna pink, pilih genre yang disukai, dan pilih penyanyi mana saja yang ingin dimasukkan dalam playlist.

Aplikasi MixRadio untuk iOS dan Android diluncurkan bersamaan digelarnya Music Matters di Ritz Carlton Millenia, Singapura, 20-22 Mei 2015. Music Matters adalah acara tahunan dalam cakupan Asia Pasifik yang menghubungkan para pemain kunci dalam industri musik dan berfokus pada musik masa depan.

Dengan katalog mencapai 35 juta lagu, termasuk 25 juta lagu Indonesia (jika menginstal di Indonesia), maka lagu dari berbagai zaman dapat ditemukan di MixRadio: dari Billie Holiday hingga Lady Gaga, dari Tulus hingga Sundari Soekotjo. Tanpa ribet dan tanpa menunggu lama untuk mengunduh karena setiap lagu di-compress sedemikian rupa tanpa mengurangi kualitasnya. Lagu-lagu yang sudah dimasukkan dalam playlist pun dapat disimpan offline dan diputar lagi tanpa tergantung jaringan internet.

Karena ada beragam selera musik di Indonesia, kami membuka beragam layanan untuk memenuhi selera tersebut. Kami membuat playlist yang cocok bagi tiap-tiap individu, berdasar budaya, negara, dan lokasi,” ujar General Manager (Asia) MixRadio Jamie Robertson dalam sesi diskusi Gateway to Indonesia yang merupakan bagian dari gelaran Music Matters, 20 Mei 2015.

MixRadio berawal dari tahun 1999 sebagai distributor musik online Inggris bernama On Demand Distribution (OD2) yang didirikan musikus Peter Gabriel. Saat itu, distribusi musik cepat sekali berubah dan pembajakan jadi masalah utama. OD2 memasok musik untuk nama-nama besar, seperti Virgin, Microsoft, Coca-Cola, dan AOL.

Pada 2004, OD2 bergabung dengan LoudEye dan segera diakuisisi Nokia yang saat itu distributor handset terbesar dunia yang menjual lebih dari 200 juta device pada tahun 2004 saja. Di Nokia, MixRadio memulai perjalanannya sebagai layanan musik mobile pertama.

Diskusi Gateway to Indonesia yang dimoderatori Founder & Chief Executive Officer Musikator Robin Malau itu juga menghadirkan pembicara Pengurus Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) sekaligus Managing Director Trinity Optima Production Yonathan Nugroho serta Chief Operating Officer PT. Langit Data Indonesia Hang Dimas.

Menurut Hang Dimas, streaming musik dari ponsel memungkinkan platform berkembang sekaligus memudahkan membuat diferensiasi produk. Konsumen pun bisa mendapat lebih banyak pilihan sehingga tercipta persaingan sehat di antara penyedia layanan streaming musik.

Langit Data Indonesia adalah perusahaan startup yang berfokus membangun sistem lisensi musik digital di Indonesia. Perusahaan tersebut baru-baru ini kami menerapkan sistem yang memonitor penggunaan musik di ruang publik, seperti radio, televisi, hotel, restoran, dan karaoke keluarga. Hal itu merupakan bagian dari sistem lisensi yang berkonsentrasi pada hak menyiarkan (performing rights).

Sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang hak cipta pada 15 September 2014, pemilik hak cipta sebuah lagu juga mendapat royalti atas hak menyiarkan. Setiap kali lagu dinyanyikan di ruang publik, maka pemilik hak cipta berhak juga mendapat royalti. Jadi royalti bukan hanya dari berapa banyak CD laku.

Negara-negara lain, yang undang-undang hak ciptanya sudah jalan, sudah punya sistem untuk menghitung, misalnya restoran dihitung dari jumlah kursi yang tersedia, hotel dihitung dari luas lobi atau jumlah loud-speaker di lobi. Karena di Indonesia belum ada semua itu, dan baru mulai benar-benar dari nol, maka menghitungnya baru dari berapa banyak penggunaan lagu di ruang publik.

Di masa depan, ketika data makin rapi, bukan hanya berapa lagu yang dimainkan, melainkan bisa lebih rinci, termasuk genre apa yang populer di daerah tertentu.

Idenya untuk mendiferensiasi industri musik, sehingga jika semua terdata, label dan artis dapat memaksimalkan pasar. Kita melokalkan industri musik,” ujar Dimas.

Bicara tentang royalti di Indonesia saat ini tak bisa lepas dari masalah pembajakan yang membuat royalti artis menguap entah ke mana. Pembajakan bukan hal yang main-main jika melihat angka kerugian musikus. Dewan Pimpinan Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) dan Managing Director Trinity Optima Production Yonathan Nugroho memberi gambaran parahnya imbas pembajakan.

Situs unduhan ilegal yang tak dapat ditutup adalah tantangan terbesarnya dalam 10 tahun terakhir. Betapa tidak, ketika ring back tone (RBT) menghasilkan US$70 juta (lebih dari Rp900 milyar) per tahun, dari musik unduhan seperti iTune hanya menghasilkan US$3-5 juta. Lewat Undang-Undang Hak Cipta 2014, ditutupnya fasilitas unduh ilegal akan sangat dimungkinkan.

Saya berharap undang-undang baru ini dapat mendorong seniman untuk mulai berproduksi lagi, rekaman lagi. Bahkan tak tertutup kemungkinan seniman internasional bergabung juga dalam pasar Indonesia,” kata Yonathan. 

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 182, 25-31 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s