Terobosan Feig untuk Hollywood

spy

Apa jadinya jika agen C.I.A. spesialis belakang meja terpaksa turun ke lapangan, berhadapan dengan mafia licik? Mual awalnya, menggelikan kemudian.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Spy
Genre: Action, Comedy
Sutradara: Paul Feig
Skenario: Paul Feig
Produksi: 20th Century Fox
Pemain: Melissa McCarthy, Jude Law, Rose Byrne, Jason Statham, Morena Baccarin
Durasi: 1 jam 57 menit

C.I.A. gagal kali ini. Agen andalannya, Bradley Fine (Jude Law), tewas dalam operasi saat menyusup ke rumah Rayna (Rose Byrne). Rayna yang pedagang senjata itu ternyata sudah menyiapkan jebakan, dan pisaunya bergerak lebih cepat dari pistol Fine.

Rayna tahu ada kamera rahasia berbentuk lensa kontak yang dipasang di mata Fine dan earpiece terpasang di telinga. Dia juga tahu Fine adalah agen C.I.A. seperti dia tahu nama-nama agen lain yang menyamar. Rayna sebutkan satu per satu nama agen itu sambil menatap kamera di mata Fine.

Seluruh kejadian itu ditangkap Susan Cooper (Melissa McCarthy) di markas C.I.A. Dialah yang selama ini jadi mata dan telinga Fine. Kamera dan earpiece itu terhubung lewat satelit ke komputer Susan.

Susan adalah agen senior dengan pengalaman 10 tahun. Namun selama 10 tahun itu dia hanya jadi agen belakang meja di ruang bawah tanah yang seringkali dirambati tikus.

Susan-lah yang dari jauh memantau kondisi sekeliling Fine, memberi tahu di sudut mana ada musuh bersembunyi, dari arah mana musuh datang, bahkan dalam gerak cepat saat Fine sedang bertarung. Alhasil dalam keadaan terburuk sekalipun, Fine dapat tetap tampil klimis dengan keanggunan James Bond si 007.

Operasi Fine terhenti di tangan Rayna, putri pedagang senjata Tihomir Boyanov (Raad Rawi) yang dulu ditembak mati Fine. Tihomir menyimpan nuklir portabel satu-satunya di dunia yang lokasi penyimpanannya dirahasiakan.

Rayna kini akan menjual nuklir itu ke De Luca (Bobby Cannavale). Maka misi C.I.A. adalah menggagalkan penjualan  dan mengamankan nuklir tersebut. Masalahnya, siapa agen C.I.A. yang dapat ditugaskan, karena Rayna tahu semua agen.

Susan mengajukan diri karena dia yakin tak ada yang mengenalnya. Ditambah lagi Susan sudah sejak awal memegang kasus ini bersama Fine. Direktur C.I.A. Elaine Crocker (Allison Janney) yang berekspresi datar dan berlidah tajam, awalnya sama sekali tak menganggap keberadaan Susan. Sekarang dia mulai mempertimbangkan usulan anak buahnya itu.

Keputusan Crocker makin bulat usai melihat rekaman pelatihan bela diri Susan saat baru bergabung dengan C.I.A., 10 tahun lalu.  Susan, yang seangkatan dengan Fine dan mendapat materi pelatihan sama, ternyata memilih jadi bayang-bayang Fine karena tak percaya diri bersaing dengan laki-laki.

“Ah, dasar perempuan,” ujar Crocker dalam nada gemas.

Spy menandai kerjasama ketiga kalinya Melissa McCarthy dan Paul Feig setelah Bridesmaids (2011)  dan The Heat (2013). Judulnya boleh saja generik, tapi komedi spionase ini lucu sampai ke tulang, plotnya tak mempermalukan siapapun, dan bukan satir yang menyindir seseorang.

Spy, yang skenarionya juga ditulis Feig, berhasil membuat kita terlibat secara emosional, walau Feig bisa saja menempatkan Susan di lapangan lima atau sepuluh menit sebelumnya.

Melissa McCarthy membangun karier layar lebar berangkat dari karakter yang diremehkan karena tak memenuhi standar kecantikan Hollywood, lalu perlahan tapi pasti mendorong standar dangkal itu. Dia seperti kekuatan alam yang tak dapat dihentikan. Timing komiknya hebat, tegas, dan selalu berkomitmen pada humor.

Dia buktikan semua itu lewat Spy sebagai Susan Cooper, agen rahasia yang belum apa-apa sudah minder dengan rekannya hanya karena dia perempuan dan si rekan laki-laki. Lingkungan pun memperlakukan Susan berbeda dibanding agen lapangan.

Saat akhirnya dia disetujui untuk terjun ke lapangan, Susan mendapat versi tidak glamor dibanding yang didapat Fine. Menginap di hotel butut (Fine selalu mendapat hotel mewah), identitas palsu sebagai perempuan merana (Fine selalu jadi pengusaha sukses), dan senjata rahasianya cuma peluit, obat pencahar, tisu ambeien, dan obat jamur jempol. Tak ada itu pistol-pistol canggih sekoper.

Dia juga harus bersaing dengan agen lainnya, Rick Ford (Jason Statham), pria Inggris yang menentang keras penugasan Susan dan ingin menyelesaikan misi ini sendirian. Anda akan mendapat kejutan betapa lucunya Jason Statham di sini. Nada bicaranya yang patah-patah itu seperti versi komedi Chuck Norris.

Rose Byrne berhasil menangkap gambaran besar film ini. Karakter sebagai Rayna yang kejam dan sombong dia bawakan dengan cerdas. Sehingga ketika dia beradu akting dengan McCarthy, yang tercipta adalah humor pasangan aneh yang benar-benar menggelikan.

Perlu dicatat, film ini tak mengandung banyolan orang gendut. Selama ini, kita terbiasa jika bintang komedinya berbadan bulat, maka pasti ada olok-olok tentang bentuk tubuhnya. Spy punya banyak kelucuan yang sama sekali tak menyinggung hal tersebut.

Obrolan Susan dan Rayna, misalnya, walau mereka bermusuhan, Rayna sama sekali tak menyinggung bentuk tubuh Susan, melainkan tentang kepribadiannya yang tak sabaran dan gaya busananya yang klomprot.

Patut juga dipuji, Feig menempatkan perempuan sebagai karakter-karakter kunci yang biasanya diisi laki-laki;  seperti bos C.I.A., penjahat utama, dan tentu saja sang pahlawan kita; tanpa membuat ceritanya jadi terang-terangan berorientasi perempuan. Tak ada khotbah apa pun tentang girl power, feminisme, atau kesetaraan gender, misalnya.

Kerja sama McCarthy dan Feig di masa mendatang tak akan lagi dianggap sebagai humor selingan tanpa isi. Sebuah kesadaran dari Hollywood yang seharusnya ada sejak lama.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 182, 25-31 Mei 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s