Melihat Suku Asli Sabah di MariMari

Benedict Pulian menjelaskan tentang MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)
Benedict Pulian menjelaskan tentang MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)

Oleh Silvia Galikano

MariMari adalah desa buatan yang berada di Desa Kobuni, Distrik Inanam, Sabah, Malaysia dioperasikan sejak 2008 dengan sistem self-funding. Di tengah alam berkontur dan berada di tepi sungai ini dibangun miniatur desa masyarakat asli Sabah mengikuti bentuk aslinya, termasuk bentuk rumah, posisi kamar, pintu, dan dapur.

Sabah memiliki lebih dari 30 kelompok masyarakat asli. Empat terbesar adalah Kadazan-Dusun (gabungan Kadazan dan Dusun), Lundayeh, Bajau, dan Murut. Di MariMari, pengunjung dapat merasakan bagaimana kehidupan asli Borneo dahulu hingga masa kolonial Inggris.

Benedict Pulian sang pemandu, selama dua jam mengajak kami mengunjungi rumah demi rumah, melihat praktik pembuatan makanan dan minuman khas tiap suku—sekaligus mencicipi hasilnya, juga merasakan sambutan yang menegangkan dari suku pemburu kepala.

Tur diadakan tiga kali setiap hari, yakni pukul 10.00 (ditutup dengan makan siang), pukul 14.00 (ditutup dengan minum teh), dan pukul 18.00 (ditutup dengan makan malam). Harga tiket masuk untuk wisatawan luar Malaysia adalah RM85 (Rp 303 ribu). Yuk berkenalan dengan mereka:

Dusun

Rumah Suku Dusun, di MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)
Rumah Suku Dusun, di MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)

Masyarakat Dusun dahulu berprofesi sebagai petani, pemburu, dan nelayan sungai.

Rumah suku Dusun terbuat dari bambu dan kayu akasia. Namun tiang utamanya dari kayu belian, jenis kayu keras yang tumbuh di Kepulauan Borneo.

Biasanya, satu rumah orang Dusun dihuni tiga generasi, yakni datuk (kakek)-nenek, ibu-bapak, dan anak-anak. Datuk-nenek punya kamar sendiri, juga ibu-bapak.

Anak-anak lelaki tidur di luar kamar untuk menjaga rumah di waktu malam. Anak-anak perempuan di linimpun (satu kamar di atas, seperti mezzanine). Bila seluruh anak perempuan sudah di atas, mereka akan menarik tangga ke atas dan menyimpannya di linimpun, sehingga tak ada orang lain yang bisa masuk ke linimpun.

Di luar rumah berdiri tangkob yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan beras usai musim panen. Bentuknya silinder dengan diameter 1,5 meter, terbuat dari kulit kayu timbagan (keluarga nangka) yang bisa mengembang terkena air, dan dibangun di semacam rumah panggung mini.

Tiap keluarga Dusun punya minimal satu tangkob. Semakin banyak jumlah tangkob, menandakan semakin kaya pemilik rumah tersebut.

Menurut kebiasaan, di atas tangkob digantung juga beberapa tengkorak yang berfungsi sebagai penjaga. Jika ada yang berusaha mencuri beras, si pencuri tak akan bisa bergerak, terpaku di tempatnya, hingga si pemilik rumah datang dan memenggal kepala si pencuri. Masyarakat yang tinggal di desa dan di pedalaman saat ini masih menyimpan beras di tangkob, walau jumlahnya tak banyak lagi.

Masyarakat Dusun terkenal dengan kemampuan mereka membuat lihing (arak tapai) berbahan nasi ketan dan ragi yang diperam dalam tajau (tempayan) tertutup selama sebulan. Setelah sebulan, nasi yang sudah diperam itu diperas, didapatlah air tapai yang rasanya manis dengan kadar alkohol 5-7 persen.

Bagian dalam rumah dan linimpun untuk ruang tidur anak perempuan masyarakat Dusun di MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)
Bagian dalam rumah dan linimpun untuk ruang tidur anak perempuan masyarakat Dusun di MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)

Selain untuk diminum, lihing juga jadi campuran sup ayam, khususnya bagi perempuan usai melahirkan, berfungsi melancarkan peredaran darah dan memulihkan tenaga si ibu. Lihing dipercaya hanya berhasil jika dibuat perempuan.

Nasi yang diperas tadi kemudian dimasak lagi untuk mendapat saripatinya, yakni uapnya, yang dikumpulkan untuk dijadikan montoko/ wiski borneo. Agar uapnya banyak, di atas tempayan pemasak diletakkan batok kelapa berisi air dingin. Jika air dalam batok kelapa mulai panas, diganti lagi dengan air dingin.

Setelah uap yang terkumpul didiamkan selama 30-60 menit, montoko-pun siap diminum untuk upacara-upacara penting, seperti pesta panen dan pernikahan. Kadar alkohol montoko 60-70 persen.

“Sekarang montoko sudah komersial, sudah dijual bebas. Setiap hari ada saja yang minum. Ukuran 1 liter seharga RM5-6. Tinggal belanja RM20 sudah mabuk,” ujar Ben.

Rungus

Rumah suku Rungus, MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)
Rumah suku Rungus, MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)

Suku Rungus masih satu rumpun dengan Dusun, tersebar di di utara Sabah, yakni di Kudat, Kotamarudu, Pitas, dan sebagian di Paitan. Merupakan suku ke-4 terbesar di Sabah setelah Murut, Bajau, dan Kadazandusun. Kata “Rungus” berasal dari Tomborungus, putra Aki Ragang yang tinggal di puncak gunung Kinabalu.

Suku Rungus dikenal dengan kepandaian membuat gong dan beternak madu lebah dari jenis pampadan/madu kelulut (meliponini). Medianya cuma seruas bambu besar yang dilubangi kecil di ujung salah satu ruas, lalu bagian luar lubang dilumuri madu untuk menarik lebah. Setelah bambu dibiarkan selama tiga bulan, madu siap dipanen. Ampasnya digunakan sebagai lilin dan lem alat musik sompoton (dari bambu dan labu kering).

Suku Rungus tinggal di Rumah Panjang yang lantainya dari kayu pinang, dinding dari kulit kayu timbagan, dan atap dari daun nipah. Satu bilik Rumah Panjang dihuni satu keluarga. Rumah Rungus di daerah Kudat bisa dihuni lebih dari 20 keluarga, artinya ada 20 bilik.

“Bapak saya dari Rungus. Menurut beliau, tahun 1950-an dan 1960-an, ukuran Rumah Panjang panjang sekali, bisa menampung 50-80 keluarga,” kata Ben.

Semakin modern, ketika keluarga cenderung tinggal sendiri atau berpindah ke kota, Rumah Panjang pun semakin pendek. Begitu satu bilik ditinggalkan, bilik itu akan dihancurkan, karena menurut kepercayaan Rungus, bilik kosong akan dihuni roh-roh jahat.

Rumah Panjang punya tiga pintu yang menghadap kanan, kiri, dan depan. Pintu depan (ada di tengah rumah) hanya untuk membawa keluar mayat. Pasalnya jika mayat dibawa melewati pintu kanan atau kiri, diyakini akan segera terjadi malapetaka bahkan kematian dalam waktu dekat.

Untuk menggunakan pintu kanan atau kiri karena ada masalah dengan pintu tengah, keluarga jenazah harus membayar sogit, yakni denda berupa ayam, kambing, atau babi kepada keluarga-keluarga yang dilewati dengan jumlah yang ditentukan keluarga yang dilewati mayat.

Lundayeh

Rumah Suku Lundayeh, MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)
Rumah Suku Lundayeh, MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)

Suku Lundayeh adalah suku minoritas dibanding suku-suku asli lainnya, hanya ditemui di Sipitang dan Lawas (antara Sabah dan Sarawak). Berasal dari Kalimantan, Indonesia sebagai salah satu subetnik Dayak, kaum ini tersebar di Kalimantan, Sabah, Sarawak, dan Brunei. Mereka adalah kaum pemburu kepala (head hunter).

Rumah Lundayeh hanya punya satu bilik, yakni untuk ibu-bapak. Anak laki-laki tidur di luar kamar. Anak perempuan di atas, seperti kaum Dusun, tapi tangganya disimpan ayah mereka.

Kekhasan rumah kaum Lundayeh adalah ada bagian atap yang bisa dinaikkan dan disangga kayu, sehingga angin lebih banyak masuk. Jika malam tiba, atap diturunkan lagi.

Pulung Buaye atau buaya tanah yang dibuat masyarakat Lundayeh, MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)
Pulung Buaye atau buaya tanah yang dibuat masyarakat Lundayeh, MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)

Di halaman rumah terdapat pulung buaye (buaya tanah), yakni bukit kecil dari tanah yang dibentuk seperti buaya. Di punggungnya, dari kepala hingga ekor, ditancapkan bilah-bilah bambu.

Pulung buaye dibuat untuk merayakan kepulangan pahlawan dari peperangan. Kepala-kepala musuh yang berhasil ditebas, ditancapkan di bilah bambu, untuk dikeringkan selama beberapa bulan. Para pahlawan menari di sekeliling tubuh buaya, dan kepala pahlawan akan menaiki tubuh buaya, kemudian menebas kepala buaya sebagai simbol kemenangan.

Para pemburu kepala sekarang sudah tak ada lagi, tapi pulung buaye tetap dibuat untuk perayaan perkawinan atau pesta Lundayeh yang didatangi seluruh kaum Lundayeh di penjuru Borneo.

Bajau

Rumah Suku Bajau, MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)
Rumah Suku Bajau, MariMari Cultural Village, 2015. (Foto Silvia Galikano)

Ada dua tipe Bajau, yakni Bajau Laut dan Bajau Darat. Rumah di MariMari adalah rumah Bajau Darat, karena Bajau Laut tinggal di atas perahu dan hidupnya tak menetap.

Rumah Bajau cenderung berwarna-warni dibanding suku-suku lainnya. Lantai rumahnya dari kayu pinang, dinding dan atap dari daun nipah, sedangkan rangkanya dari kayu bakau.

Suku Bajau berasal dari Filipina yang mendarat di Sabah 500 tahun lalu. Pekerjaan sebagai pedagang membuat suku Bajau berkenalan dengan lebih banyak kelompok masyarakat lain. Karena itu rumahnya lebih berwarna, demikian pula barang-barang yang ada di dalam rumah.

Rumah Bajau asalnya tanpa kamar walau terdiri dari keluarga yang besar. Anak laki-laki bisa tidur di mana saja, anak perempuan di bilik atas, sedangkan “ruang” tidur bapak-ibu dibatasi kelambu.
Kaum ini adalah kaum pertama yang memeluk Islam, itu sebabnya ada ruang shalat di rumah Bajau.

Murut

Rumah suku Murut juga Rumah Panjang yang dihuni satu keluarga besar. Lantainya dari bambu, dinding dari kulit kayu timbagan, dan atap dari daun nipah.

Kekhasan rumah Murut adalah adanya belantaran (trampolin tradisional) di tengah rumah, dibuat dari kayu pohon jambu yang elastis dan tak mudah patah, dilapisi rotan melingkar-lingar. Belantaran yang berukuran sekitar 2×2 meter berada satu meter lebih rendah dari lantai rumah.

Cara bermainnya adalah beberapa pemuda berdiri di tepi belantaran dan satu pemuda di tengah. Bersama mereka melompat-lompat kecil dan perlahan, makin lama makin cepat, makin cepat, hingga dirasa tepat bagi pemuda di tengah untuk melontarkan tubuhnya hingga whuuupp!!! melenting tinggi nyaris mencapai atap.

Awalnya permainan ini untuk menyambut pahlawan yang pulang perang. Ada hadiah yang digantung tepat di atas belantaran. Semakin tinggi nilai hadiah, akan semakin tinggi digantungnya.

***
Dimuat di DetikTravel 22 April 2015

0 Replies to “Melihat Suku Asli Sabah di MariMari”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.