Epos Perang Russel Crowe

20150420_MajalahDetik_177_a07Empat tahun setelah anak-anaknya gugur dalam perang di Turki, Connor meninggalkan Australia, mencari jasad mereka untuk dikuburkan secara layak. Film ini debut penyutradaraan Russel Crowe.

Oleh Silvia Galikano

Judul: The Water Diviner
Genre: Drama, War
Sutradara: Russell Crowe
Skenario: Andrew Knight, Andrew Anastasios
Produksi: Warner Bros. Pictures
Pemain: Russel Crowe, Jai Courtney, Olga Kurylenko, Isabel Lucas
Durasi: 1 jam 51 menit

Pertempuran darat berlangsung singkat saja di Gallipoli, Kekaisaran Ottoman (sekarang Turki) pada Agustus 1915. Sebelumnya, serangan laut dan serangan amfibi tentara Rusia yang bersekutu dengan Inggris dan Prancis gagal menguasai Selat Dardanella. Korban gugur tak kurang 80 ribu prajurit dari dua belah pihak.

Lima tahun berlalu. Connor (Russel Crowe), petani Australia yang dulu mengirimkan ketiga putranya ke medan perang, menempuh perjalanan ke Gallipoli untuk mencari jenazah mereka. Dia ingin memenuhi janji pada mendiang istrinya untuk mencari dan menguburkan ketiganya secara layak di kampung halaman, di samping makam ibu mereka.

Namun mencapai Gallipoli bukan perkara mudah. Semenanjung yang kini bernama Çanakkale itu tertutup untuk umum dan sepenuhnya dikuasai tentara Turki dan Sekutu, dua pihak yang sebelumnya berperang. Tentara tengah menggali ribuan jasad sisa perang untuk diidentifikasi satu per satu.

Kantor militer di Istanbul tak memberi surat izin bagi Connor. Maka dia menempuh cara gelap dengan menyewa jasa nelayan lokal.

Di Gallipoli, awalnya Connor tetap ditolak para perwira, tapi dia berkukuh tak meninggalkan semenanjung itu, dan memilih bermalam di perahu. Mayor Hasan (Yilmaz Erdogan) akhirnya satu-satunya perwira yang akhirnya memberi izin dengan alasan, “Cuma dia ayah yang datang mencari anak-anaknya.”

Berbekal buku harian salah satu anaknya yang menceritakan keberadaan terakhir tiga bersaudara itu, Connor “memindai” Gallipoli dengan cara yang tak dapat dicerna orang lain. Dengan buku kecil itu di tangan, dia dapat membayangkan perpindahan demi perpindahan tiga putranya dan dia ikuti langkah-langkah mereka hingga berhenti di satu titik dan tak bergerak lagi. Connor tancapkan satu ranting di tanah, “Ini. Mereka di sini.”

Tentara menggali tepat di titik yang ditandai. Satu kerangka ditemukan, menyusul kemudian satu lagi. Baru dua, padahal dia berjanji membawa tiga putranya pulang. Setelah menunggu beberapa hari, Connor mendapat kabar putranya satu lagi masih hidup, ada dalam daftar pengungsi di kota lain.

The Water Diviner adalah debut penyutradaraan Russell Crowe setelah sebelumnya menyutradarai beberapa film pendek dan dokumenter. Dengan membuat The Water Diviner yang berlatar belakang sejarah dan kisah nyata, pijakannya makin mantap sebagai sutradara.

Ada sejumlah aspek sosiologis menarik tentang forensik militer zaman perang dalam naskah Andrew Knight dan Andrew Anastasios. Crowe mengeksekusinya secara cerdas, menggabungkan sensitivitas dan sisi akademis. Contoh saja, militer Australia memegang teguh urut-urutan yang mesti dilakukan terhadap korban tewas, yakni menguburkan mereka secara layak adalah hal pertama (dan utama) yang wajib dilakukan oleh siapa pun.

Cara Connor mencari jenazah anak-anaknya dapat dikaitkan dengan caranya mencari sumber air untuk dibuat sumur di Australia yang tandus dan berdebu, yakni dengan cara dowsing. Dowsing, yang diidentikkan dengan kegiatan mistis dan tak punya dasar ilmiah, adalah memegang dua batang besi, di dua tangan, yang menunjukkan arah tanah yang mengandung air. Jika dua besi itu bersilangan, di situlah sumber air.

Dowsing dijadikan adegan pembuka untuk meyakinkan penonton bahwa jagoan kita ini seorang “dukun air” (water diviner), maka jangan heran kalau caranya mencari jasad anak-anaknya pun dengan mengerahkan kemampuan yang sama.

Aspek lain dari film ini, seperti persahabatan Connor dengan perempuan pemilik hotel di Istanbul, Ayshe (Olga Kurylenko) serta putranya Orhan (Dylan Georgiades), dibuat standar saja. Sekadar menyesuaikan dengan keindahan latar belakang kota kuno. Bisa jadi dalam kenyataannya, Ayshe tak ada atau, Ayshe ada tapi tak pernah ada hubungan apa-apa dengan Connor.

The Water Diviner di-shot dengan indah dan adegan-adegan individualnya kuat. Adegan Connor menggali pasir untuk membuat sumur, mengingatkan kita pada Daniel Day Lewis di There Will Be Blood (2007) mencari sumber minyak. Sebagai aktor, terbukti keberadaan Crowe masih diperhitungkan di layar lebar.

Kilas balik ke pertempuran yang menewaskan anak-anaknya digambarkan brutal dan telanjang. Adegan Connor terjebak di tengah pertempuran antara Turki dan Yunani yang belakangan datang menyerang lumayan menegangkan dan tak disangka-sangka. Juga adegan badai debu di Australia yang menakjubkan dan “wow”.

Crowe sedang berusaha membuat epos tentang perang, cinta, dan kehilangan a la sutradara Inggris David Lean yang namanya dikenang lewat film-film, antara lain The Bridge on The River Kwai (1957), Lawrence of Arabia (1962), Doctor Zhivago (1965), dan A Passage to India (1984), tapi The Water Diviner masih gagap dan terlalu melodramatik. Namun sebagai debut, boleh kita angkat topi.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 177, 20-26 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s