Dan Bella Menyanyi Lagi

bella

Barden Bella terancam tak dapat mempertahankan juara a capella nasional ke-4 kalinya. Insiden memalukan di hadapan presiden jadi ganjalan.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Pitch Perfect 2
Genre: Comedy, Music
Sutradara: Elizabeth Banks
Skenario: Kay Cannon, Mickey Rapkin
Produksi: Universal Studios
Pemain: Anna Kendrick, Rebel Wilson, Hailee Steinfeld
Durasi: 1 jam 54 menit

Tiga kali sudah Barden Bella jadi juara a capella nasional. Sebagai pemenang, Bella mendapat kehormatan tampil di depan Presiden Obama dan ibu negara. Mereka menyuguhkan harmonisasi suara ditambah aksi panggung dilengkapi beragam peralatan. Sejauh ini lancar.

Tiba bagian Amy (Rebel Wilson). Atraksinya adalah turun dari langit-langit sambil berayun-ayun di kain. Apa lacur, kerekan yang menahan berat badan Amy bermasalah, membuat turunnya tersendat-sendat, padahal lagu lanjut terus. Penonton panik sambil menatap nanar apa yang akan terjadi dan bagaimana nasib Amy.

Pada momen tak terduga, Amy meluncur sebentar lalu terhenti. Dia hilang keseimbangan. Tubuhnya terayun-ayun dengan posisi terbalik, kepala di bawah dan kaki di atas, mengangkang. Insiden ini berakhir dengan sobeknya kostum Amy, membelah di antara dua kaki, terus hingga pangkal paha, hingga tampaklah bagian pribadinya yang tak ditutupi celana dalam. Presiden dan ibu negara masih duduk di kursi mereka.

Tragedi memalukan yang dijuluki Muffgate itu tak pelak jadi ganjalan Bella bisa maju memperebutkan gelar keempat kalinya. Satu-satunya kesempatan mereka untuk menebus kesalahan ini sekaligus mencegah bubarnya Bella adalah dengan memenangkan kejuaraan dunia a capella di Kopenhagen Denmark, kontes yang belum pernah dimenangkan tim Amerika.

Di bawah kepemimpinan Chloe (BrittanySnow) dan Beca (Anna Kendrick), mereka berlatih lagi. Sekarang ada satu anggota baru, Emily Junk (Hailee Steinfeld), yang ibunya 30 tahun lalu anggota legendaris Bella. Emily bukan hanya punya suara bagus, tapi juga datang membawa lagu original.

Lawan terberat mereka nanti adalah grup asal Jerman bernama Das Sound Machine (DSM), yang terdiri dari 20 orang berbadan tinggi tegap dengan koreografi atraktif luar biasa. Dua pentolan DSM adalah pria berotot menonjol Pieter (Flula Borg) dan si pirang cantik Kommissar (Birgitte Hjort Sorensen).

Masalahnya, konsentrasi Beca tengah terpecah. Tanpa diketahui anggota lain, diam-diam Beca kini magang di sebuah studio rekaman dengan tugas utama menyiapkan kopi. Bosnya yang flamboyan dan punya standar tinggi (Keegan-Michael Key), belakangan tahu Beca punya bakat musik.

Si bos mendorong Beca membuat mash-up dengan memasukkan suaranya ke dalam lagu Natal yang sedang disiapkan seorang penyanyi terkenal. Beca pun sibuk dengan tugas baru ini. Lalu bagaimana nasib Bella?

Pitch Perfect 2 lebih kurang mirip Pitch Perfect. Secara teori, Anda akan suka film ini jika Anda menyukai prekuelnya yang jadi hit pada 2012. Pitch Perfect yang disutradarai Jason Moore disukai karena segar, konyol, dan pedas yang membuat kita jatuh cinta pada hal terkecilnya sekalipun. Kesungguhan dan kegembiraannya menular.

Pitch Perfect 2 adalah debut penyutradaraan feature Elizabeth Banks yang juga jadi produser sekaligus pemain di sini. Tampak benar tujuan film ini semata-mata untuk menghibur secara instan. Tak ada satu momen pun di Pitch Perfect 2 yang setara dengan audisi Cups-nya Anna Kendrick di film pertama dan tak ada lagu yang demikian mengharukan hingga membuat air mata mengambang.

Pitch Perfect 2 menebar humor di sana sini, tapi kehabisan energi di tengah film karena subplot banyak dan berantakan. Tak heran jika film ini kesulitan mendapatkan kembali keseimbangannya. Mungkin seandainya lebih pendek 15-20 menit, hasilnya akan lebih solid.

Sutradara Elizabeth Banks menyuntikkan lagu pop ringan dengan dosis girl power yang sehat. Humornya muncul terlalu dini dan sering sehingga terkesan murahan. Banks dengan ringan menjadikan ras sebagai bahan humor. Seperti ketika Flo (Chrissie Fit), mahasiswa asal Guatemala, beberapa kali mengatakan, “Ketika berumur 9 tahun, abangku mencoba menukarku demi seekor ayam.”

Kredit untuk Banks, dia menggambarkan persaingan antarperempuan secara positif. Mereka saling menghina tapi tanpa sadar saling memuji. Misalnya Beca yang kehabisan kata-kata menghadapi Kommissar, akhirnya cuma bisa memaki, “Bau keringatmu seperti kayumanis!”

Salah satu masalah utama film ini adalah meminggirkan bintangnya, Anna Kendrick si mungil yang berbakat. Momentum di film pertama yang menunjukkan kemampuan kreatifnya serta kisah cintanya dengan Skylar Astin dari grup a capella pria Treblemakers sebenarnya peluang bagus untuk dikembangkan. Beca pun punya sikap dan keunggulan, beda dengan tipikal karakter yang umumnya dia mainkan. Di Pitch Perfect 2, Beca dikerdilkan jadi sekadar sosok pendukung.

Rebel Wilson-lah yang dibintangkan kali ini, sebagai cewek Aussie yang bicara blak-blakan dan menjuluki dirinya sendiri Fat Amy (Amy Gemuk). Amy mendapat panggung untuk mengeksplorasi komik saru-nya. Namun seberapa pun menghiburnya Wilson, dia tetap “kurang satu not” dibanding yang lain.

Semua pemain pendukung Pitch Perfect kembali lagi, termasuk Hana Mae Lee dengan gaya absurdnya. Kehadiran komedian Keegan-Michael Key sebagai bos Beca secara signifikan meningkatkan kualitas subplot tentang Beca magang. Juga aktris Swedia Birgitte Hjort Sorensen yang membuat debut Amerikanya merupakan kejutan terbesar. Masuknya anggota baru, Emily (Hailee Steinfeld), jelas menunjukkan bakal ada Pitch Perfect 3, tak peduli dunia menantikan atau tidak.

Ada sedikit romansa di sini. Amy mendapat jatah solo agak panjang dan menggelikan, yakni ketika dia menyanyi untuk Bumper (Adam DeVine), cowok yang dia tolak tapi kemudian Amy berubah pikiran.

Jelas, Pitch Perfect 2 bukanlah film bagus, melainkan menghibur. Poin tertingginya, tentu saja, musik. Pilihan lagu dan mash-up-nya lebih baik dibanding yang pertama. Pada akhirnya, kita pergi ke bioskop untuk mendapat komedi ringan dan musik bagus kan? Pitch Perfect 2 menyajikan keduanya.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 183, 1-7 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s