Dari Tradisi hingga Mengindonesia

20150615_MajalahDetik_185_a03

Benny Krisnawardi menggambarkan fase tua yang “apa adanya” lewat Menuai Senja. Tua bukan hanya sabar dan bijaksana, tapi juga gelisah hingga pasrah menghadapi kematian.

Oleh Silvia Galikano

Rebah melintang seorang penari di atas punggung tiga penari yang tengkurap berjajar di tepi panggung. Terkadang gerak tiga penari itu seirama, kadang tidak, membuat penari di atas punggung mereka itu terlonjak-lonjak.

Dari yang awalnya bergerak pelan menaik-turunkan kepala hingga dada dan kaki, makin lama makin kencang. Penari yang tadi hanya terlonjak-lonjak, kini berguling ke kanan, berguling ke kiri, begitu terus hingga akhirnya berguling kencang lepas dari alasnya, dari tiga penari. Terus berguling hingga ke tengah panggung, ke tepi panggung, hingga lenyap di balik layar.

Seakan-akan selesai sudah periode nelangsanya selama ini, setelah merintih tertahan merindukan anak-anak yang sudah jauh dan terombang-ambing membawa tubuh rapuhnya tanpa banyak lagi pilihan terhampar.

Benny Krisnawardi sang koreografer menyuguhkan sisi perih seorang tua lewat karya tarinya Menuai Senja yang dibawakan Komunitas Seni Sigma Dance Theatre di Teater Salihara, 6 Juni 2015. Pementasan ini merupakan bagian dari Helatari Salihara 2015. Empat penari dilibatkan, yakni Davit Fitrik, Eka Fitrik, Diliati, dan Helda.

Komunitas Seni Sigma Dance Theatre adalah kelompok tari berlatar belakang budaya Minangkabau. Benny memasukkan gerak-gerak silat Minang dalam Menuai Senja, walau hanya 20 persen dari keseluruhan gerak, serta iringan musik khas Minangkabau. Benny Krisnawardi, yang sejak 1990 jadi koreografer, adalah lulusan Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan IKJ.

Menuai Senja yang dibagi menjadi empat bagian itu bercerita tentang kehidupan manusia kala usia mulai merambat tua dengan perubahan yang tampak secara psikis maupun fisik. Di sana ada kegelisahan saat manusia mengawali masa tuanya, kerinduan akan orang yang dicintai, serta kepasrahan menghadapi kematian.

“Ide geraknya dari tetes air di dahan bunga, ada yang cepat, ada yang tersendat-sendat. Karena itu sebagian besar gerakannya di bawah seperti air mengalir, lambat dan butuh konsentrasi,” ujar Benny usai geladi resik, 5 Juni 2015.

Senapas dengan Menuai Senja yang merupakan tari kontemporer berbasis tari tradisi, sehari sebelumnya, 5 Juni 2015 di Serambi Salihara, dihelat diskusi Tradisi dan Modernitas dalam Tari Indonesia. Diskusi itu melibatkan dua pembicara, yakni kritikus tari dan dosen IKJ Sal Murgiyanto serta pengamat tari dan dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung F.X. Widaryanto.

Tari modern di Indonesia bermula pada 1950-an saat dua seniman Yogyakarta, Bagong Kussudiardja dan Wisnuwardhana, merantau ke Amerika Serikat untuk belajar tari modern. Sejak itu pula tari modern Barat dan balet banyak berpengaruh terhadap pembentukan tari kontemporer Indonesia.

Namun demikian, seniman-penari Indonesia, yang lahir dari tradisi beragam, tak melepaskan pengaruh tradisi mereka. Sebaliknya, pengaruh tari tradisi terhadap tari kontemporer sangat nyata terlihat pada karya seni penari kita. Misalnya Bagong Kussudiardja, Sardono W. Kusumo, Gusmiati Suid, Boi G. Sakti, Tom Ibnur, Ali Sukri, dan Fitri Setyaningsih. Perjalanan bolak-balik dari akar tradisi ke khazanah modern kerap dilakukan para senian itu demi mencapai kebaruan dalam karya-karya mereka.

Kritikus tari dan dosen IKJ Sal Murgiyanto berujar tradisi harus diapresiasi, dipertanyakan, dan diinterpretasikan sesuai perubahan zaman. Seni tradisi bukan hanya dilestarikan dan dikeramatkan tapi juga dikembangkan. Tetap dimanfaatkan jika memang masih relevan dan diganti jika tak lagi memadai. Sikap serupa diyakini Sardono W. Kusumo di bidang tari.

Sepuluh tahun setelah kemerdekaan RI, tokoh tari modern Amerika, Martha Graham, berkunjung ke Indonesia penuh rasa waswas sebelum pentas. Pada 1957, tiga penari muda Indonesia, Setiarti Kailola, Wisnoe Wardhana, dan Bagong Kussudiardja mendapat hibah untuk belajar tari modern di sekolah musim panas di Connecticut College dan studio Martha Graham di New York. Kembali ke Indonesia, Wisnoe dan Bagong mencoba menumbuhkan tari modern versi Graham, tapi penonton Indonesia belum siap bagi perubahan besar dalam tari, juga ruang, kesempatan, dan konteksnya.

Penonton Indonesia baru siap ketika Rendra dan Sardono pulang ke Indonesia dari memperdalam pengetahuan di Amerika Serikat pada paruh kedua 1960-an. Rendra kemudian mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta, Sardono mendapati ajang pertemuan dan tempat latihan tari yang ideal di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Karya awalnya, antara lain Samgita Pancasona I-XII (1969-1971) dan Kecak Rina (1972).

“Kehidupan tari yang sehat memerlukan empat pilar utama, yakni hadirnya seniman pelaku dan pencipta, pemirsa yang apresiatif, produser, dan kritikus tari yang berwibawa,” ujar Sal.

Pengamat tari dan dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung F.X. Widaryanto menjelaskan seni berkelindan dengan berbagai dimensi kehidupan. Di sinilah peran Sardono dalam mengawali perubahan kreativitas tari dalam konteks kekinian menjadi penting.

Sardono menjadi model keempuan tari, yang melihat tradisi keraton yang mendewasakannya sebagai sebuah tradisi kapujanggan. Artinya bukan hanya dalam pewarisan bentuk seni keraton yang sudah selesai, tapi juga dalam warisan tradisi pemikiran yang terus berada dalam dimensi kritis kala menyongsong kehidupan dewasa ini.

Langkah ini tak terasa telah menjadi “perlawanan budaya” yang sekarang sudah mulai diterima di masyarakatnya, meski pada 1970-an masih menjadi kontroversi dan bahkan dilempari telur busuk di RRI Surakarta.

Proses mengindonesia dalam tradisi kreatif tari dewasa ini terus berlanjut. Berbagai institusi pendidikan tinggi seni dalam strata S1, S2, dan S3 terus menghasilkan berbagai karya seni. Berbagai sanggar dengan eksistensi keempuannya di berbagai wilayah juga terus menggeliat. Demikian juga dengan munculnya berbagai festival, baik yang muncul dari kebutuhan ritual komunitas masyarakat maupun yang digagas secara top-down sebagai kontribusi pemerintah dalam merawat vitalitas insan kreatif di berbagai tempat.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 185, 15-21 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s