Segara Soalan Sinden

20150608_MajalahDetik_184_a02

Banyak persoalan hari ini yang tak kunjung terjawab karena keengganan menengok persoalan yang sama puluhan tahun silam. Padahal simpulnya ada di sana.

Oleh Silvia Galikano

Nyi Sinden Sepuh (Sujiwo Tejo) seharusnya sudah pensiun, tak lagi nyinden. Namun, disebabkan belum adanya pengganti, dia tetap menyeret tubuh rentanya naik dari satu panggung ke panggung lain sambil terus menyiapkan anak-anak didiknya. Mereka adalah Soimah (Soimah Pancawati), Endah (Endah Laras), Sruti (Sruti Respati), Rita (Rita Tilla), dan Megan (Megan Colleen O’Donoghue).

Ada hal utama yang menurut Sinden Sepuh tidak dia temui dalam diri sinden-sinden muda itu, yakni kebanggaan sebagai sinden dan tahu esensi menjadi sinden, bukan hanya di permukaan. Padahal dulu Pancasila ditulis bapak pendiri bangsa di atas punggung seorang sinden.

Sinden Sepuh menugaskan anak-anak didiknya mencari sinden tersebut, sinden yang di punggungnya terdapat rajah. Rajah itu kunci yang harus ditafsirkan, dibedah, dan dimaknai kembali, agar relevan dengan kondisi sosial politik yang sedang berlangsung.

Bersama mereka ikut juga dua pria sepuh yang sejak muda mengikuti ke mana pun Nyi Sinden Sepuh manggung, Miing (Miing Bagito) dan Butet (Butet Kartaredjasa), masing-masing ditemani seorang putranya, Cak Lontong (Cak Lontong) dan Akbar (Akbar).

Dalam pencarian, terkuaklah bahwa Soimah, Surti, dan Cak Lontong ternyata saudara kandung. Ibu mereka adalah Ngatijah, sinden legendaris yang selepas peristiwa politik 1965 dibawa aparat bersama pemain ketoprak, wayang orang, dan kesenian tradisi lainnya karena dianggap bergabung dalam Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Para seniman ini dilenyapkan, tak tahu di mana kuburnya.

Dalam atmosfer yang lebih segar Indonesia Kita hadir, mengangkat lakon Sinden Republik, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 29-30 Mei 2015. Pementasan ini disutradarai Sujiwo Tejo, dan naskahnya ditulis Agus Noor.

Lima sinden muda mendapat panggung istimewa. Mereka adalah Soimah, Endah Laras, Sruti Respati, Rita Tilla, dan Megan Colleen O’Donoghue. Jika Soimah, Endah, dan Sruti berakar pada tradisi Jawa, akar Rita Tilla adalah Sunda. Sedangkan Megan, satu-satunya sinden bule, berasal dari Amerika Serikat yang mempelajari sindenan Jawa.

Acara ini juga memberi porsi istimewa pada penampilan Waldjinah lewat film yang ditampilkan di layar panggung, seolah-olah maestro ini sedang berbicara kepada lima yuniornya. Waldjinah, dalam suara terbata-bata menahan sakit, menyemangati kelimanya untuk bersetia di jalur ini, jadi sinden yang berarti, mandiri tanpa banyak berharap pada pemerintah.

Istilah sinden yang dikenal dalam seni musik tradisional Jawa, khusus mengacu pada vokalis solo perempuan. Sinden melantunkan interpretasi atas frasa-frasa melodik dalam suatu komposisi karawitan. Lantunan nada yang dihasilkan pun beragam. Dalam hal ini, satuan frasa melodik yang sama dapat memperoleh tafsir sindenan yang berbeda oleh masing-masing sinden.

Dalam katalog pertunjukan, budayawan Profesor Edi Sedyawati menuliskan, selain teknik bernyanyi, para sinden juga melengkapi diri dengan kemahiran menari. Dua unsur itu, nyanyian dan tarian, lumrah dijumpai dalam pertunjukan tari Gambyong, dengan nama generik lebih tua, Runggeng (Ronggeng), yang sangat populer di kalangan rakyat.

Tari Gambyong merupakan ungkapan keluwesan perempuan, yang melagukan lirik bersifat erotik dan gerak tari yang mengundang perhatian penonton. Mereka kerap berkeliling kampung, ke pasar, atau pusat keramaian untuk mengamen (tledhek barangan).

Dalam perkembangannya, tari Gambyong diperhalus berdasar kaidah tari keraton, yang puncaknya terjadi ketika Nyi Bei Mintoraras menyusun tari Gambyong Pareanom pada 1950. Bentuk tarinya sudah dibuat baku.

Dari susunan, iringan tari, rias, dan busana, tari Gambyong Pareanom sangat berbeda dengan tari Gambyong sebelumnya yang kerap pentas berkeliling. Seni sinden sudah tak lagi muncul dan berangsur menghilang dalam tari Gambyong.

Sinden adalah kunci untuk merefleksikan banyak persolan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks porses “menjadi Indonesia”, seni sinden perlu mendapat posisi yang tepat. Dan bercermin pada proses transformasi tari Gambyong yang mengalami penghalusan ketika diangkat menjadi kesenian istana, apakah hal serupa mungkin terjadi pada seni sinden? 

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 184, 8-14 Juni 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s