Kain Elok Tanah Melayu

tenun riau

Tenun Siak dan batik Riau mencari pasar yang lebih luas. Festival digelar untuk menggali lebih banyak kreasi.

Oleh Silvia Galikano

Tenun Riau dikreasikan, modifikasi dilakukan. Motif ditambah, dengan catatan, asal tak mencomot motif daerah lain selain Riau. Tujuannya agar dikenal luas masyarakat Indonesia dan negara tetangga sekaligus memenuhi tuntutan zaman.

Perancang Sapto Djojokartiko lewat brand Todjo pun menunjukkan kreasinya lewat koleksi capsule bernama Raya Capsule Collection. Delapan busananya dinamis, kontemporer, dan dapat dipakai sehari-hari dengan tetap mempertahankan keanggunan. Sapto menampilkan warna-warna kuat dan cerah, seperti hijau limau, fuchsia, navy, dan kuning lancang kuning yang jadi warna khas Riau.

Mari tengok bolero panjang dengan garis-garis horisontal kuning, hijau turquoise, dan segaris tipis warna emas berpadu manis dengan pantalon hijau lembut. Koleksinya yang lain, tenun dengan motif tapuk manggis disulap jadi dress merah anggun beraksen terawang di torso dan lengan. Elok nian.

Kreasi lain batik Riau dan tenun Siak dibuat perancang Rudi Chandra dalam koleksi bertajuk Mahratu. Mahratu diambil dari nama permaisuri II Sultan Syarif Kasim II dari Kerajaan Siak, Tengku Mahratu Syarifah Fadlun yang menaruh banyak perhatian pada tenun Siak.

Memintal benang sebelum ditenun. Foto: Silvia Galikano.
Memintal benang sebelum ditenun. Foto: Silvia Galikano.

Satu koleksi Rudi memadukan dua warna utama tenun, yakni merah dan hijau, secara vertikal, dan jadilah tunik nan unik . Batik Riau bermotif sulur warna sogan dijadikannya gaun anggun haute couture.

Koleksi dua perancang asal Jakarta itu ditampilkan dalam penutupan Lancang Kuning Fashion Festival di Ballroom SKA Co Ex Pekanbaru, Riau, 14 Juni 2015. Acara yang baru pertama digelar Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau ini bertujuan memperkenalkan dan mengembangkan kain tradisional Riau.

Karenanya, salah satu rangkaian acara dalam festival yang berlangsung 10-14 Juni 2015 itu adalah lomba desain pakaian dari tenun Siak dan batik Riau yang diikuti kabupaten/ kota yang ada di Riau.

Riau punya hubungan yang kuat dengan Singapura dan Malaysia. Diharapkan tenun Siak dan batik Riau dikenal di dua negara itu,” ujar Ketua Pelaksana Lancang Kuning Fashion Festival Tengku Zul Effendi saat jumpa wartawan sebelum acara dimulai.

Batik Tabir Riau. Foto: Silvia Galikano
Batik Tabir Riau. Foto: Silvia Galikano

Batik Tabir Riau, yang diluncurkan pada 2005, menjadikan tabir pelaminan khas Riau sebagai motif utama. Bahan batik Riau adalah katun dan dobi yang ditenun menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Sedangkan sutra ditenun menggunakan alat tenun mesin (ATM).

Batik Riau hanya batik tulis dan cap, tak ada batik printing, dan tabur-tabur (isen-isen)-nya tak sebanyak isen-isen batik Jawa. Sehelai batik Riau umumnya rampung dalam waktu delapan hari.

Pewarnaan batik menggunakan teknik celup dan colet (dengan kuas). Jika teknik celup yang dipakai, maka jumlah warna dibatasi hanya tiga untuk mencegah kain cepat hancur. Sedangkan dengan teknik colet, pilihan warna bisa lebih beragam.

Batik tabir Riau punya banyak warna, tapi motifnya kurang dan monoton. Saya memodifikasinya dengan menambah warna-warna pastel untuk menjangkau lebih banyak kalangan,” kata Sapto tentang kreasinya.

Menenun songket. Foto: Silvia Galikano.
Menenun songket. Foto: Silvia Galikano.

Tenun Siak punya sejarah panjang di tanah Melayu ini, yakni sejak pemerintahan Sultan Syarif Ali Abdul Jalil Baalawi (memerintah pada 1784–1810) yang merupakan Sultan VII Kerajaan Siak. Sultan menugaskan seorang penenun dari Kerajaan Terengganu yang bernama Wan Siti binti Wan Karim mengajari para bangsawan Siak menenun.

Kegiatan ini untuk memenuhi kebutuhan busana para bangsawan kerajaan, khususnya Sultan  dan keluarganya. Kain tenun merupakan simbol kewibawaan dan keagungan bangsawan.

Awalnya yang diajarkan adalah tenun tumpu, kemudian berganti dengan alat bernama “kik”, dan kain yang dihasilkan disebut tenun Siak. Benang yang digunakan adalah benang sutera atau benang katun berwarna yang dipadukan dengan benang emas sebagai ornamen.

Menyisipkan benang emas di antara benang lonsen. Foto: Silvia Galikano.
Menyisipkan benang emas di antara benang lonsen. Foto: Silvia Galikano.

Kik adalah alat tenun sederhana terbuat dari kayu berukuran 1×2 meter. Sesuai ukuran alatnya, kain yang dihasilkan tidaklah lebar, sehingga harus dua kain yang disambung (disebut kain berkampuh) untuk jadi satu kain sarung.

Cara membentuk motif dengan menyisipkan benang emas di antara benang lonsen (membujur), dinamakan “memungut”. Untuk menghasilkan sehelai kain diperlukan 3-4 pekan.

Motif kain tenun tradisional mengambil tema keseharian, seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, dan alam yang kemudian diperhalus jadi motif menarik. Motif dari tumbuhan di antaranya pucuk rebung, tampuk manggis, bunga cina, dan kaluk paku.

20150612_153218
Motif pucuk rebung bersiku keluang dengan variasi tampuk manggis (hitam, atas) dan motif pucuk rebung bertabur dengan variasi tampuk manggis bersilang (merah, bawah). Foto: istimewa.

Motif yang diangkat dari hewan antara lain semut beriring, itik sekawan, balam dua sekawan, dan siku keluang. Sedangkan dari alam sekitar adalah potong wajit, awan larat, perahu, bintang-bintang, dan bulan sabit. Berbagai motif ini dapat saling bersenyawa menjadi motif baru, seperti pucuk rebung berpadu, pucuk rebung berkawan, atau pucuk rebung tikam menikam.

Dari kik atau gedokan, teknik menenun berkembang ke ATBM dan ATM yang masih digunakan sampai sekarang. Tak ada lagi kain berkampuh. Proses penenunan pun bisa lebih singkat, jadi 4-5 hari atau dua pekan jika membuat kain untuk baju pengantin yang susunan benangnya rapat dan motifnya rumit.

Tenun Siak awalnya dibuat terbatas bagi kalangan bangsawan Siak. Seiring waktu, makin banyak masyarakat yang pandai bertenun, sehingga tenun Siak makin berkembang sampai keluar negeri Siak. Tenun Siak kini dikenal juga dengan sebutan songket Riau. 

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 186, 22-28 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s