Kembalinya Sang Veteran

terminator

Reese menempuh perjalanan waktu ke masa lalu untuk mencegah Skynet membunuh Sarah. Ternyata yang dia temui lain, Sarah tak butuh bantuan.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Terminator Genisys
Genre:
Action, Adventure, Sci-Fi
Sutradara: Alan Taylor
Sutradara: Laeta Kalogridis, Patrick Lussier
Produksi: Paramount Pictures
Pemain: Arnold Schwarzenegger, Emilia Clarke, Jai Courtney, Jason Clarke
Durasi: 1 jam 59 menit

Tahun 2029, bumi dikuasai robot cyborg yang dikendalikan Skynet. Manusia yang tersisa, hidup tak ubahnya tikus tanah, harus mengendap-endap, cepat berlari jika ada pemangsa—yakni cyborg, dan sembunyi di bawah tanah. Para manusia yang masih bertahan ini dipimpin John Connor (Jason Clarke) bertarung melawan cyborg.

Connor kemudian diberi tahu unit pasukannya, Tech-Com, bahwa Skynet akan menyerang dari dua arah, masa lalu dan masa depan. Skynet akan kembali ke masa lalu untuk membunuh ibu Connor, Sarah (Emilia Clarke), sebelum melahirkan Connor. Connor pun mengirim letnan kepercayaannya, Kyle Reese (Jai Courtney), ke masa lalu, ke tahun 1984, untuk menyelamatkan nyawa ibunya.

Ternyata yang Reese temukan berbeda dari sosok Sarah yang digambarkan Connor. Bukan pelayan restoran yang butuh diselamatkan, melainkan perempuan kuat yang sudah tahu tentang Skynet, tahu tentang kiamat, dan tahu sosok Reese sebagai pelindung sekaligus calon ayah dari anaknya. Perbedaan ini disebabkan satu dekade sebelumnya, sesosok Guardian Terminator (Arnold Schwarzenegger) dikirim ke masa lalu untuk menolong Sarah yang masih bocah dari serbuan cyborg yang telah menewaskan orangtuanya.

Saat Reese datang, Sarah harus menghadapi T-800 hasil program ulang. Dia dibantu penuh oleh Terminator yang terus berusaha membaur dalam keseharian manusia sambil menyembunyikan sifat alaminya. Bertiga mereka menghadapi misi baru, mengubah masa depan dan mencegah kiamat bumi terjadi.

Namun semua tak sesederhana itu. Skynet mengirim terminator-terminator tambahan untuk membunuh Sarah, yakni T-1000 (Byung Hun-lee), pasukan T-800, dan musuh baru yang mengerikan: John Connor, yang telah berubah jadi hibrid manusia-cyborg nanoteknologi, T-3000.

Genisys menjadi film ke-5 serial action sci-fi Terminator, (ke-4 bagi Schwarzenegger) yang keseluruhannya sudah meraup lebih dari US$1,4 miliar (setara Rp19 triliun) dari seluruh dunia. Empat sebelumnya adalah The Terminator (1984), Terminator 2: Judgment Day (1991), Terminator 3: Rise Of The Machines (2003), dan Terminator Salvation (2009).

Artinya sudah tiga dekade juga Arnold Schwarzenegger mengatakan “I’ll be back” sejak kemunculan pertama sebagai mesin pembunuh Model 101 Sistem Cyberdyne dalam The Terminator. Dalam kisah reboot kali ini, Arnold Schwarzenegger memerankan kembali karakter eponymous, Terminator.

Beberapa waktu sebelum rilis, James Cameron yang jadi sutradara dan co-creator seri pertama dan kedua serta digelari Bapak Terminator, sempat memuji Genisys,Twist-nya lebih dari yang kita harapkan,” meski dia sama sekali tak terlibat dalam proses kreatifnya. Pujian itu terkait hubungan yang kikuk antara Sarah Connor, Terminator, dan putranya di masa depan John Connor.

Sulit untuk tak mengagumi keberanian penulis skenario Laeta Kalogridis dan Patrick Lussier mengaduk-aduk cerita dan membingkai ulang peristiwa dari seri sebelumnya sehingga membentuk perspektif baru.

Selain menggali kemungkinan cerita perjalanan waktu dalam skala yang lebih kuat dan rumit dibanding sebelumnya, Genisys secara efektif mengembalikan kita ke suasana The Terminator. Lalu ke dalamnya dicemplungkan dinamisnya Arnold di Terminator 2: Judgment Day dan diselipkan manusia-mesin dari Terminator Salvation, sambil berpura-pura Terminator 3: Rise of the Machines tak pernah ada.

Bersama desainer produksi Neil Spisak dan sinematografer Kramer Morgenthau, sutradara Alan Taylor secara teliti mereka-ulang shot-shot tunggal dan adegan-adegan dari The Terminator – sampai ke penampilan T-800, menggunakan silikon besar replika Schwarzenegger dalam usia 37 tahun. Namun sebelum T-800 lebih jauh lagi membuat kerusakan, dia disergap Schwarzenegger yang agak tua, Terminator yang lebih ramping, menyuguhkan action singkat Arnold vs Arnold.

Film ini memberi kita pelajaran singkat tentang perjalanan waktu sekaligus menjelaskan bagaimana sebuah titik persinggungan dapat menimbulkan timeline paralel dan ingatan alternatif. Karakter-karakternya berupaya menjelaskan secara masuk akal tentang keberadaan mereka, apa yang mereka lakukan, dan apa yang akan atau tak akan terjadi nantinya. Jadi, yang belum menonton seri sebelumnya akan tetap paham isi cerita Genisys.

Tujuan besar film ini adalah mereset seluruh franchise Terminator dengan menghilangkan kepahlawanan revolusioner John Connor, tapi sineas tak menawarkan banyak sebagai kompensasi. Misalnya ada kejadian besar apa di paruh pertama hingga menyebabkan berkembangnya rasa putus asa di paruh kedua kedua. Yang ditemui hanyalah tiga pahlawan kita berlari dari satu pertarungan kecil ke pertarungan berikutnya, sementara penjahatnya dapat pulih terus setelah ditembak, bahkan bisa berseru, “Kalian tak akan menang!” sebelum akhirnya terbakar.

Schwarzenegger yang berusia 67 tahun tetap nyaman sebagai manusia metal, tapi rambutnya yang sudah abu-abu dan kerutan di wajah tak pelak menimbulkan kesedihan yang tak terbantahkan sekaligus kesadaran bahwa mesin (atau franchise atau bintang Hollywood) pun fana. Secara lihai, film ini menjelaskan walau Terminator itu robot tapi bungkusnya kulit manusia yang tetap mengalami penuaan.

Kebintangan Schwarzenegger sangat diperlukan di sini, tapi mengingat daya tarik komersialnya yang menurun drastis sejak akhir jabatan gubernur California pada 2011, sepertinya sulit membuat Genisys meraup banyak uang secara global. Meski demikian, pemilihan bintang menengah, seperti Jai Courtney, Emilia Clarke, Jason Clarke, dan J.K. Simmons, merupakan langkah tepat untuk melayani penggemar action.

Emilia Clarke, yang dikenal lewat serial televisi Game Of Thrones (disutradarai Taylor), tak sepenuhnya dapat menangkap kekhawatiran karakter Sarah, yang asalnya dimainkan dengan sangat mulus oleh Linda Hamilton. Alih-alih kita mendapat Sarah yang sederhana, bijaksana, dan pandai pegang senjata.

Kecenderungan pada karakterisasi satu dimensi ini merata pada sebagian besar protagonis utama, bisa itu kecenderungan robotik Schwarzenegger sebagai Guardian atau Courtney sebagai Reese, yang menjadikan mereka kurang menarik sebagai sebagai pahlawan.

Tim efek khusus patut mendapat pujian karena mampu menghadirkan keajaiban metal cair si T-1000. Selain itu, sama dengan teknik yang digunakan dalam Tron: Legacy (2010) untuk Jeff Bridges, Genisys secara mengesankan menggabungkan airbrushing digital untuk mengubah Arnold kembali ke penampilan pertengahan 80-an dalam segmen singkat.

Sejauh ini, Genisys bukan franchise Terminator yang terbaik, atau lebih baik dari sebelumnya. Genisys tak habis-habisnya mengemas ulang ketegangan lama dengan model yang lebih ramping dan lebih seksi lalu mencampurnya dengan masa lalu untuk memastikan keberadaannya di masa depan. Padahal sebenarnya film ini bisa menjadi produk sempurna dari masanya, yang mencerminkan kondisi ekonomi sekarang yang sedang sulit dan secara spesifik diangkat sebagai tema. 

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 187, 29 Juni – 5 Juli 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s