King Bob dan Banana!

minions

Tiga Minion berkelana mencari penguasa terjahat di muka bumi. Hasilnya, kekonyolan demi kekonyolan yang mengocok perut.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Minions
Genre:
Animasi, Komedi, Keluarga
Sutradara: Kyle Balda, Pierre Coffin
Skenario: Brian Lynch
Produksi: Universal Pictures
Pemain: Chris Renaud, Pierre Coffin, Sandra Bullock
Durasi: 1 jam 31 menit

Kisah para Minion dimulai jauh sekali. Saat masih sebagai organisme kuning bersel tunggal yang selama berabad-abad berevolusi dan tak henti mencari penguasa (master) paling jahat.

Setiap kali bertemu calon penguasa, kali itu juga mereka gagal menjaganya hingga menemui ajal “di tangan” Minion sendiri. T-Rex mereka “dorong” masuk ke kawah mendidih, Napoleon mereka meriam, dan Dracula mereka silaukan dengan membuka tirai jendela lebar-lebar. Semua tanpa sengaja.

Akibatnya, Minion tak punya siapa-siapa untuk mengabdi. Pada 1968, atau 42 tahun B.G (Before Gru, Sebelum Gru), mereka memutuskan mengisolasi diri dan memulai hidup baru di sebuah goa es di Antarktika. Namun karena tak ada penguasa maka tak ada semangat di diri Minion. Kondisi ini membuat mereka depresi berat.

Satu Minion bernama Kevin (diisisuarakan Peter Coffin yang juga mengisi suara 899 minion lainnya di franchise ini) punya rencana. Dia bersama Stuart si remaja pemberontak, dan Bob yang imut menggemaskan, berkeliling dunia mencari penguasa terjahat tempat mereka “berbakti”.

Mereka berjalan kaki dari Antarktika yang beku ke Australia, India, New York City, dan berakhir di London. Di kota inilah ketiganya bertemu calon penguasa baru, Scarlet Overkill (Sandra Bullock), yang berambisi jadi penguasa dunia sekaligus perempuan supervillain pertama di dunia.

Scarlet menugaskan trio ini mencuri mahkota Ratu Elizabeth, benda yang selama ini sangat dia inginkan. Tugas ini tak ringan bagi Kevin, Stuart, dan Bob karena penjagaan berlapis-lapis di Istana. Namun masa depan para Minion kini ada di tangan mereka.

Minions adalah animasi komputer 3D yang hidup dan secara sempurna menangkap kekonyolan karakter-karakternya. Merupakan prekuel dari Despicable Me (2010) dan Despicable Me 2 (2013), serial animasi yang unik dari sisi ranah karakter karena bahasanya tak dimengerti dan tampangnya tak biasa tapi tak dapat disangkal, sangat menggemaskan.

Di film inilah pertama kalinya Sandra Bullock memainkan karakter penjahat (villain). Dan di sini pula kita tahu bagaimana Minion mengenal Gru.

Selain musik original yang dikomposisi Heitor Pereira, Minions menyuguhkan soundtrack musik legenda dari era 60-an dan 70-an, di antaranya My Generation – The Who, Foxy Lady – Jimi Hendrix, Keep It Comin’ Love – KC & The Sunshine Band, dan Happy Together – The Turtles. Ada kejutan bagi penonton Indonesia di tiga-perempat film. Tunggu saja.

Animasi yang dinarasikan Geoffrey Rush ini memperhatikan betul adegan demi adegan, berikut energi dan humornya yang “gila” tapi santai, menular dan tak pernah kedodoran. Yang paling ajaib dari franchise ini adalah karakter utamanya bicara merepet entah dalam bahasa apa, tapi dipahami seluruh dunia.

Sutradara Pierre Coffin (yang juga menggarap dua seri sebelumnya) dan Kyle Balda menjadikan Minions pesta tawa tanpa henti dengan takaran kegilaan yang tepat dan secara mengesankan menjaga gimmick lewat karakter-karakternya yang lucu. Lewat seruan “banana!” yang khas, “ooh la la” yang tak sebanyak sebelumnya, dan “King Boooob!” yang bikin perut kaku karena tertawa. Tak berlebihan jika Minions disebut-sebut sebagai yang terbaik di antara franchise Despicable Me.

Perhatikan adegan menggelikan berikut. “Kalian tahu, siapa ini?” kata Scarlet menunjuk poster Ratu Elizabeth.

Hhmm… la cucaracha (kecoak)?” jawab Kevin.

Ini Ratu Elizabeth! Dan saya sangat, sangat, sangat menginginkan mahkotanya!”

Banyak film animasi yang menyandang label sebagai hiburan tapi jadi terlalu gelap karena mengusung pesan yang berat, seperti How to Train Your Dragon 2 (2014) dan ParaNorman (2012). Namun Minions ada di seberangnya, bahkan kita seperti dilempar kembali ke era komedi slapstik berat Looney Toons, Abbott & Costello, serta Marx Brothers. Film ini penuh warna, konyol, dan lucu. Sangat, sangat lucu. Jadi jangan nonton sambil minum. Nanti keselek. 

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 186, 22-28 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s