Melongok Kejayaan Siak

Istana Asserayah Hasyimiah. Foto: Silvia Galikano
Istana Asserayah Hasyimiah. Foto: Silvia Galikano

 Oleh Silvia Galikano

Siak menyimpan cerita kejayaan bangsa Melayu di masa lampau, masa ketika sungai merupakan lalu lintas utama membawa timah dan emas ke Selat Malaka untuk diperdagangkan. Kala itu, Siak adalah kerajaan yang melepaskan diri dari Kerajaan Johor-Riau.

Menurut filolog Melayu DR Ellya Roza dalam buku Riwayat Hidup Raja Kecik Pendiri Kerajaan Siak (2007) nama “Siak” diambil dari siak-siak, tumbuhan yang tumbuh subur di sepanjang sungai. Akar tumbuhan siak-siak digunakan masyarakat setempat untuk bahan obat-obatan dan rempah wangi-wangian.

Kerajaan Siak didirikan pada 1723 M oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah (berkuasa 1723-1746), putra Raja Johor Sultan Mahmud Syah. Pada 1750, Raja Buang Asmara yang jadi Sultan Siak II (berkuasa 1746-1765) memindahkan ibukota kerajaan dari Buantan ke negeri Mempura di hulu sungai Siak. Saat itulah Kerajaan Siak bernama Kerajaan Siak Sri Indrapura.

20150613_093354
Perahu sandar di Pelabuhan Sungai Duku, Pekanbaru. Selain lewat darat, Siak Sri Indrapura dapat dicapai melalui jalur sungai, menghilir selama dua jam dari Pekanbaru. (Foto: Silvia Galikano)

 

Siak Sri Indrapura masa kini adalah nama ibukota Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Kota ini dapat dicapai lewat jalur darat atau menghiliri Sungai Siak dari Pekanbaru menggunakan kapal cepat dengan waktu 2-3 jam.

Ada apa saja di Siak Sri Indrapura? Selain mendapat suasana tenang khas kota kecil, pemandangan kota yang bersih dan rapi, serta merdunya percakapan Melayu di telinga, kita akan jumpai peninggalan Kerajaan Siak yang masih terpelihara. Berikut uraiannya:

Istana Siak

Istana bernama lengkap Istana Asserayah Hasyimiah atau Istana Matahari Timur ini punya ciri khas warna catnya yang kuning gading. Dinding luarnya dari bata, sedangkan dinding dalamnya dari kayu ulin yang disambungkan dengan pasak, bukan paku. Arah hadapnya ke Sungai Siak yang berjarak sekira 100 meter.

Istana Asserayah Hasyimiah (1)
Istana Asserayah Hasyimiah dengan enam elang hitam di tiap-tiap sudut. (Foto: Silvia Galikano)

 

Terdiri dari dua lantai, dihubungkan dua tangga putar berbahan besi tempa dengan 36 anak tangga, buatan Belanda. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruang, di antaranya ruang pertemuan, ruang makan, dan ruang menunggu tamu. Sedangkan di lantai atas ada enam ruang, empat di antaranya ruang tidur.

Istana bertaman indah ini dibangun Tengku Syarif Hasyim yang jadi Sultan Siak XI dengan gelar Sultan as-Sayid asy-Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin (berkuasa1889-1908). Mulai dibangun pada 1889 dan rampung 1893. Luas bangunan 1.000 meter persegi di tengah lahan seluas 32.000 meter persegi. Berlanggam Melayu, Eropa, India, dan Timur Tengah. Arsiteknya didatangkan Sultan dari Jerman.

Istana ini digunakan pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim dan Sultan Syarif Kasim II (1892-1968), Sultan Siak XII. Bentuk aslinya masih dipertahankan hingga kini. Renovasi pun hanya untuk mengecat ulang dan mengganti lantai yang lapuk di lantai 2.

Ruang Pertemuan dengan chandelier dari Cheko (1)
Ruang Pertemuan dengan chandelier dari Cheko. (Foto: Silvia Galikano)

 

Sebelumnya, istana berpindah-pindah. Misalnya pada masa Sultan Siak IX dan X, pusat pemerintahan di Istana Melintang yang terletak persis di tepi Sungai Siak. Seiring waktu, istana yang sepenuhnya dari kayu itu terkena abrasi sungai dan ambruk.

Di istana Asserayah Hasyimiah disimpan koleksi Kerajaan Siak, seperti arsip-arsip kerajaan, cinderamata dari berbagai negara, dan gendang nobat yang dibunyikan saat penobatan raja.

Sebelum masuk istana, tepatnya begitu melangkahkan kaki ke halaman, arahkan pandangan ke pucuk enam buah tiang di sudut-sudut bangunan istana. Di situ terpasang masing-masing satu patung elang hitam dengan sayap terbuka. Hewan ini lambang Kejayaan Kerajaan Siak.

 

Siak punya cerita tentang elang yang dipercaya hingga kini. Sementara elang umumnya terbang pada siang hari, konon, ada delapan ekor elang yang terbang di sekitar istana tiap malam. Jumlahnya selalu delapan ekor, tak pernah bertambah atau berkurang.

Begitu melewati teras, kita jumpai ruang tempat Sultan menerima tamu. Sejumlah manekin diletakkan di posisi-posisi tertentu yang menunjukkan posisi duduk Sultan dan para petinggi kerajaan saat menerima tamu.

Di ruang ini diletakkan patung dada Sultan Syarif Hasyim buatan Jerman, tahun 1899. Patung berbobot 120 kilogram itu dibuat dari pualam dan matanya seakan-akan “hidup”. Patung dada ini awalnya diletakkan di meja console berbahan kayu, tapi karena bobotnya terlalu berat bagi meja, patung pun dipindah ke sisi lain dan diberi kaki sendiri.

 

 

Ke dalam lagi, di ruang pertemuan, terdapat meja panjang dikelilingi kursi-kursi kayu. Cermin-cermin besar dipasang tinggi-tinggi di empat sisi dinding. Satu chandelier besar digantung tepat di atas meja. Lampu gantung dengan desain rumit itu diimpor dari Cheko, berbahan bakar minyak tanah, dan menggunakan sumbu.

Pemandu yang bernama Suryadi bercerita, begitu satu demi satu sumbu disulut, ruang pertemuan akan terang benderang karena, walau berasal dari satu benda, tapi cahayanya dipantulkan cermin-cermin di sekeliling ruang, jadi terangnya berkali-kali lipat. Brilian sekali idenya.

Sekarang, chandelier tak difungsikan lagi sebagai penerang ruangan, berganti lampu neon yang lebih praktis.

 

Misteri Brankas Istana

Istana Siak menyimpan cerita menarik tentang brankas istana yang besarnya 1x2x1 meter. Kepala rumah tangga istana bernama Wak Molan (1889-1945) adalah orang kepercayaan Sultan Syarif Kasim II dan yang memegang kunci brankas. Sepanjang hidup, Wak Molan tak pernah menceritakan kepada siapa pun, termasuk istri dan anak-anak, tentang apa isi brankas.

Ketika Wak Molan wafat, Sultan mengambil kunci itu lalu membuangnya ke Sungai Siak tanpa alasan yang jelas. Setelah itu, Sultan pergi ke Jakarta.

Sampai sekarang, tak ada yang tahu apa isi brankas dan tak ada yang bisa membukanya. Ketika dibor, malah mata bornya patah. Didatangkan dukun dari Banten, tak bisa juga. Terakhir, mesin pindai (scanner) tercanggih dari ITB juga tak dapat memindai apa yang ada di dalamnya. Padahal mesin yang sama ketika diarahkan ke lantai, bisa menangkap sampai 2 meter ke bawah.

 

Meriam Buntung

Cerita menarik lain adalah tentang meriam sepanjang 1,5 meter yang pernah dicuri pada tahun 1960. Alih-alih mencurinya utuh-utuh, si pencuri memotong meriam jadi dua bagian, lalu mencuri bagian moncongnya saja dan meninggalkan bagian pangkalnya. Itu sebabnya dulu meriam ini dikenal dengan sebutan “Meriam Buntung”.

Tuah istana “bekerja” lagi. Moncong meriam ditemukan dalam sebuah kapal yang akan ke Singapura. Kapal yang membawanya tenggelam di Teluk Salak, sedangkan moncong meriam dapat diselamatkan dan dikembalikan ke Istana.

 

Hanya Dua Komet di Dunia

Artefak istana yang dulunya koleksi Sultan umumnya barang-barang impor berkualitas tinggi. Di antaranya meja marmer yang bisa tembus cahaya diimpor dari Italia, marmer biru yang jadi hiasan dinding didatangkan dari Turki, peralatan makan yang dipesan khusus dari Eropa dengan cap lambang kerajaan Siak, serta mangkok porselen dari Tiongkok yang dapat jadi penawar racun.

Ada pula Komet buatan Jerman pada 1890-an yang hanya ada dua di dunia, satu di Jerman, satu di Siak. Alat pemutar musik berukuran 1x1x3 meter ini sejenis fonograf dengan piringannya berupa lempengan baja berdiameter 1 meter. Sultan Hasyim membawa pulang dari lawatannya ke Eropa.

Komet terdiri dari dua bagian, atas dan bawah. Bagian atas yang berdinding kaca sebagai tempat diputarnya fonograf. Bagian bawah tempat disimpannya lempengan baja yang berisi lagu-lagu dari komponis terkenal, seperti Beethoven, Mozart, Bach, dan Strauss.

Setelah membaca basmallah, Suryadi membuka bagian bawah itu dengan sikap khidmat seakan-akan sedang menggenggam benda bertuah. Dan tampaklah di dalamnya beberapa lempeng baja, compact disc (CD) raksasa, dengan titik-titik tonjolan di permukaan.

Jejak Para Sultan Siak

Raja Kecik mengkaryakan orang-orang besar kerajaan yang dibawanya dari Pagaruyung (sekarang masuk wilayah Sumatera Barat). Untuk mengatur pemerintahan, Sultan membentuk Dewan Kerajaan yang berfungsi sebagai pelaksana pemerintahan dan penasihat utama Sultan.

Dewan Kerajaan terdiri dari empat orang, yakni Datuk Lima Puluh, Datuk Tanah Datar, Datuk Pesisir, dan Datuk Kampar, ditambah dengan Datuk Laksamana. Nama datuk-datuk tersebut sekarang diabadikan menjadi nama-nama jalan di dekat Istana.

Dewan Kerajaan merupakan lembaga tertinggi dalam kerajaan. Dewan inilah yang berwenang dalam menentukan pengganti sultan. Sistem tersebut berlangsung hingga tahun 1784, ketika Yahya yang jadi Sultan Siak VII mengakhiri masa jabatannya.

 

 

 

Sultan Assyaidis Syarif Kasyim Abdul Jalif Syaifudin (Syarif Kasyim II), in een koets op Siak Koets 1915-1925
Sultan Syarif Kasim II di dalam kereta di Siak, 1915-1925. (Dok. KITLV)

 

 

Selain itu, ada juga pembesar-pembesar kerajaan yang bertugas membantu Sultan, yakni Panglima Perang, Datuk Hamba Raja, Datuk Bintara Kiri, Datuk Bintara Kanan, dan Datuk Bendahara. Sedangkan pemerintahan di daerah-daerah dipegang Kepala Suku yang bergelar Penghulu, Orang Kaya, dan Batin.

Sultan Siak XI Syarif Hasyim banyak membuat sepak terjang demi kemajuan kerajaan yang dipimpinnya. Perekonomian rakyat ditingkatkan dengan menciptakan lapangan kerja di semua bidang. Lahan pertanian ditanami berbagai macam tanaman dan hasilnya dijual ke Singapura. Di Singapura pun Sultan membuat penampungan barang-barang yang datang dari Siak.

Sultan juga melakukan studi banding ke daerah lain hingga ke Eropa. Pengalaman itu digunakan untuk memajukan kerajaan, seperti mendirikan percetakan sendiri untuk mencetak segala yang berkaitan dengan administrasi. Salah satunya mencetak buku pedoman kerajaan yang bernama Bab al-Qawâid.

Sultan membangun istana yang diberi nama Istana Asserayah Hasyimiah yang barang-barangnya kebanyakan didatangkan dari Eropa. Sultan juga membangun balai atau gedung pertemuan bernama Balairung Sri atau Balai Besar Kerapatan Tinggi yang digunakan untuk kegiatan pemerintahan Kerajaan Siak.

Sultan Syarif Hasyim mempersiapkan pewaris tahta kerajaan, puteranya yang bernama Syarif Kasim. Syarif Kasim diberi kesempatan menuntut ilmu di Institut Beck en Volten Batavia (1905-1915).

Sultan Syarif Kasim II pandai memainkan piano dan biola. Biolanya masih ada, disimpan di bangunan samping (paviliun) yang dulu merupakan rumah pribadi Sultan dan keluarga.

Cermin milik permaisuri I Tengku Agung yang sekarang ada di ruang pertemuan juga sebelumnya disimpan di rumah pribadi Sultan. Cermin dari kristal itu dipercaya membuat siapa pun yang bercermin akan awet muda.

Disebut permaisuri I karena Sultan Syarif Kasim II punya dua permaisuri. Yang pertama, Tengku Syarifah Mariam binti Fadyl yang bergelar Tengku Agung Sultanah Latifah yang menikah di Langkat Sumatera Timur pada 27 Oktober 1912.

Tengku Agung sempat mendirikan sekolah Sultanah Latifah School pada 1926 yang mengajarkan baca, tulis, agama, bahasa Belanda, dan keterampilan memasak dengan guru-guru perempuan. Tengku Agung mangkat pada 1929.

Selama 14 tahun Sultan tak punya permaisuri hingga menikahi Syarifah Fadlun yang diangkat sebagai permaisuri II dengan gelar Tengku Mahratu. Tengku Mahratu kemudian dicerai hidup pada 1950 dan mangkat di Jakarta pada 1980.

Selain dua istri tersebut, Sultan punya dua lagi istri yang berstatus selir, yakni Syarifah Syifak yang dicerai hidup, dan Syarifah Fadlon yang menikah pada 17 Februari 1957 di Jakarta, seorang janda berdarah Arab-Betawi beranak empat. Syarifah Fadlon mangkat di Jakarta pada 1987 dan dimakamkan di Siak Sri Indrapura.

 

Sultan tak punya keturunan dari empat istrinya tapi memelihara banyak anak angkat yang masing-masing diberi gelar Tengku. Di lantai 2 istana dipasang foto yang berisi sepuluh perempuan yang jadi anak angkat Sultan, usai acara Khatam Quran.

Selain itu, dalam surat ta’ziah yang menyebutkan silsilah kerajaan, tertulis Sultan Syarif Kasim II dan Tengku Agung pernah memelihara seorang anak dari saudara Tengku Agung bernama Tengku Syarifah Mariam bte Fadyl. Anak ini tinggal, disekolahkan, hingga dinikahkan di Istana Besar Siak pada 23 Desember 1942. Manakala diketahui anak angkatnya ini dalam kesusahan, dia diberi bantuan, sesuai Surat Kurniaan yang ditandatangani di Singapura, 6 Desember 1962 dan berakhir pada April 1968.

Baca juga Perihal Anak Angkat Sultan Siak

 

Tiga Gantang Emas untuk NKRI

Tak adanya keturunan jadi salah satu sebab Sultan menyerahkan Kerajaan Siak Sri Indrapura bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 1946 dengan tanda menyerahkan singgasana dan mahkotanya. Dua benda ini sekarang ada di Museum Nasional, Jakarta, sedangkan yang ada di Istana Siak adalah replikanya.

Selanjutnya, Sultan Syarif Kasim II meninggalkan Istana untuk jadi penasihat pribadi Presiden Sukarno. Sambil tak lelah membujuk raja-raja Sumatera Timur bergabung dengan NKRI Syarif Kasim II menyerahkan sebagian hartanya, sebesar 13 juta gulden dan tiga gantang emas, untuk membantu perang kemerdekaan, pada 1945. Sepanjang 1945-1950, Syarif Kasim II berjuang di Aceh dengan bergabung dalam Barisan Ksatria Divisi Rencong pimpinan Ali Hasjmy.

 

 

Istana, yang mendadak tak punya empu setelah Siak menyatakan bergabung dengan NKRI, langsung jadi sasaran jarahan massa. Namun lambat laun, satu per satu, barang-barang istana dikembalikan. Jika pada masa sekarang ada kolektor barang antik yang mengaku punya koleksi dari Kerajaan Siak, bisa jadi itu dulunya hasil jarahan.

Sultan Syarif Kasim II kembali ke Siak pada Mei 1966 dan mangkat di Rumah Sakit Caltex Sungai Rumbai, Pekanbaru, 23 April 1968. Jenazahnya dimakamkan di pekarangan Masjid Syahabuddin. Atas jasanya kepada Republik Indonesia, pemerintah RI melalui Presiden RI BJ Habibie memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Syarif Kasim II pada 1998.

 

Makam Koto Tinggi

Makam Koto Tinggi berada tak jauh dari Istana, berjalan kaki 5 menit dari Istana ke arah barat. Di hadapannya mengalir anak sungai Siak dan terhampar taman yang diberi nama Taman Tengku Mahratu, mengambil nama Permaisuri II.

Makam utama dengan satu-satunya cungkup adalah makam Tengku Syarif Hasyim yang jadi Sultan Siak XI. Istrinya, yang juga ibunda Sultan Syarif Kasim II, Tengku Yuk Syarifah Arsah, dimakamkan di kompleks ini juga.

Makam Sultan Syarif Hasyim berada tepat di samping makam ayahnya, Sayid Syarif Kasim I yang jadi Sultan Siak X bergelar Sultan as-Sayid asy-Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin (berkuasa 1864-1889) Selain itu, dimakamkan pula kerabat istana.

Makam perempuan dapat dikenali dari nisannya yang berukir indah. Sedangkan makam laki-laki dibuat polos.

Makam Syarif Kasim II

Makam Syarif Kasim II berada di dalam pekarangan Masjid Raya Syahabuddin. Jika berjalan kaki hanya memakan waktu 10 menit dari Istana ke arah timur.

Makam Syarif Kasim II berada di tengah makam-makam lain dan ditutup kain kuning yang menggantung dari langit-langit hingga menutup sebagian makam, menyisakan 10-15 cm saja dari dasar.

Berbeda dengan Makam Koto Tinggi yang memuat banyak makam, yang dimakamkan satu lokasi dengan Sultan Syarif Kasim II hanya lima orang, yakni 1) Permaisuri I Tengku Agung; 2) Pangeran Tengku Embong, ayah Tengku Agung; 3) Tengku Temenggung, paman Sultan Syarif Kasim II; 4) Syarifah Fadlon, istri ke-4 Sultan Syarif Kasim II; dan 5) Tengku Mansoer bin Chalid yang bergelar Panglima Raja (mangkat 1991), anak sepupu Sultan Syarif Kasim II.

Makam Syarif Kasim II dan keluarga ramai dikunjungi tiap menjelang Ramadan dan pada acara Resam, yakni memperingati wafatnya Syarif Kasim II tiap 23 April. Peziarah datang untuk berzikir di makam. Perempuan yang hendak berziarah disarankan mengenakan tudung dan tidak sedang haid.

 

Masjid Syahabuddin

Menziarahi makam “satu paket” adanya dengan mengunjungi masjid Syahabuddin atau dikenal dengan sebutan Masjid Raya Siak. Arah hadapnya ke Sungai Siak dengan jarak hanya 10 meter dari sungai. Catnya berwarna kuning lancang kuning dengan aksen hijau. Cat dalam ruangnya putih beraksen hijau. Di tengah-tengah ruangan tergantung chandelier besar dan cantik.

Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Siak X Sultan Syarif Kasim I. Di masa itu, Belanda semakin banyak campur tangan dalam urusan pemerintahan dan istana di Kerajaan Siak. Apa pun yang dilakukan Sultan harus mendapat restu pihak Belanda.

Menyadari keadaan yang tak menguntungkan bagi pemerintahannya, Sultan mengalihkan perhatian ke bidang sosial dan agama dengan mendirikan masjid dan surau-surau, termasuk Masjid Syahabuddin, serta membuat mahkota kerajaan sebagai lambang Kerajaan Siak.

Sultan juga mengarahkan pemerintahannya pada perbaikan ekonomi. Perdagangan disemarakkan, perkebunan dan armada laut diaktifkan kembali.

 

 

Balai Kerapatan Tinggi

Balai Kerapatan Tinggi Siak berada persis di sebelah barat Pelabuhan Siak. Didirikan pada 1886, pada masa Sultan Siak XI Syarif Hasyim, sebagai ruang rapat besar. Sekarang bernama resmi Balairung Sri: Museum Budaya dan Sejarah Siak.

Bangunan yang menghadap Sungai Siak ini terdiri dari dua lantai. Ciri khasnya adalah tangga utama berbahan marmer yang “menjuntai” dari pintu utama di lantai dua turun makin ke bawah makin lebar. Dari luar, yang tampak di lantai 1 adalah kaki-kaki dari semen dan lantai 2 berupa bangunan kayu dengan jendela-jendela kaca yang dipuncaki kubah.

Lantai 1 Balai Kerapatan Tinggi kini difungsikan sebagai museum tapi seperti tak seserius mengelola Istana Siak. Tak banyak informasi didapat dari sini. Lemari penyimpan artefak hanya berisi satu-dua dari yang semestinya penuh. Kekosongan artefak digantikan foto-foto lama yang direproduksi dalam ukuran besar.

Balai Kerapatan Tinggi (3)
Balai Kerapatan Tinggi dengan tangga pualam menghadap Sungai Siak. (Foto: Silvia Galikano)

Lantai 2 Balai Kerapatan Tinggi menunjukkan tata letak ruang rapat dengan kursi-kursi kayu di sepanjang dinding. Singgasana Sultan berada paling utara (pintu utama ada di selatan). Foto-foto lama keluarga kerajaan dan bangunan bersejarah Siak dipasang di sepanjang teras lantai 2.

Selain foto, dipasang juga laporan hasil bumi Siak; seperti pohon kelapa ada berapa pokok per jalur, pohon pinang bisa menghasilkan berapa pikul dalam sebulan, serta berapa gantang padi didapat setiap kali panen.

Bangunan ini tercatat dua kali direhabilitasi, yakni pada 1937 oleh Pemerintah Belanda dan pada 1976/1977 oleh Sasana Budaya Jakarta. Serah terima hasil rehabilitasi kedua diresmikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Daoed Joesoef pada 18 Februari 1979.

Balai Kerapatan Tinggi pada masa dahulu
Balai Kerapatan Tinggi pada masa lalu.

***
Dimuat di DetikTravel, 1, 2, 3, 4, 5 Agustus 2015

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s