Melawan Alien lewat Video Game

20150803_MajalahDetik_192_a07

Bumi terancam dijadikan piksel oleh alien. Nasib manusia kini berada di tangan jagoan video game tahun 80-an, Sam Brenner.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Pixels
Genre: Action, Comedy, Sci-Fi
Sutradara: Chris Columbus
Skenario: Tim Herlihy, Timothy Dowling
Produksi: Sony Pictures
Pemain: Adam Sandler, Kevin James, Michelle Monaghan
Durasi: 1 jam 46 menit

Bumi diserang alien. Sasaran yang kena tembak berubah jadi serpihan piksel berwarna permen untuk kemudian runtuh jadi onggokan.

Sesudah menyerang Amerika, alien mengubah Taj Mahal di India jadi piksel-piksel, lalu runtuh. Negara-negara lain tinggal tunggu waktu jadi sasaran hingga seluruh bumi dipikselkan. Pola serangannya mirip video game arcade tahun 1980-an, khususnya Pac-Man, Centipede, dan Donkey Kong.

Sesudah serangan itu, alien mengirim pesan dengan menyamar sebagai ikon era 80-an, yakni Ronald Reagen, Tammy Faye Bakker, dan Madonna. Ihwal dari serangan itu adalah Departemen Pertahanan AS pada 1982 pernah mengirim kapsul ke luar angkasa berisi video game yang sedang tren saat itu.

Kapsul diterima alien yang menganggapnya sebagai ancaman perang dari manusia di bumi. Maka dikirimlah karakter-karakter dari game arcade tersebut dengan tujuan memenangkan dua dari tiga “permainan”, maka mereka menang.

Presiden AS (Kevin James) merekrut sahabatnya sejak kanak-kanak, Sam Brenner (Adam Sandler) yang saat remaja dulu pernah jadi juara lomba video game, untuk membantu militer. Sam kini teknisi peralatan elektronik rumah tangga dalam seragam kaus oranye.

Sam kemudian merekrut kawan cupu-nya di masa lalu yang juga penggila video game, Ludlow Lamonsoff (Josh Gad) dan Eddie “The Fire Blaster” Plant (Peter Dinklage), yang dulu mengalahkan Sam menjuarai Donkey Kong.

Ketiganya diharapkan mengerahkan kemampuan mereka mengkoordinasikan tangan dan mata mengalahka Galaga dan Centipede serta Pac-Man dan Donkey Kong untuk menyelamatkan bumi.

Berapa usia penggemar Adam Sandler? Taruhan paling aman, sama dengan usianya saat ini, 48 tahun. Petunjuk utama adalah suksesnya The Wedding Singer (1998), komedi romantis yang berlatar belakang masa ranum-ranumnya Sandler di era 1980-an.

The Wedding Singer meraup duit US$123 juta atau setara Rp1,6 triliun. Sejak itu Sandler membuat kebiasaan menyisipkan referensi nostalgia ke dalam film-filmnya, dari Grown Ups (2010) hingga That’s My Boy (2012).

Sandler memainkan peran langgangan sebagai pria yang tidak dianggap, seperti Brenner. Josh Gad berperan sebagai sahabatnya, Ludlow Lamonsoff, yang gila konspirasi dan cenderung gengges. Peter Dinklage sebagai Eddie “The Fire Blaster” Plant, juara Donkey Kong yang berbicara dalam dialek Afrika-Amerika.

Subplot cerita ini adalah hubungan Sam Brenner dengan Violet Van Patten (Michelle Monaghan) yang dia kenal saat memasang televisi di rumahnya, dan ternyata perempuan itu pejabat Departemen Pertahanan.

Pixels yang disutradarai Chris Columbus diangkat dari film pendek Prancis karya Patrick Jean, sebuah petualangan cerdas dengan keseruan dan kegembiraan dalam durasi 2 menit 34 detik. Film pendek ini bisa ditemukan di Youtube. Setelah menyaksikan versi Jean, tahulah kita mengapa yang versi 105 menit terasa berpanjang-panjang dan tidak dikembangkan.

Walau efek khususnya seru menjadikan Washington, D.C. dan London berubah jadi wahana Pac-Man raksasa, tapi skenario yang dibuat Tim Herlihy dan Timothy Dowling seperti kurang gizi. Aliennya nyaris tidak dijelaskan. Mereka hanya mengirim pesan ancaman dengan menyamar sebagai Madonna.

Secara umum, film ini KW-nya Ghostbusters (1984), bahkan hingga ke coverall dan senjata kilatnya. Tak ada eksentriknya. Cuma pengumpulan poin dengan meledakkan sasaran.

Disesalkan, sutradara Chris Columbus bertaruh serendah itu, padahal karya-karyanya dikenal selalu menyuguhkan “sesuatu”, seperti Home Alone (1990), Mrs. Doubtfire (1993), dan Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (2001).

Munculnya Ronald Reagen, Tammy Faye Bakker, dan Madonna muda yang dimanipulasi secara digital jadi bagian paling menginspirasi. Ada unsur komik yang keren dalam setiap ancamannya.

Selain itu, kita jadi tahu Kevin James ternyata punya kapasitas wibawa dengan berperan sebagai presiden walau agak terintimidasi saat adegannya bersama Fiona Shaw sebagai perdana menteri Inggris. Dinklage yang minta ganjaran menghabiskan siang dan malam bersama Martha Stewart dan Serena Williams juga merupakan ide brilian.

Sebagai sebuah perjalanan nostalgia ke budaya pop 1980-an, film ini manis dengan karakter-karakter game yang bersinar dan plotting komedi yang hangat. Namun jika disandingkan dengan franchise Fast and Furious atau Ghostbusters, Pixels sama membosankannya dengan menunggui orang lain yang sudah satu setengah jam main game Donkey Kong dan ogah gantian.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 192, 3-9 Agustus 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s