Resonansi Solid Madonna

191Lewat album ke-13, Madonna menunjukkan kematangan. Bukan dalam lirik bijaksana, melainkan ketika dia tidak salah tempat menumpahkan sumpah serapah kalimat vulgar.

Oleh Silvia Galikano

Madonna membuka tirai hidupnya, membiarkan kita menyaksikan sang bintang ternyata bisa juga terluka dan merasa rindu.

Rebel Heart yang dirilis pada Maret 2015 merupakan album studio ke-13 Madonna dalam 32 tahun. Beragam musikus dilibatkan sebagai co-writer dan co-producer, antara lain Diplo, Avicii, dan Kanye West. Juga penampilan petinju Mike Tyson serta rapper Nicki Minaj, Nas, dan Chance the Rapper.

Kritikus musik menyambut keluarnya album ini dan menyematkan beragam label pujian, seperti album paling kredibel dibanding karya-karya sebelumnya, album terbaik dalam satu dekade terakhir, album paling ambisius sejak Ray Of Light (1998), dan album paling mencerminkan kepribadian Madonna sejak Music (2000).

Dalam sebuah wawancara, Madonna pernah mengatakan judul album tersebut dipilih untuk mengekspresikan dua sisi karakternya: prajurit pemberani dan kekasih yang terluka, tema yang tumbuh alami seiring sesi penulisan dan rekaman. Madonna seakan sedang menjilati luka akibat patah hati, agaknya dengan Brahim Zaibat, sekarang 28 tahun, dulu penarinya yang dia pacari selama tiga tahun hingga 2013.

Musiknya pop yang menggabungkan sederet genre dari 1990-an, seperti house, trap, dan reggae, diperkaya dengan penggunaan gitar akustik dan paduan suara. Beberapa liriknya merupakan autobiografi, sementara yang lain berbicara tentang cinta, kisah pribadi, serta introspeksi atas kariernya.

Lagu pembukanya, Living for Love, ibarat gerakan slam-dunk yang mengingatkan kita pada lagu-lagu gospel-soul kerennya dahulu, yakni Like a Prayer dan Express Yourself. Sedangkan Ghosttown yang balada ada kemiripan dengan Live to Tell dan Crazy for You.

Ada kerja produser rekaman dalam mendukung melodi, memoles, dan memberikan kedalaman suara. Pasalnya suara Madonna tidak sekaya ini sejak soundtrack Evita. Dalam Ghosttown, suara rendahnya bahkan memiliki cengkok sejuk khas Karen Carpenter.

Di Holy Water Madonna, dengan gaya periode akhir Joan Crawford, menunjukkan siapa dia dan di mana kelasnya kepada para penyanyi muda. Begini penggalan liriknya: There’s a place you gotta go before I let you take it all/ It’s like a drug, it should be illegal/ Baby you should get down low/ And drink my precious alcohol/ You look so thirsty, I think you need it

Sisi keras Madonna menemukan fokus di Unapologetic Bitch yang menggunakan bahasa vulgar. Dia memainkan peran perempuan matang dan kaya yang mengusir seorang pemuda yang pantas kembali ke masa lalunya yang miskin. Sekali lagi, tak sulit mengaitkan ini dengan sakit hati Madonna pada Zaibat.

Skenario yang sama bergulir lewat dua lagu lainnya, HeartBreakCity dan Living for Love, walau yang terakhir ini kehilangan semangat untuk merayakan cinta yang mungkin akan datang.

Lirik Veni Vidi Vici menawarkan sebuah retrospektif karier virtual. Judul lagunya membawa kita pada penilaian kehidupan yang lebih luas, pada upayanya dulu sebagai perempuan muda yang ingin diterima dunia dan berlanjut pada tahun-tahun dengan bahasa tubuh provokatif. Pada akhirnya, Madonna menerima konsekuensinya, dan dengan penuh keberanian memunculkan karakternya sendiri dalam My Way.

Namanya adalah metafora kekuatan dan daya tahan. Itu yang membuat Madonna cukup kuat untuk mengakui di mana kelemahannya, dalam Joan Of Arc. Dia mengakui, tiap kritik membawanya pada air mata. Dalam Wash All Over Me, dia memikirkan akan lari atau mengakhiri kariernya. Tentu sulit membayangkan Madonna mengekspresikan sesuatu seperti ini sebelumnya. Dan puncaknya diceritakan dalam Rebel Heart ketika perempuan 56 tahun itu terdengar sesuai usianya.

Album yang berisi 19 track ini adalah persembahan dalam potret utuh yang paling tulus dan lembut dari sang bintang, sekaligus menandai karya paling jernih dibanding dua album terakhir, Hard Candy (2008) dan MDNA (2012). Dua album tersebut mengusung pop energetik, menjadikan keduanya paling catchy dan enak dinikmati dalam kariernya. Namun Rebel Heart menyajikan sesuatu yang lebih substansial dan matang.

Album ini adalah fondasinya bermeditasi dan dia membiarkan masa lalu menyatu dengan masa kini, membuatnya tampak manusiawi namun lebih megah.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 191, 27 Juli – 2 Agustus 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s