Senandung Sejuk Payung Teduh

20150713_MajalahDetik_189_a02

Di tengah lingkaran gedung-gedung tinggi Jakarta, kelompok musik ini menyuguhkan musik yang mendamaikan hati. Pas untuk menemani lamunan.

Oleh Silvia Galikano

“Ini lagi wajib yang saya dengarkan kalau mau jadi serigala. Serius! Kalau ada bulan, saya suka… oops,” ternyata ada bulan tepat di atas kepala, seketika terhenti bualan Is. “Gue lupa ada bulan. Sori, Bro. Eh bulan itu cewek. Sori, Jeng.”

IMG_3019
Mohammad Istiqamah Djamad. (Foto: Silvia Galikano)

Cerita Is tadi adalah tentang Setengah Lima, lagu milik Sore, yang sangat dia sukai. Terinspirasi lagu tersebut, dia membuat Menuju Senja, yang kisahnya “kelanjutan” dari Setengah Lima, dan disetujui Sore. Begini liriknya: harum mawar di taman/ menusuk hingga ke dalam sukma/ dan menjadi tumpuan rindu cinta bersama/ di sore itu menuju senja.

Is yang bernama lengkap Mohammad Istiqamah Djamad adalah vokalis sekaligus gitaris Payung Teduh yang Ahad 28 Juni 2015 tampil di Tribeca, arena terbuka di tengah Central Park Mall, Jakarta Barat dalam event Ramadan, Aku Kenyang. Hadir pula Comi Aziz Kariko (contra bass), Ivan Penwyn (guitalele), dan Alejandro Saksakame (drums & cajone).

Di tengah kepungan gedung-gedung tinggi dan beratapkan langit malam, grup band ini melantunkan lagu-lagu teduh, seteduh namanya. Dalam durasi satu jam, Is dan kawan-kawan membawakan delapan lagu dari dua album mereka, Payung Teduh (2010) dan Dunia Batas (2012).

Penonton yang umumnya berusia 20-an tahun sudah berkerumun di sekitar panggung sejak berbuka puasa, ketika panggung diisi penampil-penampil lain, bergiliran masing-masing satu jam. Dan ketika Payung Teduh muncul di panggung tepat pukul 21.00, anak-anak muda ini serempak mengisi tempat di depan panggung, duduk lesehan. Penonton di lingkaran luar duduk menjuntaikan kaki di atas tembok setinggi pinggang.

IMG_3005
Alejandro Saksakame. (Foto: Silvia Galikano)

Angin Pujaan Hujan membuka penampilan dengan suara kocokan guitalele (ukulele berdawai enam) yang dominan. Dilanjutkan Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan, lagu puitis yang disambut koor serempak dari penonton sejak awal lagu, terlebih begitu sampai chorus: Di malam hari/ menuju pagi/ sedikit cemas/ banyak rindunya.

“Itu tadi Perempuan yang Sedang dalam Pelukan,” ujar Is begitu lagu tersebut selesai. “Di Twitter sering ada yang menambahkan ‘…Orang Lain.’” Penonton tertawa mendengar banyolan tersebut.

Beberapa kali Is yang malam itu mengenakan setelan hitam-hitam mengisi jeda antarlagu dengan melempar gurauan yang kemudian dia “mentahkan” sendiri sebagai penutup, misalnya, “Garing kan? Garing kan? Gue lagi memoles untuk stand up comedy.” Atau kalimat berikut setelah dia membawakan Rahasia, “Lagu Payung Teduh malam ini sendu sekali. Mana ada yang tidak sendu? Bakatku segitu. Maaf ya.”

IMG_3031
Comi Aziz Kariko. (Foto: Silvia Galikano)

Berawal dari pemusik Teater Pagupon, biro di bawah Ikatan Keluarga Sastra Indonesia Universitas Indonesia (IKSI UI), Is dan Comi yang sering bermain musik bersama, mengisi acara-acara di kampus UI dan luar kampus, hingga resmilah Payung Teduh terbentuk pada akhir 2007. Cito bergabung pada 2008, disusul Ivan dua tahun kemudian, sehingga makin kaya eksplorasi bunyi dan penampilan panggung band ini.

Album indie pertama mereka yang dirilis pada 2010 bertajuk Payung Teduh dengan memainkan musik era 60-an berbalut keroncong dan jazz. Lirik mereka tak panjang-panjang, hanya 2-3 bait, sehingga atmosfer romantisnya terus terasa walau lagunya sudah habis. Nama Payung Teduh baru benar-benar dikenal luas setelah mengeluarkan album berikutnya, Dunia Batas (2012).

Biarkan, lagu yang terbilang jarang dibawakan, kali ini mereka nyanyikan. Apa alasan hingga jarang dinyanyikan di panggung? Cuma karena susah, ternyata. Kali ini, Is sudah melucu tanpa berniat melucu.

IMG_2990
Ivan Penwyn. (Foto: Silvia Galikano)

Berlanjut ke Berdua Saja, lagu yang didedikasikan untuk orang-orang cupu karena ingin menjaga semua baik-baik saja, tidak tercemar, tidak ternodai.

Usai Rahasia, Is memanggil Icha, perempuan berkaca mata dan berparas ayu, teman mereka nongkrong dan ngobrol, untuk duet dalam Mari Bercerita. Suara bening Icha yang bernama lengkap Rizka Amalia saling mengisi dan mengimbangi suara berat Is.

Sesungguhnya berbicara denganmu/ tentang segala hal yang bukan tentang kita/ mungkin tentang ikan paus di laut/ atau mungkin tentang bunga padi di sawah.

IMG_3054
Rizka Amalia/ Icha. (Foto: Silvia Galikano)

Jarum jam terus berputar. Terasa sangat singkat pertemuan yang cuma 60 menit itu. Penonton pun tak dapat menyembunyikan kecewanya ketika diberi tahu lagu yang sebentar lagi dibawakan adalah lagu terakhir, dengan mengeluarkan keluhan, “Yaaa….”

“Ah kamu basa-basi. Kamu bohong. Ini bulan puasa, tidak boleh bohong. Kamu sudah bosan sebenarnya kan?” Sekali lagi, Is mengeluarkan jurus banyolannya. “Minta maaf, candaan gue garing banget. Membuktikan kalau gue ngga bakat dalam hal itu.”

Penutup malam itu adalah Resah, lagu romantis yang sangat dikenal di antara lagu-lagu Payung Teduh lainnya. Pararara… pararara….

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 189, 13-19 Juli 2015

IMG_3045
Penonton yang didominasi anak muda. (Foto: Silvia Galikano)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s