Slumdog Millionaire a la Rio

189Tiga remaja pemulung mengalami petualangan menegangkan setelah menemukan dompet yang berisi petunjuk disimpannya harta curian seorang politisi busuk. Polisi korup kini mengejar mereka.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Trash
Genre: Adventure, Comedy, Crime
Sutradara: Stephen Daldry, Christian Duurvoort
Skenario: Felipe Braga, Richard Curtis
Produksi: Focus Features
Pemain: Rooney Mara, Martin Sheen, Wagner Moura
Durasi: 1 jam 55 menit

“Suka rollercoaster?” Seorang dewasa mengajukakan pertanyaan itu ke seorang remaja 14 tahun yang kepalanya ditutup karung dan kedua tangannya diikat ke belakang.

Beberapa detik kemudian, dia menyetir kesetanan: menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi, lalu membelok tajam tanpa mengurangi kecepatan, membelok lagi, mengerem mendadak, dan kemudian segera menginjak gas lagi. Si remaja terbanting-banting di jok belakang dan berkali-kali wajahnya menghantam pintu kanan dan kiri.

Si pria adalah polisi yang mengendarai mobil polisi. Si remaja, bernama Raphael (Rickson Tevez), adalah pemulung yang tinggal di daerah kumuh Rio de Janeiro. Setiap hari, Raphael bersama kawannya, Gardo (Eduardo Luis), memanjat tumpukan sampah di empat pembuangan akhir sampah, mencari botol-botol plastik untuk dijual ke pengepul.

Selesai bekerja, mereka akan pergi ke kompleks gereja untuk belajar bahasa Inggris kepada Olivia (Rooney Mara), relawan asal Amerika. Pastor Juilliard (Martin Sheen) yang doyan minum tapi baik hati menerima remaja dekil ini di gereja atau di pastoran tanpa merasa terganggu.

Temuan sebuah dompet di antara tumpukan sampah membawa Raphael, Gardo, dan seorang kawan mereka yang tinggal di gorong-gorong, Rat (Gabriel Weinstein); ke petualangan menegangkan menyelami jalan-jalan sempit Rio de Janeiro. Apa pasal?

Dompet itu berisi petunjuk di mana disembunyikannya uang dan buku catatan keuangan milik Santos (Stepan Nercessian), politikus busuk yang mencalonkan diri jadi walikota. Sedangkan petunjuk itu dibuat José Angelo (Wagner Moura), orang kepercayaan Santos, setelah berhasil mencuri buku dan seluruh uang di kediaman Santos.

Maka bertemulah politikus busuk dengan polisi korup, klop seperti panci bertemu tutupnya, memburu tiga remaja tersebut tanpa ampun.

Sutradara Stephen Daldry dan penulis skenario Richard Curtis bersama-sama melacak kejenakaan tiga remaja lugu melewati lorong-lorong dan atap-atap rumah di permukiman padat Rio de Janeiro di Trash. Duo ini bukan hanya memberi bentuk filmis dari novel yang ditulis Andy Mulligan, Trash (2010), tapi berupaya menggabungkan petualangan anak-anak dengan keberanian masyarakat Brasil.

Novel Trash pada 2010 dikeluarkan dari kompetisi buku anak-anak Blue Peter karena mengandung kekerasan dan penggunaan kata “shit”. Namun dalam medium film, Trash adalah film dewasa.

Daldry mengkontraskan gambar-gambar kampung kumuh dengan tekad penduduknya keluar dari kesuraman dan berjuang meluruskan hukum. Bahwa berbuat benar seharusnya diganjar, bukan dikejar-kejar, dan status miskin bukan halangan untuk mendapat kehidupan yang lebih baik. Orang-orang non-profesional itu menyalakan semangat juang dengan otentisitas dan antusiasme penuh.

Kehidupan yang gelap menghasilkan adegan-adegan kekerasan dan ilustrasi yang membuat bergidik, meski sepanjang film diupayakan tetap ringan.

Koreografi kinetik, para aktor yang lasak, dan kamera yang terus berjalan, menciptakan ritme yang seru. Disadari atau tidak, terkadang ingar-bingar ini menyamarkan narasi yang over-plotted dan tak perlu.

Meski demikian, kharisma anak-anak jalanan ini tetap pusat perhatian film. Mereka luar biasa menawan, sampai-sampai kehadiran Martin Sheen dan Rooney Mara layaknya figuran saja. Di sisi lain, karakter ketiganya banyak kita temui dalam tokoh kartun berikut petualangan “berlebihan” mereka.

Trash ada kemiripan dengan dua film garapan Danny Boyle, Millions (2004) dan Slumdog Millionaire (2008), yakni dalam hal menjaga mood serta meniru gaya dan tone, plus musik energik dan warna-warninya. Namun pesona Trash tetap otentik, yakni dalam meresapi arti optimisme.

Tak dimungkiri, walau waktu dan tempatnya spesifik serta berlatar belakang masalah sosial, Trash yang disampaikan dalam bahasa Portugis dan Inggris ini adalah dongeng yang ditempatkan di masa modern. Tapi mari lihat dari sudut Daldry. Trash adalah sebuah optimisme dan harapan, energi kaum muda yang dapat mengubah Brasil.

***

Dimuat di Majalah Detik edisi 189, 13-19 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s