Suguhan Tubuh Berotot Sean Penn

20150727_MajalahDetik_191(1)_a06

Seorang veteran pasukan khusus mendapat tugas khusus di Kongo yang sedang bergolak. Saat tugasnya rampung dan mengira dapat berisitirahat, dia terpaksa berurusan lagi dengan orang-orang lama. Namun kini posisi mereka bukan lagi teman.

Oleh Silvia Galikano

Judul: The Gunman
Genre: Action, Crime
Sutradara: Pierre Morel
Skenario: Don MacPherson
Produksi: Open Road Films
Pemain: Sean Penn, Idris Elba, Jasmine Trinca
Durasi: 1 jam 55 menit

Jim Terrier (Sean Penn) adalah mantan anggota pasukan khusus yang ditugaskan membersihkan jalur pacu di Kongo, bekerja sama dengan kontraktor. Itu tugas resminya.

Saat itu, tahun 2006, Kongo tengah bergolak. Ada kelompok bersenjata yang memberontak pemerintahan resmi. Ratusan ribu rakyat mengungsi di tenda-tenda penampungan. Pemberontak dan pasukan pemerintah merampas tanah rakyat untuk mencari permata dan harta lainnya, sementara rakyat mati di jalanan.

Namun Jim dan anak buahnya tampak sejahtera saja di Kongo. Pada malam hari mereka bersantai di bar reyot, sekaligus berjanji bertemu kekasihnya, Annie (Jasmine Trinca), dokter yang bekerja di klinik setempat.

Felix (Javier Bardem), yang bekerja untuk perusahaan penyewa jasa Jim dan kawan-kawan, terobsesi pada Annie. Ada setengah lusin adegan Felix menatap penuh harap ke arah Annie dan menatap Jim setajam belati.

Kelompok Jim mendapat tugas membunuh menteri pertambangan Kongo (ini pekerjaan Jim sebenarnya). Ada aturan, siapa pun yang ditugaskan jadi eksekutor, dan berhasil menembak sasaran, menit itu juga harus angkat badan meninggalkan benua Afrika. Kali ini, Felix menugaskan Jim sebagai penarik pelatuk.

Adegan melompat ke tahun 2014. Jim kembali lagi ke Republik Demokratik Kongo, bekerja di LSM bantuan kemanusiaan untuk menebus dosa masa lalu. Tugasnya menggali sumur.

Suatu hari, satu mobil berisi kelompok bersenjata muncul di tempat Jim bekerja. “Mana orang putih itu?!” salah satu dari mereka berteriak. Jelas, Jim yang dicari. Tembak-menembak pun pecah. Untuk sementara kelompok bersenjata dapat dilumpuhkan. Namun percobaan pembunuhan terhadap Jim terjadi lagi di hari lain, dua kali.

Sekali lagi Jim terbang meninggalkan Afrika untuk mencari tahu siapa yang menginginkan kematiannya. Perjalanan itu membawanya ke London, menemui ketua tim pembunuhan menteri Kongo dahulu. Dari sana, dia ke Spanyol, menemui kawan-kawan lamanya, termasuk Felix yang kini jadi pengusaha kaya di Barcelona dan terlibat dalam organisasi yang memeras negara-negara berkembang. Felix, tanpa sepengetahuan Jim, ternyata telah menikah dengan Annie.

Dengan plot standar “Tepat ketika saya mengira sudah keluar, mereka menarik saya masuk lagi!” penonton dapat mengira bagaimana plot The Gunman ini berjalan…dan berakhir. Juga dengan mudahnya menebak subplot hubungan Jim dan Annie.

Dengan musik skor menegangkan dan setting kota-kota dunia yang cantik, The Gunman mengikuti pola standar yang ringan, dialog semi-tegang dari karakter-karakter yang saling bertentangan, disusul tembakan atau adegan tarung tipikal Bourne. Jagoan kita, Jimmy, tentu saja jadi penembak terjitu dan pematah tulang terbaik.

Sutradara Pierre Morel (Taken) mungkin menduga Penn menganggap perannya kali ini sebagai momen Liam Neeson di Taken. Apa lacur, Penn lebih mirip sisi bengalnya Sly Stallone. Lihat saja, dia menghabiskan separuh film bertelanjang dada sambil sesekali melenturkan otot-ototnya. Penn tampak seperti kepala penjahat di film gangster tahun 1930-an yang dipasangkan ke tubuh karakter Stallone tahun 1980-an.

Sean Penn, yang dalam banyak sisi merupakan penerus spiritual De Niro, pada usia 54 tahun memutuskan jadi jagoan film action. Namun The Gunman jauh jika disandingkan dengan Ronin (1998) yang dibintangi De Niro.

Thriller ini terasa bertele-tele tapi sekaligus terburu-buru. Selain pemain utama, Penn juga produser dan ikut menulis skenario The Gunman, yang diangkat dari novel Prancis lama karya Jean-Patrick Manchette.

Para pemainnya overqualified untuk sekadar sebagai peran pendukung. Ray Winstone tampil menonjol sebagai mitra lama Jim. Javier Bardem sampai rela punya potongan rambut culun. Di tiga-perempat film, barulah Idris Elba menyeruak, mengambil peran penting bagi keseluruhan film. Padahal mereka semua tahu betul sedang terlibat dalam film macam apa.

Sean Penn, tak perlu dipertanyakan lagi, adalah aktor besar dari generasinya. Pada 1986, dia memukau berpasangan dengan Madonna dalam Shanghai Surprise dan bahkan mendapat Oscar untuk Best Actor di I Am Sam (2001).

Namun itu bukan berarti dia bisa membawakan film action, karena berakting dan ber-action merupakan dua latar belakang keahlian yang berbeda sama sekali. Penn tak berhasil menjerat simpati penonton. Bisa jadi ini salah satu penampilan buruknya. Padahal akan sangat seru seandainya dia jadi salah satu pemain pendukung.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 191, 27 Juli – 2 Agustus 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s