Komposisi Timur dan Barat Sinta Wullur

194 a

 
India memberi pengaruh signifikan dalam cara Sinta Wullur bermusik. Secara khusus dia membuat tribute untuk Rabindranath Tagore.

Oleh Silvia Galikano

Kekaguman sejak lama pada Rabindranath Tagore jadi alasan utama Sinta Wullur membuat komposisi piano untuk lagu karya Sang Begawan. Sinta sendiri menyanyikan tiga lagu dalam bahasa aslinya, Bengali, diiringi piano yang dimainkan Aisha Pletscher. Tiga lagu itu adalah Amar Milon Lagi, Jodi Prem Dilena Prane, dan Kar Milono Chao Birohi.
Sinta menutup sesi Tagore dengan satu puisi dalam bahasa Inggris, Samudera, yang inspirasinya dari Gitanjali, salah satu mahakarya Tagore. Piano yang dimainkan Aisha mengiringi vokal Sinta.
Sinta Wullur jadi salah satu penampil dalam rangkaian Forum World Music Salihara 2015, 5-9 Agustus 2015 di Teater Salihara, Jakarta yang menghadirkan serangkaian karya musik baru yang berangkat dari khazanah tradisi Nusantara dan dunia. Penampil lain selama lima hari itu adalah Balawan & Batuan Ethnic Fusion, Tribute to Trisutji Kamal, Suarasama, dan Malacca Ensemble.
Sinta Wullur lahir di Bandung dan tinggal di Belanda sejak 1968. Dia besar bersama repertoar-repertoar piano klasik dari jemari ibunya. Sejak 1983 dia juga menekuni gamelan Bali, gamelan Jawa, hingga lagu-lagu India. Nada-nada khas India menjadi aktivitas musikal utamanya sebagai seniman panggung di Belanda sejak 2012, tahun yang menandai mulainya Sinta menulis komposisi musik.
Ketertarikan Sinta pada lagu India bermula dari gurunya, Ton de Leeuw, komponis yang juga penyuka musik Timur dan mendalami filsafat Timur. Ketika Sinta menyodorkan ide memasukkan gamelan dalam komposisinya, de Leeuw menyarankan agar sang murid memasukkan juga musik India.
“Karena musik India lebih dalam, bahkan sama dalamnya dengan musik klasik Barat. Jadi bisa dibandingkan,” ujar Sinta usai tampil, 7 Agustus 2015.
Sinta ke India khusus untuk belajar musik dan vokal India berikut improvisasinya selama dua tahun. Dengan latar belakang sebagai pianis, dia tak menemui kesulitan dalam mempelajari komposisi musik India. Satu komposisi dia selesaikan dalam satu bulan hingga enam bulan.
Namun Sinta mendapat tantangan besar saat mendalami vokal, khususnya di bagian ornamen inti, yakni naik-turun nada yang rapat. Terlebih lagu-lagu itu dalam bahasa Bengali. Dia pun terlebih dahulu musti belajar bahasanya.
Dalam Forum World Music ini Sinta seakan-akan mengingatkan bahwa Rabindranath Tagore (1861-1941) yang dikenal sebagai penyair adalah juga penulis lebih dari 2000 lagu. Ini yang umumnya tak diketahui masyarakat di luar India. Lagu-lagu Tagore, yang dalam bahasa Bengali disebut Rabindra Sangeet, punya kekhasan gaya dan ritme. Lagu-lagu itu dicintai hingga kini.
“Di India, lagu-lagu Tagore ini diputar di mana-mana, di toko-toko, jalanan, tempat-tempat umum, sepanjang hari sepanjang malam,” ujarnya.
Selain musik India, Sinta menampilkan komposisi-komposisi yang menggabungkan musik Barat dan Timur, sesuatu yang jadi spesialisasinya, seperti tiga repertoar piano solo berikut yang dibawakan Aisha Pletscher. Bali in Blue, piano solo yang awalnya blues lalu terdengar pelog gamelan Balinya; Aqua Piano yang menampilkan gerak air, dari yang tenang, beriak, hingga tsunami; terakhir, Takita Nyeledet yang kaya akan suara gamelan Bali. Kehangatan Italia terasa lewat Promenade, solo flute oleh Andika Candra yang menghadirkan suara laut lengkap dengan burung camarnya.  
Duet Aisha di piano dan Maya Hasan di harpa berpadu dalam HUT Erasmus, komposisi yang dibuat Sinta ketika memenuhi undangan perayaan 40 tahun Erasmus Huis Jakarta, pada 2010. Jika dulu dibuat hanya untuk piano, kali ini Sinta membuat perubahan jadi komposisi piano dan harpa. Tak ada gamelan Bali, hanya ada suara kecapi bernada pelog dari harpa meningkahi akord-akord piano.
Suwali, akronim dari Sunda-Jawa-Bali yang meriah dijadikan penutup yang akrab. Flute oleh Andika Candra dan piano oleh Angelica Liviana mewakili kecapi dan suling Sunda, gamelan Jawa yang samar-samar, meriah dan kebyarnya Bali, serta burung perkutut.
Pertemuan musik Barat dan Timur di tangan Sinta Wullur terjadi tanpa saling mendominasi. Gamelan atau musik India hadir sebagai unsur tak terpisahkan dalam komposisi untuk instrumen musik Barat. Unsur musik Timur tersebut dapat ditemukan dalam ritme, struktur sistem nada, serta penggunaan sejumlah mode. Sebaliknya, struktur dan prinsip-prinsip penulisan komposisi Barat memasukkan instrumen gamelan.
Mencari teknik komposisi Barat-Timur diperlukan keakraban dengan tradisi musik keduanya. Orientasi penciptaan semacam ini menuntun Sinta pada keseriusan menekuni olah vokal dan musik tradisional Jawa, Bali, India, dimulai dari komposisi musik untuk teater berlanjut ke komposisi musik modern.

Karya-karya Sinta Wullur dipanggungkan oleh banyak kelompok orkestra, ansemble, maupun solois, di antaranya The Netherlands Ballet Orchestra, Percussion Group Den Haag, Ananda Sukarlan, hingga Duo Mares. Komposisinya hadir dalam bentuk cakram padat Ensemble Gending, Eleonore Pameijer, To be Sung, Duo Mares, dan Ensemble Multifoon.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 194, 17-23 Agustus 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s