Drama Kepepet Marvel

194 b

Sebuah mesin yang dapat mengantar manusia ke dimensi lain akhirnya rampung. Empat anak muda yang merakitnya pun siap dikirim. Apa hasilnya?

Oleh Silvia Galikano

Judul: Fantastic Four
Genre: Sci-Fi, adventure
Sutradara: Josh Trank
Skenario: Jeremy Slater, Simon Kinberg
Produksi: 20th Century Fox
Pemain: Miles Teller, Kate Mara, Michael B. Jordan
Durasi: 1 jam 46 menit

Ini bukan film action dan bukan film superhero. Fantastic Four (2015) adalah film fiksi ilmiah (science fiction, sci-fi). Itu dulu yang perlu diingat sebelum memutuskan menonton dan memasang standar yang salah, membandingkannya dengan seri yang dibuat pada 2005 dan 2007.

Di seri kali ini, kita jadi tahu bagaimana empat jagoan itu bertemu dan mendapatkan tenaga super mereka.

Bermula dari bocah sekolah dasar yang bercita-cita pergi ke dimensi lain, Reed, sudah mulai “mencicil” membuat prototipe mesin teleporter di garasi orang tuanya. Bahannya suku cadang bekas yang dikumpulkan dari mana-mana, termasuk satu komponen terakhir yang diambil dari mobil rongsok di halaman rumah Ben, kawannya sekelas. Orang tua Ben berbisnis barang rongsok.

Ben membolehkan Reed mengambilnya diam-diam, tanpa diketahui ibu dan abangnya, lalu ikut membantu menggotongnya ke rumah Reed. Ben jadi saksi pertama ketika Reed berhasil mengirimkan mobil-mobilannya ke dimensi lain yang membuat rumah bergetar hebat selama beberapa detik disusul mati lampu satu wilayah. Mobil-mobilan hilang, berganti seonggok kecil tanah coklat kering.

Persahabatan keduanya berlanjut hingga SMA. Dalam sebuah pameran ilmiah, Reed (Miles Teller) dan Ben (Jamie Bell) memamerkan mesin teleporter temuan Reed yang sudah disempurnakan ketimbang pertama kali diuji coba dulu. Mereka tunjukkan mesin itu dapat mengirim benda ke dimensi lain, tapi kali ini, si benda bisa dikembalikan lagi.

Pesawat mainan dikirim, dan sewaktu balik lagi, pesawat itu sudah tertutup selapis tipis tanah coklat kering dan kondisi satu sayap pesawat patah. Temuan ini membuat terkesan DR Franklin Storm (Reg E. Cathey) yang datang bersama putri adopsinya, Sue (Kate Mara). Bapak dan anak yang sama-sama ilmuwan itu juga tengah membuat uji coba perjalanan antardimensi, tapi mereka belum pernah berhasil mengembalikan obyek yang mereka kirim keluar.

DR Storm merekrut Reed masuk dalam timnya di Oscorp yang sedang membangun sebuah teleporter besar yang dapat mengangkut empat manusia. Baru ada Sue dalam proyek tersebut. Dr. Storm mengajak murid lamanya, Victor Von Doom (Toby Kebbell), cyber-hipster dekil bermuka masam, dan putra kandungnya yang doyan balap liar Johnny Storm (Michael B. Jordan).

Teleporter akhirnya rampung dibikin. Reed, Sue, Johnny, dan Victor pun siap mengirimkan diri mereka sendiri ke dimensi lain, planet yang diyakini akan jadi penyelamat peradaban manusia.

Marvel dan perusahaan induknya, Walt Disney, punya seni yang sempurna mengumpulkan film-film superhero. Mereka menciptakan sebuah jagad tersendiri, dan lebih penting lagi, memberi rasa petualangan yang gembira.

The Fantastic Four adalah satu dari sedikit milik Marvel yang hak ciptanya tidak dimiliki Disney. Haknya sudah dibeli Fox lebih dari 10 tahun lalu dan akan kedaluwarsa pada akhir tahun ini jika Fox tidak merilis versi filmnya. Perbedaan tone dua studio ini dapat dikenali sejak awal.

Tingkat keseriusannya lebih besar dibanding film-film Marvel-Disney dan banyak rasa yang lebih “ditebalkan” dibanding Fantastic Four 2005 & 2007. Namun cara demikian berisiko membuat film gampang tergelincir jadi membosankan

Sesi jedanya tak ada. Adegan empat pria saat sedang mabuk memutuskan menguji mesin teleporter sebenarnya kesempatan besar dijadikan komedi ringan, tapi momen ini disia-siakan. Selain itu, banyak pengulangan di detail plot.

Seperti tertulis di kalimat pertama tulisan ini, Fantastic Four bukan film action dan bukan film superhero. Tak seringan Ant-Man dan bukan yang penuh seloroh seperti The Avengers, dua film yang dimasukkan dalam genre action. Jadi siap saja kecewa jika menunggu kapan adegan saling jotos.

Fantastic Four ini reboot, yang menceritakan latar belakang karakternya saja makan waktu satu jam dari durasi 1 jam 46 menit. Satu-satunya momen pertarungan superpower terjadi pada klimaks di 15 menit terakhir.

Untunglah durasinya cuma 1 jam 46 menit. Bayangkan jika mengekor film-film superhero lain yang berdurasi hampir tiga jam dengan cara mengulur-ulur waktu memasukkan detail tak perlu.

Satu yang paling mengganggu adalah skor musiknya berisik, bunyi terus di saat seharusnya dibiarkan kosong tanpa suara, dan malah membuat film ini jadi murahan. Bandingkan dengan Gravity (2013s). Jauuuh.

Cerita di balik film ini adalah perselisihan sutradara Josh Trank dan studio, 20th Century Fox, selama proses pembuatan. Ada orang dalam yang terlibat produksi telah mengacak-acak karya Trank dengan alasan sang sutradara membuat versi dangkal Star Wars. Alhasil edit final diambil studio dan footage tambahan di-shot tanpa sepengetahuan Trank.

Belakangan Trank menulis di Twitter, “Setahun lalu saya punya yang versi fantastis dan bakal dapat ulasan bagus. Kalian mungkin tak akan pernah melihatnya. Namun demikianlah kenyataannya.”

Setidaknya, dia benar, kita tak bisa menontonnya sekarang. Tapi siapa tahu, 30 tahun lagi bisa.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 194, 17-23 Agustus 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s