Dalam Legenda Abadi Toba

197 a

Cerita rakyat dari Tano Batak punya roh baru ketika ditampilkan dalam format musikal megah. Akankah menginspirasi dipanggungkannya cerita rakyat lain?

Oleh Silvia Galikano

Toba (Anggiyatma Tobing) heran melihat koin-koin emas di daun pisang tempat dia meletakkan ikan. Ditambah lagi dengan pemunculan perempuan cantik berambut panjang.

Belakangan memang ada kejadian yang tak biasa. Setelah beberapa hari mengail tak juga mendapat ikan, akhirnya tadi pagi mata pancingnya tersangkut ke seekor ikan berwarna keemasan dan, istimewanya, berukuran besar. Tiga kali lipat ukuran ikan paling besar di danau kampungnya. Toba membawa ikan itu pulang.

Sepulang dari meminjam minyak kelapa ke tetangga, Toba terlonjak karena tak mendapati ikan di tempat tadi dia meletakkan. Alih-alih di sana ada banyak keping emas. Dan di tengah-tengah dapur tahu-tahu sudah duduk seorang perempuan.

Perempuan yang bernama Tiomasna (Cindy AFI) itu berniat tinggal bersama Toba. Toba, yang bujangan dan sedang mencari istri, menyambut tawaran Tiomasna tapi menawarkan syarat agar mereka menikah dahulu. Tiomasna pun mengiyakan dengan syarat, Toba pantang berkata kalau Tiomasna berasal dari ikan dan pantang mengatakan anak mereka kelak sebagai keturunan ikan.

Mulajadi Nabolon mengaruniai anak bernama Samosir (Imanuel Tobing) pada pasangan ini. Samosir sangat suka makan. Perutnya mampu menampung seluruh masakan ibunya. Tak jarang ayahnya pulang dari ladang tak kebagian makan, padahal sudah diingatkan ibunya bahwa ayahnya belum makan.

Pada suatu hari Samosir ditugaskan mengantar bekal untuk ayahnya di ladang. Tak tahan dia mengintip isinya, lalu terbitlah air liurnya, dan tanpa pikir panjang, bekal itu dia makan sampai ludes.

Toba meledak marah mendapati bekal makanan tak bersisa. Hanya daun kosong tanpa nasi tanpa lauk.”Dasar anak ikan!” Toba berteriak. Seketika kilat menyambar dan guntur menggelegar.

Tiomasna menyadari suaminya baru saja melanggar janji. Dia meminta Samosir lari secepat-cepatnya ke tempat tertinggi. Tiomasna pun pergi mengabaikan raungan Toba yang minta maaf.

Dari jejak kaki Tiomasna menyembur air hingga membentuk genangan. Genangan itu semakin luas, semakin luas, menenggelamkan kampung berikut isinya, hingga menjadi Danau Toba.

Di ketinggian, Samosir berteriak-teriak memanggil orangtuanya. Ia sendirian kini, berjanji akan menjaga danau serta pulau untuk mengenang ayah-ibunya.

Pasti ada yang sudah tahu cerita ini. Legenda terciptanya Danau Toba yang diceritakan dari generasi ke generasi, lewat tradisi tutur yang mengakar di Nusantara dan menghadapi tantangan hebat sejak berjayanya zaman listrik.

Dan jadi sebuah kejutan manis mendapati legenda ini bisa demikian memikat ketika ditampilkan dalam format musikal. “Janji Toba” yang disampaikan dalam bahasa Indonesia berseling bahasa Batak ini sukses mendulang pujian usai dipentaskan di Ciputra Art Preneur Theater, Jakarta, 29 Agustus 2015.

Sutradara Paulus Simangunsong mengemas cerita secara padat dengan subplot yang “menggemaskan” dan membuat narasi jadi segar.

Tengok karakter Lisda (Gita Bhebhita), tetangga Toba, yang tak ada dalam legenda terciptanya Danau Toba. Lisda digambarkan sebagai gadis berusia matang bertubuh subur yang kenes dan sering menggoda pemuda-pemuda kampung, termasuk Toba.

Gita memainkannya dengan sangat baik dan gimmick-nya mengena. Dialah bintang panggung musikal ini. Terbukti tepuk tangan penonton paling riuh saat nama Gita disebut ketika pementasan usai dan seluruh pemain berjajar di bibir panggung.

Selain Lisda, ada juga dua laki-laki kocak yang berfungsi layaknya punakawan di kesenian ketoprak, Hutur (Indro Warkop) yang tubuhnya tak henti bergetar dan Hibul (Rony Dozer). Ompu Tongam (Manahan Hutauruk) dihadirkan sebagai tetua kampung yang sering memberi isyarat akan datangnya peristiwa besar bagi warga, termasuk Toba yang disebutnya bakal dapat rezeki besar.

Paulus Simangunsong membuat pertunjukan ini dengan pondasi opera Batak yang diperkaya dengan teater Broadway serta prosesnya bersama N. Riantiarno di Teater Koma.

Dia sedang memberikan penawaran pada opera Batak, yang mati suri sejak 1980-an, agar lentur pada perkembangan zaman. Pasalnya teater akan mati ketika penonton tidak ada lagi. Ketika tontonan berjarak dengan penontonnya, saat itu juga tontonan menjadi benda aneh di tengah komunitas.

“Mau tidak mau, beradaptasi adalah cara untuk tetap bertahan. Tidak harus berubah, melainkan berkembang,” ujar Paulus seperti tertulis di buku acara.

Maka penyutradaraan, pergerakan pemain, tata cahaya, kostum, musik-lagu, tarian, dan tata rias “Janji Toba” dibuat menyesuaikan kondisi saat ini.

Viky Sianipar sang music director punya posisi sama vitalnya dengan sutradara. Dialah otak di balik lagu-lagu indah yang bukan hanya pengisi ruang kosong, melainkan ikut membentuk emosi sebuah adegan dan cerita.

Dalam durasi dua jam, 12 lagu dinyanyikan dengan iringan alat musik modern dan alat musik etnik Batak, seperti suling, hasapi, garantung, sordam, dan ogung.

Duo Paulus Simangunsong dan Viky Sianipar menghidupkan kembali legenda ribuan tahun dari bumi leluhur dengan keindahan yang kental. Setara dengan indahnya Tano Batak yang sudah tersiar ke mana-mana.

***
Dimuat di Majalah Detik, 197, 7-13 September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s