Estetika Baru Naskah Kuno

198 a

Eddy Susanto membenturkan seni dan ilmu pengetahuan secara indah. Bertumpu pada riset yang terpadu dan terstruktur dari artefak.

Oleh Silvia Galikano

Tradisi menulis sesungguhnya lekat dengan orang-orang Jawa. Aksara-bahasa Jawa yang mengalami perkembangan dan perubahan telah membentuk satu makna, bahwa perubahan itu bertalian erat dengan perubahan budaya masyarakat.

Eddy Susanto memberi pemaknaan baru atas teks melalui pameran tunggal bertajuk JavaScript pada 4-13 September 2015 di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Pameran yang dikuratori Asmudjo J. Irianto dan Suwarno Wisetrotomo ini menampilkan hasil riset Eddy Susanto selama beberapa tahun ke belakang. Selain beberapa instalasi, pameran ini didominasi 25 karya lukisan yang terdiri dari 12 karya Book of Hours dan 13 karya Ilumination of JavaScript.

JavaScript berfokus pada berbagai elemen kebudayaan lokal yang disandingkan dengan elemen kebudayaan lain. Manuskrip Arjunawiwaha (abad ke-11) karya Mpu Kanwa dari Kerajaan Kediri dipertemukan dengan The Promade karya klasik Albrecht Durer (1471-1528).

Kidung Asmarandana (awal abad ke-12) karya Mpu Dharmaja, juga dari Kerajaan Kediri, dipertemukan dengan The Conversion of St Paul karya Lambrecht Hopfer (abad ke-16). Kitab Baratayudha (awal abad ke-12) karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dipertemukan dengan The Four Horsemen of the Apocalypse (abad ke-15) karya Albrecht Durer.

Yang istimewa, setiap goresan di visual The Promade atau di The Conversion of St Paul atau di The Four Horsemen of the Apocalypse adalah rangkaian aksara Jawa berukuran sangat kecil, dari ujung ke ujung. Masing-masing berisi manuskrip sandingannya. Sebagai contoh, kalimat-kalimat dalam manuskrip Arjunawiwaha membentuk visual The Promade, dan seterusnya.

Java of Durer #2 (500 Years of Melencolia I Series) bergambar Melencolia I (1514) yang asalnya karya seniman Renaissance Jerman Albrecht Durer, oleh Eddy dibuat dari manuskrip Babad Tanah Jawa (abad ke-18) asal Kerajaan Mataram. Tak heran jika satu karya berukuran 300×200 cm ini saja butuh waktu enam bulan untuk menyelesaikannya.

Eddy bukan hanya membandingkan kebudayaan berdasarkan perbedaan lokasi saja (Barat dan Timur/ Jawa), tapi juga berdasarkan dimensi waktu (masa lalu dan masa kini), pola produksi (saintifik/teknologi dan religius), dan karakter visual (teks dan pictorial). Dia mendasarkan karya-karyanya lewat riset di perpustakaan-perpustakaan di Yogyakarta dan Perpustakaan Nasional di Jakarta.

Bergelut di bidang desain grafis sejak 1994, sebelum akhirnya masuk ke seni murni pada 2007, membuat cara kerjanya berbeda dibanding seniman-seniman lain yang memberi porsi lebih pada ide. Seluruh karya alumnus ISI Yogyakarta ini berangkat dari riset, lantas dibuat dialog. Inilah yang kemudian dipelihara dan jadi ide.

Karya Ilumination of JavaScript (html ditransliterasi ke aksara Jawa) menampilkan website-website yang rating-nya paling tinggi, termasuk di dalamnya Facebook, Twitter, dan Yahoo. Eddy mengetengahkan “pun” (permainan kemiripan kata) antara javascript (bahasa pemrograman komputer) dengan aksara Jawa (Javanese text).

Aksara-bahasa Jawa sebagai sebuah sistem tanda memiliki kaidah dan praktik bertutur dalam bahasa. Dalam paradigma ini karya illuminaton of JavaScript menampilkan korelasi kontemporer atas pelbagai portal website terkenal di dunia. “Java html punya pola pikir yang sama dengan JavaScript saat diciptakan,” ujar Eddy.

Korelasi aksara-bahasa Jawa dan JavaScript lahir dari analogi pola pikir yang sama. Satu sisi berkembang dalam dunia nyata dan satu sisi berkembang dalam dunia maya, tetapi keduanya (Javanese script dan JavaScript) menyatu dalam ikatan kata yang sama “Java” dan “aksara-bahasa”.

Seluruh teks itu “dinaungi” audio dari penggalan manuskrip Negarakertagama (abad ke-14) yang dibawakan Bu Yati, sinden dari Tamansari, Yogyakarta. Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca dari Kerajaan Majapahit adalah catatan harian zaman Hayam Wuruk yang jadi regalia suci dan hanya boleh dibaca raja-raja.

Ada cerita menarik tentang Bu Yati. Dia menolak disewakan studio musik untuk merekam suaranya guna keperluan pameran ini. Malu, alasannya. Akhirnya, Eddy meminjamkan ponsel Samsung seri lama untuk dibawa Bu Yati pulang. Lewat medium ponsel, sinden kampung yang namanya tak dikenal ini menembangkan penggalan Negarakertagama selama 3 menit-an.

Sinden disosokkan pula dalam bentuk patung perempuan mengenakan kemben, bersanggul, dan bersimpuh di hadapan mik dengan judul karya Hymns of Dystopia. Sinden ini dilindungi akar kayu winong yang permukaannya dipenuhi teks Serat Kalatida (abad ke-19) karya Ronggowarsito dari Kasunanan Surakarta yang berisi tentang bagaimana menyiasati zaman.

Kayu winong, yang kerap digunakan sebagai medium komunikasi dengan roh halus, dipercaya sebagai tempat bersemayamnya roh dan sebagai penolak bala. Hymns of Dystopia diletakkan tepat di depan pintu, sebagai pelindung sekaligus pengantar ke karya-karya Eddy selanjutnya.

Menurut kurator Suwarno Wisetrotomo, Eddy berhasil menemukan persilangan sekaligus relasi pengetahuan antara empat arah mata angin dengan kebudayaan Jawa sebagai titik pusatnya, segaris dengan kosmogani agama Hindu Kiblat Papat Limo Pancer. Manuskrip-manuskrip Jawa dalam bentuk babad, kakawin, kidung, serat, atau suluk yang diposisikan sedemikian penting oleh masyarakat Jawa, jadi sumber pengetahuan dan panduan meniti kehidupan.

Karya-karya Eddy Susanto memancarkan watak historisnya dengan kuat, sekaligus mendorong kesadaran terhadap identitas. Dia menunjukkan Indonesia punya sejarah panjang dan kisah sukses yang tertera dalam sejumlah artefak berbentuk manuskrip dan benda-benda lain. Pemahaman, pemaknaan, dan pembacaan yang belum banyak dilakukan, mengakibatkan sumber-sumber historis itu sebelumnya seperti mengalami pembekuan.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 198, 14-20 September 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s