Indonesia Meniti Garis

196 b

Bukan sekadar plesetan dari falsafah masyarakat Minangkabau, “alam terkembang jadi guru”. Body Dharma ingin menukik pada penjabaran atas nilai abstrak.

Oleh Silvia Galikano

Di manakah rumah kehidupan berdiam? Pertanyaan ini menghampar begitu saja pada selembar tikar. Layaknya kepulangan yang selalu dijenguk saban waktu.

Rumah juga bisa bermakna sebuah tempat kita dapat duduk bersila dan bertengkar sambil melingkar, mendudukkan persoalan, membicarakan nasib dan harapan. Bahkan tempat meraih impian akan kedamaian, kemakmuran, dan keadilan lewat musyawarah dan mufakat.

Tradisi, sebagaimana telah ditahbiskan sebagai ibu dari kebudayaan tentu perlu dijenguk untuk dijadikan rujukan dalam menjalani kehidupan. Dengan dasar itulah lebih dari 70 sketsa Body Dharma dipamerkan di Rumah Adat Melayu Anjungan Sumatera Utara, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), 23-30 Agustus 2015 dalam tajuk Alam Terkembang jadi Garis.

Sketsa hitam-putih rumah-rumah adat di berbagai anjungan TMII yang mendominasi. Selebihnya, tarian dan upacara yang digelar di TMII, serta sketsa hasil perjalanannya ke berbagai kota.

Seperti rumah adat di Anjungan Sumatera Barat, di Anjungan Bali, serta Rumah Raja di Anjungan Nusatenggara Barat. Di bagian lain ada tarian daerah Karo, rumah panggung di atas sungai di Tanjung Jabung, Jambi, peternakan kuda di Sumba, serta tari piring dari Sumatera Barat yang dibawakan ketika panen tiba.

Di antara sketsa-sketsa yang berdiri sendiri (satu sketsa dalam satu bingkai), ada pula dua sketsa satu tema yang disandingkan dalam satu bingkai. Ambil contoh dua jenis rumah adat Betawi di Anjungan DKI Jakarta serta dua jenis rumah adat di Anjungan Jawa Barat.

Body Dharma adalah satu dari sedikit perupa Indonesia yang konsisten menekuni seni sketsa selama lebih dari 40 tahun. Setelah tidak jadi guru lagi di INS Kayutanam, Padangpanjang, Body melakukan ziarah budaya dan berpameran di berbagai kota di Indonesia dan Australia. Ratusan karya sketsanya sudah terhimpun dalam empat buku, yakni Nagari Silungkang dalam Sketsa, Getah Susu yang Membawa Berkah, Sawahlunto dalam Irama Garis, dan Album Minangkabau.

Dipilihnya tajuk Alam Terkembang jadi Garis bukan sekadar plesetan dari falsafah masyarakat Minangkabau, “alam terkembang jadi guru”, melainkan dia ingin menukik pada penjabaran atas nilai abstrak.

“Garis, dalam bahasa Minangkabau, artinya ukuran. ‘Yang ada di garis yang dipahat’ artinya harus mengikuti garis. Garis berarti hukum, undang-undang, norma,” ujar kurator pameran Irman Syah.

Alam Terkembang jadi Garis adalah penghormatan untuk perjalanan kesetiaan, kebersahajaan, dan kejujuran. Pameran ini juga wujudnya merayakan semangat keindonesiaan. Dari alam, sang guru, bertolak dan merujuknya kearifan.

Tradisi adalah tonggak pengingat tentang pentingnya dapur kehidupan. Filosofi tua “dalihan na tolu” di masyarakat Batak, “tungku tigo sajarangan” di Minangkabau, atau “satu tungku tiga batu” di NTT dan Fakfak adalah juga nilai kebangsaan.

Pameran ini pun pendahuluan bagi penciptaan buku Indonesia dalam Goresan Sketsa: Alam Terkembang jadi Garis dengan melakukan perjalanan kebudayaan ke seluruh Indonesia. Di daerah setempat, Body akan mengajak anak muda terlibat membuat sketsa, lalu dipamerkan dan dibukukan dengan judul Pemuda Indonesia dalam Goresan.

Apa pasal Body menempuh “jalan panjang” macam ini? Tak lain karena dia menangkap Indonesia tengah menghadapi bencana fisik yang silih berganti serta nilai kebangsaan yang kian hari kian luntur.

Bahasa tak lagi bernyawa, kata-kata cuma memperkeruh keadaan, bukan memberi napas hidup pada yang lain. Harapan ada di kesenian, salah satu dari bahasa kebudayaan, yang akan lebih mampu menyentuh ceruk jiwa manusia untuk sadar akan kebangsaan yang mengakar di negeri yang kaya ini.

Melalui sketsa dari peristiwa kehidupan tradisi, seni, dan kebudayaan yang ditemukan dalam keseharian masyarakat, diharapkan mampu menjadi cermin yang memunculkan semangat baru dalam menyikapi lajunya kenyataan. Pandangan dan kerja kreatif semacam ini akan membangun gairah banyak kalangan dalam mengkaji-ulang, untuk kemudian menempatkan tradisi, seni, dan budaya pada ranah yang semestinya.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 196, 31 Agustus – 6 September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s