Karya Nyeleneh Sang Komedian

197 b

Dulu, setiap kali Indra Birowo muncul, semua tertawa. Kini, komedian jempolan itu membuat film tentang psikopat. Penasaran?

Oleh Silvia Galikano

Judul: Lily Bunga Terakhirku
Genre: psycological thriller
Sutradara: Indra Birowo
Skenario: Priesnanda Dwi Satria, Ilya Sigma
Produksi: 700 Pictures
Produser: Ninin Musa
Pemain: Baim Wong, Salvita Decorte, Wulan Guritno, Tanta Ginting, Adul, Verdi Solaeman, Mike Lucock
Durasi: 87 menit

Jangan terkecoh dengan judul yang mirip drama cinta garing. Jangan juga terpengaruh dengan poster yang standar, sestandar-standarnya film Indonesia. Indra Birowo punya kado bagus untuk penonton film Indonesia.

Bercerita tentang Tura yang hidupnya berhenti saat menyaksikan ibunya tewas usai diperkosa dua lelaki yang menyusup ke rumah. Dia masih bocah kala itu, tak dapat melakukan apa-apa selain bersembunyi dan menahan supaya tangisnya tak bersuara. Setelah dua lelaki itu pergi, seorang diri Tura menguburkan ibunya di halaman rumah.

Hingga dewasa, Tura (Baim Wong) tetap tinggal di rumah pegunungan itu, mengurus kebun bunga warisan ibunya dan menjualnya dalam bentuk karangan bunga. Salah satu pelanggan adalah Bunda (Wulan Guritno) yang mengelola usaha prostitusi kelas atas di sebuah rumah mewah. Tura sendiri yang mengantar bunga-bunganya.

Setiap bunga datang, Bunda akan memilihkan satu kuntum lily untuk disematkan di dada Lily (Salvita Decorte), salah seorang “anak”-nya yang juga primadona di kalangan pelanggan. Namun pada kedatangan Tura yang kesekian kali, Lily ingin Tura-lah yang memilih dan menyematkan bunga lily di dadanya.

Tura, yang terus dibayang-bayangi trauma masa lalu, masih belum berdamai dengan keadaan. Dia tak henti menyalahkan dirinya yang tak berbuat apa-apa ketika sang ibu sedang sangat butuh bantuan.

Tura menempuh jalan sendiri dan rahasia: dia meringkus tiap ada pemerkosa yang buron. lalu dibawa ke gudang di belakang rumah. Dan dalam keadaan babak belur dan tubuh terikat ke brankar, pemerkosa itu dicekoki ramuan maut bunga terompet, lalu brankar didorong ke dalam kamar gas. Api pun dinyalakan. Whussss.

Abu jenazah dikumpulkan, dipakai sebagai pupuk, sebagaimana ibunya pernah mengajarkan pupuk terbaik adalah benda yang pernah hidup. Pemerkosa yang buron lenyap sudah, berubah wujud jadi bunga-bunga yang cantik dan subur.

Lily mendapat klien orang penting (Tanta Ginting) yang, menurut Bunda, sangat menentukan masa depan bisnisnya. Dia memperlakukan Lily dengan sangat kasar, bahkan memperkosanya. Namun Bunda tak mau merisikokan bisnisnya, dan meminta Lily kembali ke kamar untuk melayani klien penting ini.

Kedekatan Lily dan Tura seperti ruas bertemu buku. Mereka sama-sama merasa menemukan jalan keluar atas masalah mereka pada diri orang di hadapannya.

Debut Indra Birowo sebagai sutradara film layar lebar patut dipujikan. Indra keluar dari stereotipe yang menempel pada nama besarnya sebagai komedian untuk membuat film “nyeleneh” yang bergenre psycological thriller.

Plot dan visualnya terasa sekali seperti film-film Eropa yang “tak banyak tingkah”, hanya fokus di cerita dan menciptakan karakter yang kuat. Tengok saja setnya yang cuma dua, di rumah Tura dan di rumah Bunda. Karakter utamanya juga tiga itu saja, Tura, Lily, dan Bunda.

Namun penonton akan dibuat betah duduk hingga film habis tanpa merasa bosan. Dialognya diperhatikan benar kecuali satu-dua yang lolos, seperti kebiasaan Baim Wong bilang “ya?” tiap jeda kalimat.

Bahkan panggilan “bunda” untuk karakter yang dimainkan Wulan Guritno juga sudah dipertimbangkan masak-masak, bukan sekadar ingin beda dari profesi germo lain yang identik dengan sapaan “mami”.

Indra diuntungkan karena didukung pemain yang punya wawasan akting bagus, sehingga ketika disodori peran bisa dengan mudah dicerna, mudah untuk pengembangan karakter, dan improvisasi tidak lari ke mana-mana. Chemistry antarpemain pun kuat terasa.

Baim Wong yang biasanya berperan sebagai tokoh protagonis yang lembut, romantis, dan relijius, kini membuktikan mampu bermain sebagai psikopat. Dari sosok penyayang yang lembut seketika berubah jadi obsesif dan kejam.

Salvita Decorte yang berlatar belakang model, di sini berperan sebagai penjaja seks kelas atas yang memberontak ingin lepas dari pekerjaan itu. Di antara gelontoran film drama percintaan ala FTV, religi (padahal ujung-ujungnya drama percintaan juga), dan komedi, film ini menawarkan racikan yang beda. Sedap.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 197, 7-13 September 2015

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s