Satu Napas Panglima Besar

196 aLewat taktik Perang Gerilya, Soedirman menjadikan Jawa sebagai medan perang gerilya yang uas. Belanda pun kehabisan logistik dan waktu.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Jenderal Soedirman
Sutradara: Viva Westi
Produser: Handi Ilfat Ibrahim, Sekar Ayu Asmara, M. Nolizam, Ratna Syahnakri
Produser eksekutif: Kiki Syahnakri
Produksi: Mabes AD, Yayasan Kartika Eka Paksi, Persatuan Purnawirawan AD, Padma Pictures
Pemain: Adipati Dolken, Ibnu Jamil, Surawan Prihatnolo, Abdus Samad, Anto Galon, Angga Riyadi, Annisa Hertami, Nugie, Landung Simatupang, Baim Wong, Mathias Muchus

Belanda, secara sepihak, menyatakan sudah tidak terikat dengan perjanjian Renville (1947), sekaligus menyatakan gencatan senjata berakhir. Lalu di bawah pimpinan Panglima Tentara Belanda Jenderal Simons Spoor, Belanda menyerang ibukota RI Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Agresi Militer II.

Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan tokoh-tokoh lainnya ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Maka dibentuklah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi dipimpin Sjafruddin Prawiranegara.

Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Soedirman (Adipati Dolken) memimpin perang gerilya ke arah selatan Yogyakarta. Dengan hanya satu paru-paru, Soedirman dan pasukannya yang hanya berjumlah 12 orang menempuh perjalanan 1000 kilometer selama tujuh bulan. Naik turun gunung, keluar masuk gua, menumpang di rumah warga desa, dan tak jarang penduduk pasang badan sebagai tameng dan mata-mata.

Dan ketika Belanda menyatakan Indonesia sudah tidak ada, dari dalam hutan, Jenderal Soedirman menyiarkan bahwa Republik Indonesia masih ada, kokoh berdiri bersama Tentara Nasionalnya yang kuat.

Soedirman membuat Jawa jadi medan perang gerilya yang luas serta menjadikan Belanda kehabisan logistik dan waktu. Bersatunya TNI dan rakyatlah yang akhirnya memenangkan perang. Dengan ditandatangani Perjanjian Roem-Royen, Kerajaan Belanda mengakui kedaulatan RI seutuhnya.

Jenderal Soedirman, walau hampir seluruh kota di Indonesia menggunakan namanya untuk nama jalan protokol, namun jasanya untuk Republik tak luas diketahui, perang gerilya macam apa yang dia pimpin, dan bagaimana bisa gerilya cuma berbekal 12 orang.

Berangkat dari hal-hal inilah Viva Westi menggarap film Jenderal Sudirman dengan memaparkan bagaimana ketokohan Sang Jenderal yang jujur, penuh integritas, dan sangat cinta Indonesia.

Adegan pembukanya adalah bagian yang tak banyak diketahui, yakni Soedirman merupakan panglima besar pertama TNI yang pemilihannya dilakukan lewat demokrasi, pemungutan suara. Sang Jenderal juga mendukung penuh kemerdekaan 100 persen lepas dari bentuk penjajahan apapun, tapi tak hendak menempuh cara Tan Malaka (Mathias Muchus) yang terlalu keras.

“Tanpa perang gerilya mungkin kemerdekaan Indonesia tidak akan pernah seperti sekarang, karena pada masa itu semua pemimpin Indonesia sudah ditangkap Belanda. Hanya perang gerilya yang dipimpin Jenderal Soedirman-lah yang masih berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia masih ada dan melawan,” ujar Westi.

Dimulai dari riset selama setahun melalui berbagai sumber sejarah, mewawancarai narasumber, dan studi pustaka, termasuk di dalamnya buku Doorstoot naar Djokja: Pertikaian Pemimpin Sipil Militer yang ditulis Julius Pour. Dukungan dana pun didapat dari Letnan Jenderal (Purn) Kiki Syahnakri yang pernah menjabat Wakil Kepala Staf TNI AD (Wakasad).

Dalam syuting selama 45 hari di Jawa Tengah, Yogya, Bandung, Batujajar, dan Situ Lembang, 200 kru dan personil TNI AD dilibatkan. TNI AD membantu persenjataan, membuat adegan ledakan, serta ikut berperan sebagai aktor-prajurit dalam film.

Namun Westi luput di beberapa hal. Tak ada pengantar tertulis apa pun di awal film yang menjelaskan kondisi Indonesia saat itu. Anak muda yang tak punya banyak perhatian pada sejarah akan menganggap bangunan megah tempat Bung Karno (Baim Wong) dan Bung Hatta (Nugie) berdialog itu Istana Merdeka di Jakarta, bukan Gedung Agung di Yogyakarta.

Rute gerilya Pak Dirman yang selama tujuh bulan pun tak dibuatkan petanya. Apa susahnya menunjukkan sudah sampai mana perjalanan belasan laki-laki yang kepayahan dengan ransum terbatas itu? Alih-alih, penonton hanya disodorkan Pak Dirman yang terengah-engah, pasukan yang berisik, dramatisasi cara tewasnya pasukan meniru-niru Hollywood tapi malah konyol.

Lebih penting lagi, mengapa Soedirman gerilya? Targetnya apa? Tujuannya ke mana? Tak dijelaskan. Alhasil yang tampak adalah unit kecil yang melarikan diri asal jangan sampai ketahuan Belanda.

Usai pemutaran film untuk wartawan, Senin 24 Agustus 2015, Westi menjelaskan film sejarah ini sengaja tidak dibuat berat, melainkan menekankan pada hiburan, membangun ketegangan, keseriusan, serta dibumbui kelucuan.

Membuat film menjadi “jelas” berbeda dengan membuat film menjadi “berat”. Gerilya yang bagaimana yang menguras tenaga Belanda, kita tidak tahu.

Bandingkan dengan film-film berlatar belakang perjuangan Viet Cong melawan Amerika yang kengeriannya tergambarkan nyata, serta betapa jelasnya Viet Cong menguasai tiap lekuk bumi yang mereka pijak. Bagaimana dengan Jenderal Soedirman? Hanya lewat suara Soedirman dengan visual pasukan sedang naik gunung.

Membuat film sejarah yang enak ditonton masih jadi pekerjaan rumah besar bagi sineas kita. Mungkin sama besarnya dengan membuat pelajaran sejarah di sekolah-sekolah jadi menarik. Hanya guru-guru tertentu yang diberkahi kemampuan tersebut, dan hanya satu-dua sineas Indonesia yang mau capek-capek dan habis-habisan menggali kemampuannya demi sebuah film sejarah yang berkualitas.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 196, 31 Agustus – 6 September 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s