Srihadi Melintas Zaman

99

Maestro lukis ini “selamat” melewati dua kutub magnet seni rupa paling kuat di masanya. Respek yang demikian tinggi dia berikan pada Ali Sadikin yang pernah menyita karya lukisnya.

Oleh Silvia Galikano

Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (periode 1966-1977) pernah berang pada Srihadi (74 tahun). Lukisan berjudul Air Mancar (1973) sudah digantung di Paviliun DKI di TMII untuk pameran bertema “Jakarta” yang akan diresmikan Presiden Soeharto petang harinya.

Ali Sadikin merasa tersinggung begitu melihat lukisan itu, mempertanyakan bagaimana image Jakarta sebagai ibukota demikian semrawut. Apalagi waktu itu mendekati datangnya Perdana Menteri Jepang Tanaka yang akan mengadakan kerja sama ekonomi dengan Indonesia.

Bang Ali ingin Srihadi menggambarkan Jakarta yang bagus, bersih, bukan yang penuh spanduk bertuliskan merk-merk Jepang, meski demikianlah adanya saat itu. Reklame Jepang terpasang di mana-mana: di gedung tertinggi, di Hotel Indonesia (HI), di depan air mancur HI. Semua merek produksi Jepang ada. Tanaka berada di Jakarta pada 14-17 Januari 1974 yang memicu peristiwa Malari.

Pelukis Srihadi Soedarsono menuturkan peristiwa penting di karier melukisnya itu dalam Ceramah Salihara: Saya dan Seni Lukis Indonesia di Teater Salihara, 15 September 2015. Selama dua jam, maestro pelukis Indonesia itu bercerita tentang awal mula dia melukis, dunia tentara yang pernah beberapa waktu dia geluti, perkenalannya dengan Sudjojono, serta bagaimana dia menyikapi gonjang-ganjing dunia seni rupa.

Ada banyak cerita yang belum pernah terungkap, termasuk karya yang tersembunyi dari arus utama seni rupa Indonesia, misalnya karya yang dibuat semasa revolusi kemerdekaan. Srihadi juga dikenal sangat jarang bicara kepada publik, termasuk ke murid-muridnya di ITB.

Srihadi Soedarsono, kelahiran Solo, 4 Desember 1931, sejak usia dini suka menggambar. Saat jadi pelajar, dia bergabung dalam Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) bagian Pertahanan pada 1945 dengan tugas membuat poster, grafiti, menulis slogan yang mengobarkan semangat juang di dinding-dinding besar dalam kota dan gerbong-gerbong kereta api.

Lalu masuk sebagai staf Penerangan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Penerangan Tentara Divisi IV TNI di Solo. Kegiatannya membuat brosur militer dan menggambar sketsa peristiwa penting untuk dokumentasi karena saat itu tidak ada kamera.

Pada 1946, dia bergabung dengan Seniman Indonesia Muda (SIM) di Solo dan belajar dengan pelukis-pelukis perintis seni lukis Indonesia, seperti Sudjojono dan Affandi. Sewaktu bergabung dengan Kementerian Urusan Pemuda Republik Indonesia yang berlokasi di Sekolah Taman Siswa Yogyakarta, Srihadi juga berada di sana bersama Sudjojono untuk menegakkan perjuangan Indonesia melalui seni rupa.

Belanda ditarik dari Indonesia pada Desember 1949. Alih-alih meneruskan bekerja di ketentaraan, Srihadi memilih meneruskan sekolah yang sebelumnya pernah terhenti, dan menerima beasiswa. Dia bersekolah di SMAN 1 Margoyudan, tamat 1952.

Cerita tentang Gubernur Ali di awal tulisan ini tak pelak jadi salah satu milestone hidupnya. Lukisan Air Mancar disita setelah Bang Ali mengadakan penertiban. Sampai bertahun-tahun kemudian, Srihadi tak tahu bagaimana nasib Air Mancar.

Keinginan untuk mengetahui nasib lukisan itu dan mengkoleksinya muncul lagi sewaktu proses pembuatan buku Srihadi Soedarsono: The Path of The Soul (2003) yang ditulis Jean Couteau. Pencariannya sampai ke “Pak Tom”, mantan Kepala Dinas Tata Kota DKI Jakarta yang kini (saat Srihadi mencari) jadi dosen di Universitas Trisakti, Jakarta.

Ternyata Pak Tom yang menyelamatkan lukisan itu dari gudang Balaikota, dibawa ke kediamannya di Slipi, Jakarta Barat. Srihadi mendapatkan kembali lukisan itu dalam keadaan bersih dan tidak sobek, hanya ada tambahan coretan dan tanda tangan Ali Sadikin.

Mau tahu apa yang ditulis Bang Ali? “Apa ini”, “Sontoloyo”, “Reklame barang Jepang” dalam huruf besar berderet di tepi atas lukisan. Di bawah kata-kata itu Bang Ali membubuhkan tanda tangannya. Mungkin, baru kali inilah di seluruh dunia, ada lukisan yang berisi dua tanda tangan.

Istri Srihadi, Sitti Farida, yang pada setengah acara duduk mendampingi suaminya, menambahkan, setelah itu secara resmi Ali Sadikin minta maaf dan mengembalikan Air Mancar. Srihadi juga menandatangani surat bahwa sesudah ini tidak lagi mempermasalahkan peristiwa tersebut.

“Kami terima. Beliau mengatakan, ‘All the best, Pak Srihadi.’ Kami sangat berterima kasih dengan pandangan Pak Ali. Beliau bergembira, bersemangat, menepuk-nepuk pundak Pak Srihadi,” tutur Farida.

Setelah itu, Srihadi diberi kesempatan membuat mural berjudul Jayakarta (1975) yang berukuran 3×12 meter. Karya itu sekarang ada di lantai 22 gedung Balai Kota DKI. “Saya respek pada beliau sebagai pemimpin, karena belum pernah ada pemimpin di Indonesia ini yang minta maaf kalau bersalah,” kata Srihadi.

Milestone lain adalah pertentangan “kuno” Mazhab Bandung dan Mazhab Yogya yang pernah sengit pada 1950-1965. Demikian sengitnya, sampai-sampai terlontar kalimat keras Sudjojono yang dari Mazhab Yogya ke Srihadi yang dicap dari Mazhab Bandung, pada 1955, “Yo asal ojo mangan taine Mulder.”

Mazhab Yogya diwakili ASRI Yogyakarta, sedangkan Mazhab Bandung dari Fakultas Teknik UI di Bandung. Selepas SMA, Srihadi melanjutkan kuliah di Balai Pendidikan Universiter Guru Seni Rupa Fakultas Teknik UI yang untuk sementara berkedudukan di Fakultet Teknik Bandung (belum jadi ITB).

Dia tidak memilih kuliah di ASRI Yogyakarta karena sudah mengenal para tenaga pengajarnya saat dulu remaja aktif di sanggar di Yogya dan Solo. Di SIM, Srihadi mengalami Mazhab Yogya malah dari tangan pertama, Sudjojono dan Affandi. Alasan lain, dia ingin belajar hal baru di Bandung.

Pengajar FT-UI didatangkan dari Belanda, di antaranya M.N. (Ries) Mulder, J. P. Zeijlemaker, P. Pijper, J. Franz, J.M. Hopman, Bernet Kempers, dan satu-satunya orang Indonesia adalah Syafei Soemardja yang mengetuai bagian Seni Rupa.

Ries Mulder dalam kuliah Seni Abstrak dan Kubisme mengajarkan kubisme dengan spirit keterbukaan dan bersifat universal, hal yang mengesankan Srihadi.

Para kritikus dan budayawanlah yang memunculkan sentimen Mazhab Yogya dan Mazhab Bandung lewat komentar atau artikel di koran dan majalah pada 1950-1965. Tidak hanya dalam seni rupa, tapi juga terhadap seni musik. Yang ramai dipersoalkan adalah “keindonesiaan” yang terdapat dalam lukisan atau karya-karya seni pada umumya. Sederhananya, karya seni Mazhab Bandung yang lekat dengan kubisme dicap mengabdi pada Barat.

Sejak perpisahan Srihadi dengan Sudjojono di Yogya pada 1949, baru enam tahun kemudian keduanya berjumpa lagi, yakni dalam pameran yang berkaitan dengan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung. Saat itu Sudjojono sebagai juri bersama Affandi, Hendra Gunawan, Kusnadi, Henk Ngantung, dan Basuki Resbowo.

Begitu melihat karya Srihadi yang berjudul Gugur dengan gaya kubisme, Sudjojono bertanya apakah Srihadi masih di Seni Rupa Bandung. Demikian marahnya Sudjojono hingga terlontar kalimat “taine Mulder” itu.

Hubungan keduanya baik kembali ketika pada 1985 Sudjojono dan Srihadi jadi pembicara Sarasehan dan Pameran Seni Rupa ’85 di Solo. Srihadi kemudian juga berkunjung ke studio Sudjojono di Pasar Minggu.

“Semuanya saya terima dengan kesabaran. Saya memahami Soedojono saat itu memang sangat tidak suka dengan aliran yang saya pergunakan, yakni kubisme, dan yang saya dapat dari senirupa Bandung, walau bukan hanya itu yang saya terima,” ujar Srihadi.

Seiring waktu, pada awal 1970-an, perkembangan dua insitusi seni rupa (Yogya-Bandung) juga semakin membaik. Pameran bersama juga kerap diadakan. Srihadi Soedarsono pensiun sebagai pegawai negeri sipil pada 1997 dan terus berkreasi hingga hari ini.

Kerjanya tetap disiplin. Tiap pukul 7 pagi sudah masuk studio di belakang rumahnya di Ciumbeuleuit, Bandung, tempat dia membentangkan 6-7 kanvas dan melukis secara bersamaan. Pukul 9 baru keluar studio untuk sarapan.

Tantangan zaman dijawabnya dengan senantiasa bersyukur sambil terus bermetamorfosis. Srihadi berkarya dengan kebebasan dalam mencari kepribadian dan kreatif mengembangkan dimensi seni rupa.

Niat dijalankan dengan antusias, pengabdian, meningkatkan kualitas, juga kebaikan untuk sesama. Tubuh dan pikiran hanyalah alat dari ruh untuk berkreasi. Maka kenali suara dan getaran-Nya. Memayu hayuning bawana.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 199, 21-27 September 2015

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s