Dalam Lena Rayuan Basoeki Abdullah

200b

Anggapan sinis sepanjang hidupnya tak pernah berakhir. Pelukis salon, penganut mooi indies, kebarat-baratan, mata keranjang, playboy, dan perayu perempuan.

Oleh Silvia Galikano

Basoeki Abdullah pemilih dan perfeksionis, bukan sombong dan elitis. Dia terlalu tinggi bagi kalangan yang tak memungkinkan dekat dengan diri dan dunianya. Untuk melihat pamerannya saja harus bayar, sesuatu yang di luar kebiasaan di Indonesia, dulu hingga sekarang.

Untitled-5Tahun ini genap 100 tahun kelahiran mendiang pelukis Basoeki Abdullah. Lahir di Solo, 27 Januari 1915 dari ayah R. Abdullah Surjosubroto dan ibu Ngadisah. Perayaannya di Museum Nasional Jakarta, 21-30 September 2015, bertajuk “Rayuan: 100 Tahun Basoeki Abdullah” dengan gelaran utama pameran 40 lukisan Basoeki Abdullah bertema potret, pemandangan alam, mitologi, dan keperempuanan. Pameran yang diorganisasi Museum Basoeki Abdullah ini dikuratori Mikke Susanto dan Bambang Asrini Wijanarko.

Empat puluh lukisan yang dipamerkan merupakan koleksi Museum Basoeki Abdullah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Galeri Nasional Indonesia, Museum Seni Rupa dan Keramik, Cemara 6 Gallery, dan kolektor individu. Sejumlah lukisan milik Istana Presiden RI hanya ditampilkan dalam bentuk reproduksi, juga karya-karya yang berada di luar negeri.

Cucu tokoh pergerakan nasional, dr. Wahidin Sudiruhusodo ini dianggap sebagai sosok pelukis yang paling dikenal di Indonesia karena telah memberi warna dalam praktik dan wacana seni rupa modern Indonesia.

Basoeki Abdullah tumbuh dalam naungan keluarga yang moderat, terbuka dalam atmosfer intelektual (priyayi) yang kuat. Ia berada dalam lingkungan budaya Jawa yang kental sekaligus pola berpikir Barat serta tetap berpegang teguh pada spiritualitas Katolik-Jawa.

Bersama putri dari pernikahan pertamanya, Saraswati, 1942.
Bersama putri dari pernikahan pertamanya, Saraswati, 1942.

Persentuhannya dengan budaya Jawa diawali saat ia lahir, di lingkungan inti budaya Jawa, Kraton Kasunanan Solo. Ia merawatnya dengan caranya sendiri: menari, mendengarkan musik gamelan, dan melukis berbagai kisah dan kepercayaan Jawa. Basoeki Abdullah kerap menari bersama GRM. Dorojatun (Sri Sultan Hamengkubuwono IX).

Lukisan pertamanya berjudul Potret Mahatma Gandhi dengan media pensil di atas kertas yang dia bikin saat kelas 4 HIS Solo. Setamat AMS Solo, pada 1935 Basoeki belajar di Koninjlike Academie van Beeldende Kunsten, Den Haag, Belanda, lulus dua tahun kemudian. Lalu melanjutkan studi pada 1937 di Academy Fine Art di Roma dan Paris.

Pada 1937 Basoeki menikahi perempuan Belanda, Josephine (20 tahun) di Belanda, lalu kembali ke Indonesia. Setahun kemudian lahir putri pertamanya, Saraswati, di Jakarta. Setelah pernikahan mereka berakhir, Basoeki menikah dengan perempuan Belanda, Maria Michel (Maya) pada 1944, lalu berangkat kembali ke Eropa untuk berkarya di Belanda.

Bersama istri dan putrinya, Nataya Nareraat dan Sidhawati.
Bersama istri dan putrinya, Nataya Nareraat dan Sidhawati.

Pada 1959 Basoeki menikah dengan perempuan Muangthai, Somwang Noi dari Chiangmai, namun usia pernikahan ini hanya dua tahun. Perkenalanannya Nataya Nareerat yang juga dari Muangthai pada 1962 mengantarnya pada pernikahan ke-4, setahun kemudian. Basoeki pulang ke Indonesia, tinggal di Hotel Indonesia bersama Nataya. Putri mereka lahir pada 1972, Sidhawati.

Sepanjang hidupnya, Basoeki Abdullah setidaknya telah berpameran tunggal hingga 47 kali, 1933-1993 (70 tahun), tapi tak satupun menyajikan aspek-aspek yang terkait dengan kesejarahan maupun catatan dokumen untuk memberitakan kepada publik tentang bagaimana dirinya selama ini bekerja. Mungkin baru kali inilah yang pertama.

Menurut Nataya, sang istri, seperti tertulis di katalog pameran, Basoeki Abullah tidak pernah melukis di bawah sorot lampu. Dia harus melukis di bawah sinar matahari. Kalau inspirasinya muncul, misalnya malam hari, dia membuat sketsa.

Nyai Roro Kidul, 1955, Koleksi Istana Presiden RI
Nyai Roro Kidul, 1955. Koleksi Istana Presiden RI.

Proses kreatif yang dijalani adalah membuat sketsa dan melakukan pengamatan langsung di lapangan, tidak hanya mengandalkan imajinasi dan fantasi. Dia juga akan mengenakan jubah putih khusus untuk melukis.

Nyai Roro Kidul sang penguasa Laut Selatan serta legenda Joko Tarub memberi kesan tersendiri bagi Basoeki sehingga dilukis berkali-kali. Hal ini diawali ketika Basoeki tinggal di Yogya pada usia belasan tahun sebelum belajar ke Belanda, dia sering berdiam diri di Pantai Parangtritis.

Setelah dewasa, keinginan melukis Nyai Roro Kidul tak tertahankan lagi. Dicarinya model yang sekiranya mewakili kecantikan dan keanggunan Nyai Roro Kidul. Perempuan itu bernama Nyonya Harahap, istri seorang dokter.

Setelah dilukis, Nyonya Harahap menderita kanker dan wafat. Pada mulanya Basoeki menganggap wafatnya model tersebut hanya kebetulan. Setelah tiga kali melukis Nyai Roro Kidul, semua modelnya mengalami hal yang kurang menyenangkan, dia akhirnya menyadari hal itu.

Sampai Basoeki meninggal dunia, dia telah melukis Nyai Roro Kidul sebanyak enam kali. Lukisan yang Nyonya Harahap sebagai model akhirnya menjadi koleksi Presiden Soekarno dan kini dipajang di Istana Presiden Yogyakarta.

Djoko Tarub #3 (kiri), Djoko Tarub #4, 1956. Koleksi Istana Presiden RI
Djoko Tarub #3 (kiri), Djoko Tarub #4, 1956. Koleksi Istana Presiden RI

Djoko Tarub pun dibuat Abdullah hingga enam seri, berisi tujuh bidadari turun mandi di sungai dan satu pemuda bernama Joko Tarub mencuri salah satu selendang milik bidadari. Basoeki menggunakan seorang model untuk memeragakan gestur setiap bidadari.

Lukisan ini pertama kali dibuat atas pesanan khusus Presiden Sukarno untuk dipasang di Istana Merdeka. Uniknya, yang dipesan Bung Karno, jumlah bidadarinya cuma enam, bukan tujuh sebagaimana lima lukisan lainnya dan sebagaimana legenda Jawa itu dituturkan turun temurun. Sampai sekarang tidak ada penjelasan mengapa bidadari untuk Bung Karno hanya enam.

Sukarno dan Basoeki Abdullah bagai keping mata uang. Rekto verso. Mereka adalah “dua serangkai” dengan selera estetik yang sama yang terselip di antara gejolak revolusi dan pergerakan kemerdekaan republik ini.

Fatmawati (1943)
Fatmawati (1943)

Perkenalannya dengan Sukarno terjadi sejak sebelum Basoeki sekolah ke Belanda. Hubungan mereka mulai terjalin dari urusan selera sebagai laki-laki yang melahirkan puluhan lukisan telanjang yang dikoleksi Sukarno, yang kini ada di Istana Presiden. Juga sepanjang 1943-1960-an, Sukarno memesan lukisan potret diri dan istri-istrinya, yakni Fatmawati, Hartini, dan Ratna Sari Dewi.

Perempuan menjadi penting dalam ranah kreatif Basoeki Abdullah. Ideologi bahwa lukisan merupakan medan yang memberi kelebihan dibanding realitas adalah ide yang selalu dipegangnya. Lukisan harus lebih indah dari aslinya.

Ada yang menyebut Basoeki Abdullah mengeksploitasi perempuan, terutama dalam lukisan telanjang. Konsep ketelanjangan yang tersirat dari lukisan Basoeki lebih pada mengambil-alih pose tentang keindahan tubuh dengan efek geraknya.

Dia tidak pernah melukis dalam posisi tubuh yang vulgar atau mengeksploitasi seks. Dia menerapkan komposisi akademis, seperti pandangan para pelukis Eropa lainnya. Setidaknya ada 300 karya lukisan perempuan telanjang yang pernah dibuatnya.

Melukis Tien Soeharto di Jl Cendana, 1968.
Melukis Tien Soeharto di Jl Cendana, 1968.

Basoeki Abdullah tutup usia pada 5 November 1995 setelah dipopor senjata oleh orang yang hendak mencuri di kediamannya. Pelukis besar ini dimakamkan di Desa Mlati, Sleman, Yogyakarta.

Indonesia bukan sekadar tempat Basoeki Abdullah berasal, tapi juga inspirasi dan ruang melabuhkan segenap jiwa raganya. Melalui lukisan pemandangan dia menatap Indonesia dengan citra tersendiri, hingga membawa namanya sebagai duta budaya dan diplomasi yang menyatakan Indonesia sebagai the land of endless beauty.

Dia pun telah meninggalkan jejak berupa rayuan. Bukan perkara perilakunya, melainkan dalam konteks lukisan-lukisannya sebagai salah satu hasil “rayuan atau hiburan (yang menyenangkan)”. Kebesaran alam, para potret elite, perempuan-perempuan cantik, dewa-dewi adalah obyek yang menjadi sarana beautifikasi atau penciptaan kenimatan baginya. Rayuannya memikat kita semua.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 200, 28 September – 4 Oktober 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s