Karibnya Gereja dan Masyarakat Porelea

Gereja Bala Keselamatan Korps Porelea. Foto: Silvia Galikano
Gereja Bala Keselamatan Korps Porelea. Foto: Silvia Galikano

 

Oleh Silvia Galikano

Kehidupan di Desa Porelea, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah sangat berkarib dengan gereja. Nyaris semua peristiwa melibatkan gereja. Pemuka gereja pun rajin mengunjungi rumah-rumah untuk sekadar mengetahui kabar jemaatnya.

Rumah penduduk Porelea umumnya dari kayu, seperti rumah Sekretaris Desa Agus. Foto: Silvia Galikano.
Rumah penduduk Porelea umumnya dari kayu, seperti rumah Sekretaris Desa Porelea Agus. Foto: Silvia Galikano.

Hampir 99 persen penduduk Desa Porelea beragama Kristen-Bala Keselamatan (BK-Salvation Army). Satu gereja BK berdiri gagah di Porelea, menonjol di antara rumah-rumah kayu milik penduduk. Gereja BK Porelea menaungi 123 jemaat.

“Biarlah rumah kita tidak layak huni, yang penting kita bangun rumah Tuhan yang megah,” ujar Camat Pipikoro Smar membuka ceritanya.

Pembangunan Gereja BK Korps Porelea terbilang tidak main-main, memakan waktu sembilan tahun dengan biaya Rp1,3 miliar dari swadaya jemaat. Biaya tersebut digunakan untuk membeli semen, seng, cat, dan bahan lain yang tak didapat dari bumi Porelea. Sedangkan kayu tinggal menebang pohon yang tumbuh di lereng sini. Pasir dan kerikil diambil dari Sungai Mokoi yang berjarak 3 km dari Desa Porelea. Batako pun dibuat sendiri dari pasir.

Sungai Mokoi, 3 km dari Porelea. Foto: Silvia Galikano.
Sungai Mokoi, 3 km dari Porelea. Foto: Silvia Galikano.

“Orang-orang tua mengumpulkan pasir dan kerikilnya, lantas yang muda memikulnya naik ke sini, atau diangkut kuda. Dulu sepeda motor masih sedikit,” ujar Kapten Gabriel Pela dari Gereja BK Korps Porelea yang mulai bertugas di Porelea pada tahun 2012.

Kapten adalah sebutan untuk pendeta di gereja BK. BK menerapkan kepangkatan militer untuk para opsir (pejabat gereja), dari Letnan bagi yang baru lulus Pusdiklat BK hingga Jenderal bagi pemimpin pusat BK di London.

Kapten Gabriel Pela. Foto: Silvia Galikano
Kapten Gabriel Pela. Foto: Silvia Galikano

Kembali ke pembangunan gereja, saat itu jemaat diwajibkan membayar “ikrar”, yakni kesepakatan iuran untuk pembangunan gereja selama tiga kali dalam tiga bulan. Totalnya dari Rp500 ribu hingga Rp1 juta sesuai kondisi ekonomi jemaat. Jangan dilupakan, dari 140 kepala keluarga (KK) di Porelea, 90 KK di antaranya prasejahtera.

Hingga pembangunan gereja rampung, ujar Kapten, tak ada jemaat yang mangkir dari ikrar. “Kalau hasil cokelat tak banyak, jemaat pergi barotan (mencari rotan di hutan, red.) atau bekerja di kota agar ikrar terbayar,” kata Kapten.

***
Dimuat di DetikTravel 6 Oktober 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s