Lobo, dari Pengadilan sampai Rumah Singgah

Lobo, balai serbaguna di Desa Porelea. Foto: Desmon-Karsa Institute
Lobo, balai serbaguna di Desa Porelea. Foto: Desmon-Karsa Institute

Di tengah-tengah Desa Porelea, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, berdiri bangunan adat berukuran 5×4 meter bernama lobo. Dindingnya hanya setinggi 1 meter, sedangkan selebihnya ke atas terbuka.

Acara pelepasan tamu diadakan di lobo Desa Porelea. Foto: Desmon-Karsa Institute.
Acara pelepasan tamu diadakan di lobo Desa Porelea. Foto: Desmon-Karsa Institute.

Lobo, yang khas Kulawi (merangkum Pipikoro, Gimpu, Lindu), berfungsi sebagai balai rapat tetua adat, sidang adat, upacara, perayaan panen, dan rapat penentuan kapan membuka ladang. Lobo juga berfungsi sebagai rumah singgah jika ada warga desa lain yang kemalaman di Porelea, bisa bermalam di lobo. Satu desa punya satu lobo.

Menurut dua tokoh Desa Porolea, Minder Ngia dan Sado Taringolu, lobo pernah ada di Kampung tua Porelea (sekarang jadi Dusun Bulukonore di Porelea), 300 meter ke arah utara dari bangunan lobo sekarang, saat Porelea masih hutan. Lobo lama ini ada hingga era 1950-an, tapi kemudian musnah terbakar.

Pada 1967 dibangun lobo baru, persis di seberang lobo yang sekarang berdiri. Lalu hasil rapat tokoh adat memutuskan untuk memindahkan lobo ke lokasi sekarang, kayu-kayunya dipreteli dan dipasang lagi di seberangnya. Lobo “baru” di lokasi baru diresmikan pada tahun 2007.

Jika lobo sedang difungsikan sebagai pengadilan, si pesakitan duduk di tengah, dan tetua adat melingkar di tepi. Pesakitan malu? Sudah pasti. Namun dengan cara ini, dia mendapat peluang kasusnya tidak diteruskan ke pengadilan, dengan catatan hanya untuk kasus-kasus ringan.

“Kalau pembunuhan, walau belum pernah terjadi, setelah disidang di lobo, kasusnya pasti akan kami teruskan ke polisi,” ujar Sado Taringolu.

Sanksi dari sidang adat adalah sanksi adat, berupa denda. Jika mencuri, si pencuri wajib membayar denda plus mengembalikan barang yang dicurinya.

Uniknya, jika yang disidang perempuan, maka penyidangnya adalah Tinangata, yakni lembaga perempuan adat. Pertimbangannya, agar dewan adat dapat terbuka bertanya, terdakwa pun tanpa sungkan menjawab.

Apa saja istilah untuk bagian-bagian lobo? Perhatikan foto berikut:

IMG_5054aIMG_5051a***
Dimuat di DetikTravel 6 Oktober 2015

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s