Magis Rego Porelea

20151012_MajalahDetik_202_a02

Setelah dibangunkan dari tidur panjangnya, rego dan musik bambu kini dikenal di daerah lain di luar Kecamatan Pipikoro. Syairnya magis, dalam bahasa Uma tua.

Oleh Silvia Galikano

Porelea berhasil membangkitkan lagi kesenian asli Topo Uma yang sempat mati suri, yakni raego atau rego hingga menyatu dalam sistem sosial-budaya Porelea mutakhir. Rego adalah menari dalam formasi lingkaran sambil menyanyikan syair-syair panjang dalam bahasa Uma tua, bahasa yang tak lagi dipakai dalam percakapan sehari-hari.

Syair rego berbeda-beda, menyesuaikan acara yang dibuat. Jika rego dimainkan usai panen, maka syairnya tentang proses membuka ladang, menanam, menyiangi, hingga memanen. Jika rego dimainkan sebagai penghiburan keluarga yang berkabung, syairnya berisi siklus hidup manusia dari lahir sampai mati serta menceritakan betapa baiknya si mati saat masih hidup.

Sungai Koro, sebutan penduduk setempat untuk Sungai Lariang, sungai terpanjang di Pulau Sulawesi. Foto: Silvia Galikano
Sungai Koro, sebutan penduduk setempat untuk Sungai Lariang, sungai terpanjang di Pulau Sulawesi. Foto: Silvia Galikano

Desa Porelea seluas 6,59 km persegi membentang dari sungai Mokoe, hingga ke perbatasan desa Lonebasa, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Secara administratif, Desa Porelea berdiri pada tahun 2008, hasil pemekaran Desa Onu, namun secara historis, Porelea adalah salah satu kampung tua di dataran tinggi Pipikoro.

Di desa ini hidup penduduk asli Pipikoro, Topo Uma. Dalam bahasa setempat, “topo uma” berarti orang yang menggunakan bahasa (dialek) Uma, salah satu dialek yang digunakan masyarakat Kulawi (mencakup Pipikoro, Gimpu, dan Lindu). Sedangkan “pipikoro” berarti di sebelah/seberang Sungai Koro, sebutan penduduk setempat untuk Sungai Lariang, sungai terpanjang di Pulau Sulawesi.

Rego di lobo
Rego melepas tamu di lobo. Foto: Silvia Galikano.

Pada 2000-an awal, Pembina Kesenian Desa Porelea Abednego Dedi, yang saat itu menjabat Kepala Desa, mengumpulkan orang-orang tua di Porelea yang masih ingat cara berego. Mereka berdiskusi dan sepakat menghidupkan kembali rego hingga hari ini. Kini, Porelea jadi satu-satunya tempat yang masih memainkan rego.

Ketika saya mengunjungi Porelea atas undangan Kemitraan – Karsa Institute, pekan lalu, ternyata bersamaan dengan malam ke-3 (malam puncak) penghiburan untuk keluarga yang baru saja kehilangan salah satu anggota keluarga. Sejak matahari terbenam, warga dan pejabat desa berkumpul di halaman rumah yang sedang berkabung.

Abednego Dedi, Pembina Kesenian Desa Porelea. Foto: Silvia Galikano
Abednego Dedi, Pembina Kesenian Desa Porelea. Foto: Silvia Galikano

Selesai acara resmi dan keagamaan, warga membentuk lingkaran di bawah naungan tenda plastik di tengah gerimis, dan berego hingga lewat tengah malam. Atraksi ini mengundang warga lain untuk keluar rumah, termasuk kanak-kanak. Bayi dalam gendongan pun tak lupa dibawa. Makanan kecil dan kopi hangat disediakan para tetangga, guyub dan akrab.

Pun ketika melepas tamu pergi, bertempat di lobo (balai adat), rego kembali dimainkan. Kali ini 16 orang (5 perempuan dan 11 laki-laki) dalam kostum halili (baju adat Kulawi). Di pinggang perego pria terikat guma (parang) dan di kepala mereka terpasang siga (ikat kepala).

Baca Lobo, dari Pengadilan sampai Rumah Singgah.

Menurut Abednego, syair yang dibawakan untuk rego melepas tamu adalah tentang kegembiraan tuan rumah atas kehadiran tamu, harapan pertemuan tersebut membawa manfaat bagi tamu dan tuan rumah, serta doa semoga tamu pulang dengan selamat.

Musik bambu. Foto: Silvia Galikano
Musik bambu. Foto: Silvia Galikano

Senasib dengan rego adalah musik bambu yang sama-sama baru dibangkitkan lagi. Bambu berbagai ukuran dimainkan membentuk ansambel apik berfungsi layaknya musik tiup modern, seperti trompet, flute, saxophone, hingga trombone.

Setelah dibangunkan dari tidur panjangnya, rego dan musik bambu kini dikenal di daerah lain di luar Kecamatan Pipikoro, bahkan beberapa tahun terakhir, rego mewakili Kabupaten Sigi dimainkan di Bali, Yogyakarta, dan Lombok. Australia akan jadi negara pertama di luar Indonesia yang menikmati magisnya kesenian ini.

***

Bersambung ke Sado Taringolu Penjaga Guma Pusaka

Dimuat di Majalah Detik edisi 202, 12-18 Oktober 2015
DetikTravel 7 Oktober 2015

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s