Medan Ekstrem, Motor Pun Dimodifikasi

Medan Pipikoro yang ekstrem mengharuskan sepeda motor dimodifikasi. Apalagi jika difungsikan sebagai ojek. Foto: Silvia Galikano
Medan Pipikoro yang ekstrem mengharuskan sepeda motor dimodifikasi. Apalagi jika difungsikan sebagai ojek. Foto: Silvia Galikano

Desa Porelea di Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah berada di lereng dengan tingkat kemiringan rata-rata di atas 30 persen.

Akses ke desa ini adalah jalan setapak sempit diapit bukit dan jurang, hanya muat satu sepeda motor. Jika berpapasan dengan sepeda motor di arah berlawanan, salah satu harus menepi dulu.

Sepeda motor milik Camat Pipikoro Smar tak terkecuali turut dimodifikasi. Foto: Silvia Galikano
Sepeda motor milik Camat Pipikoro Smar tak terkecuali turut dimodifikasi. Foto: Silvia Galikano

Jalan setapak yang sempit dan berbatu itu pun punya tikungan dan, istilah orang sini, “sikungan” mengacu pada siku tangan ketika ditekuk. Jika tikungan adalah kelokan yang lebar, sikungan adalah tikungan tajam, tipis.  Bahkan tak jarang menyikung itu sekaligus menanjak atau menurun.

Belum lagi kalau musim hujan. Jalan sempit itu bagai arena off-road. Tampilan sepeda motor, pemotor, dan penumpangnya, begitu sampai tujuan seperti baru selesai berkubang. Penuh lumpur.

Menghadapi medan yang ekstrem begini, semua sepeda motor di Porelea serta Kecamatan Pipikoro hampir dipastikan sudah dimodifikasi, apa lagi yang dijadikan ojek.

Camat Pipikoro Smar SPd. Foto: Silvia Galikano
Camat Pipikoro Smar SPd. Foto: Silvia Galikano

Sepeda motor bebek standar pabrik tak akan bertahan satu kali perjalanan Gimpu-Porelea yang jaraknya 24 km ditempuh dalam 2 jam, karena bakal rontok di jalan. Gimpu adalah wilayah terakhir yang dapat dilewati kendaraan roda 4.

Sepeda motor standar terlebih dahulu dibawa ke bengkel di Gimpu untuk dimodifikasi yang menghabiskan lebih dari Rp2 juta rupiah.

Tak terkecuali sepeda motor milik Camat Pipikoro, Smar, yang bagai kantor berjalan karena menyimpan macam-macam alat kerja, dari stempel sampai laptop.

Smar lebih banyak menghabiskan waktu mengunjungi desa-desa yang jadi wilayahnya ketimbang duduk manis di kantor camat. Baju ganti beberapa helai wajib ada sebab tak jarang dia menginap di rumah penduduk. Mari tengok modifikasi apa saja yang sudah dilakukan untuk motornya.

Untitled-1

  1. Setir dinaikkan.
  2. Rasio gear dari 13-38 diubah jadi 13-45.
  3. Ban diganti yang besar dan bergigi.
  4. Shockbreaker diganti yang tinggi.
  5. Knalpot diganti knalpot racing yang pendek.
  6. Busi dibungkus karet agar tak kena air.
  7. Injakan kaki ditelanjangi, tinggal besi saja, agar tidak kandas di jalan yang cekung. Di sepeda motor lain, besi yang sudah botak ini masih dipangkas lagi, malah ada yang dibuang, sehingga kaki pemotor nangkring di mesin, agak ke belakang.
  8. Rem belakang dicopot untuk mencegah kandas di jalan yang cekung atau tersangkut akar pohon.
  9. Klakson dicopot karena tak ada yang sempat memencet klakson. Konsentrasi sudah habis untuk memperhatikan jalan dan mempertahankan keseimbangan motor.

Sungguh balada menjelajah pedalaman Indonesia.

***
Dimuat di DetikTravel 6 Oktober 2015

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s