Sado Taringolu Penjaga Guma Pusaka

Guma tadulako dulu pernah digunakan perang suku. Foto: Silvia Galikano.
Guma tadulako dulu pernah digunakan perang suku. Foto: Silvia Galikano.

Oleh Silvia Galikano

Salah seorang tetua adat yang memegang peran penting dibangkitkannya rego adalah Sado Taringolu, 57 tahun. Dialah penjaga tetap hidupnya kesenian Kulawi di Desa Porelea, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Syair-syair magis bahasa Uma tua tersimpan di kepalanya.

Baca Magis Rego Porelea.

Sado Taringolu memegang tombak dan perisai. Guma terikat di pinggang. Foto: Budi-Karsa Institute.
Sado Taringolu memegang tombak dan perisai. Guma terikat di pinggang. Foto: Budi-Karsa Institute.

Warisan Kulawi lain yang dia jaga segenap hati adalah guma/piho (parang). Guma dengan panjang 1,5 meter disebut guma tadulako / tonolampa dan guma pendek (1 meter) disebut guma madika.

Setiap pria dewasa wajib punya guma untuk dikenakan setiap keluar rumah. Lebih penting lagi jika laki-laki dewasa menghadiri acara adat, guma harus terikat di pinggang, meski terpaksa pinjam.

Guma tadulako koleksi Sado adalah guma tua, turun temurun dari leluhur, yang diserahkan ayahnya saat usia Sado 18 tahun. Matan (mata parang)-nya dari batu keras, dengan ukiran kepala manusia di pangkal matan, dekat gagang.

Perisai berhias gigi monyet. Dahulu yang disematkan adalah gigi musuh yang dikalahkan. Foto: Silvia Galikano
Perisai berhias gigi monyet. Dahulu yang disematkan adalah gigi musuh yang dikalahkan. Foto: Silvia Galikano

Sarung guma, disebut uncoa, terbuat dari kayu lepa kumea dan howu dihiasi ukir-ukiran indah. Di gagang, pulukalama, tersemat rambut sepanjang 30 cm. Rambut itu rambut manusia, musuh yang dikalahkan pada zaman perang suku dahulu.

Karena ini guma pusaka, maka hanya digunakan pada acara-acara adat. Ambil contoh di acara rego, wajib minimal ada satu perego yang mengenakan guma tadulako di antara perego lain yang mengenakan guma madika.

Asalnya, guma tadulako “berisi” (istilah Sado, ber-bisa). Sehingga aturannya, jika guma ini sedang digunakan, orang lain di sekitarnya tak boleh berdiri atau sejajar tingginya dengan pemakai guma. Namun sekarang semua bisa sudah dihilangkan lewat upacara tertentu dan digosok merica putih muda.

Walau sudah tidak ber-bisa, guma tetap menyimpan tuahnya. Benda ini akan memberi tanda-tanda jika ada orang datang dengan niat jahat, seperti tahu-tahu hilang dari tempatnya disimpan atau berbunyi seperti mengetuk-ngetuk cepat dengan suara rendah.

Mata parang guma tadulako dari batu keras dan berserat. Foto: Silvia Galikano.
Mata parang guma tadulako dari batu keras dan berserat. Foto: Silvia Galikano.

“Dulu, kalau ada kopetau (orang jahat yang berniat membunuh), guma sudah ‘siap’ di pintu,” ujar Sado ketika ditemui di rumahnya.

Sado menerapkan pantangan untuk tidak memanaskan merica di atas api. Kalau sampai tercium bau merica, pemilik guma dan keluarga akan bisul-bisul, dari bisul kecil sampai bisul besar yang mematikan.

Sado punya tiga guma tadulako yang disimpan di rumah dan satu disimpan di rumah-kebun, yang katanya, “Untuk mencegah orang jahat.” Keempatnya bersemat empat jenis rambut berbeda. Artinya empat guma tadulako ini pernah digunakan berperang dan pernah mengalahkan musuh.

Langkah-langkah mengikat guma. Foto: Silvia Galikano.
Langkah-langkah mengikat guma. Foto: Silvia Galikano.

Ada lagi guma tadulako yang bukan bersemat rambut, melainkan bersemat kain merah. Artinya sama, bahwa guma ini sudah pernah digunakan berperang. Ada aturan ketat tentang guma tadulako yang pernah digunakan berperang, yakni tidak boleh dipakai orang lain selain pemilik resminya.

Jika guma tadulako adalah guma pusaka, guma madika adalah alat kerja yang digunakan sehari-hari untuk dibawa ke ladang, memotong pinang, membelah kelapa, atau sekadar memotong tali. Gagang (pulu) dan sarungnya tak berukir.

Sado juga masih menyimpan sumpit yang digunakan untuk berburu. Keterampilan menyumpit tak lagi dimiliki anak muda Porelea.

Sado Taringolu menunjukkan kemampuannya menyumpit. Foto: Silvia Galikano.
Sado Taringolu menunjukkan kemampuannya menyumpit. Foto: Silvia Galikano.

Sumpit terbuat dari bambu walowulu yang ruasnya panjang-panjang, bisa sampai 2 meter, berdiameter 2-3 cm, dan tebal. Bambu biasa tak bisa dijadikan sumpit karena tipis dan beruas pendek.

Mata sumpitnya dicelup racun, dari campuran lem kayu, karat besi tua, lemon, getah pohon ipo, dan abu tembakau kering. Mata sumpit beracun jika ditembakkan ke manusia, sasarannya bisa pingsan seketika. Atau mati seketika jika ditembakkan ke hewan kecil, seperti burung, tupai, dan monyet.

Selain sebagai petani, bapak lima anak ini adalah juga seorang penyembuh. Pasiennya kebanyakan bayi yang berhari-hari menangis akibat diganggu makhluk halus, yang dia sembuhkan dengan cara “ditiup”.

Macam-macam mata sumpit. Yang ujungnya hitam berarti sudah dicelup racun. Foto: Silvia Galikano
Macam-macam mata sumpit. Yang ujungnya hitam berarti sudah dicelup racun. Foto: Silvia Galikano

Cara meramu obat-obatan dia pelajari dari ayahnya, didapat dari mimpi, dan diajarkan oleh makhluk halus lain. “Kalau ada ‘teman’ yang mengganggu, nyanyikan ini,” Sado menirukan ucapan si makhluk halus itu lalu menyanyikan mantra yang dimaksud dalam bahasa Uma tua.

Sado bersedia mengobati orang yang terkena badoti (santet) tapi menolak jika diminta menyantet atau membalas. “Untuk apa berguru begitu? Tidak panjang umur. Yang jahat tidak ada di Porelea.”

Sado bukan penyembah berhala, seperti pernah dituduhkan seorang pendeta. Dia penyembah Karampua Langi Karampua Tana (Penguasa Langit dan Bumi), Tuhan yang sama dengan yang disembah pendeta. “Di Injil juga sebutannya sama, ‘Bapa penguasa langit dan bumi’. Yang saya lakukan ini sejalan dengan ajaran gereja,” ujarnya.

Gempuran tuduhan “penyembah berhala” dan “musyrik” terbukti ampuh menghabisi budaya leluhur Nusantara yang kaya ilmu dan hidup serasi dengan alam. Diperlukan orang-orang luar biasa kuat untuk menjaga tradisi yang tersisa, sekaligus menggali yang sudah terlupakan atau dilupakan. Kepada Sado Taringolu dari Desa Porelea kita belajar.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 202, 12-18 Oktober 2015
DetikTravel 7 Oktober 2015

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s