Menerawang Masa Lalu di Hotel Damai Residence

Hotel Damai Residence semakin indah saat malam.
Hotel Damai Residence semakin indah saat malam. Foto: Silvia Galikano

Teks & foto: Silvia Galikano

Menginap di bangunan tua adalah pengalaman tersendiri. Ada cerita-cerita seru yang melingkupi, suasana hangat hingga wingit yang tak tergambarkan, dan bisa sekadar bernostalgia “membuktikan” cerita orang-orang dahulu.

Kamar Platinum. Foto: Silvia Galikano
Kamar Platinum. Foto: Silvia Galikano

Jika berwisata sejarah ke Lawang Sewu Semarang maka akan paripurna pengalaman Anda jika menginapnya juga di bangunan tua. Bukan hotel tua, melainkan hotel yang memfungsikan bangunan tua.

Berada di simpang Bangkong di tengah kota Semarang, hotel ini mengambil nama Hotel Damai Residence. Tepatnya di Jl. MT Haryono 854-856 Semarang, ke arah selatan dari Simpang Lima.

Konsepnya heritage hotel karena menggunakan bangunan lama yang sebisa mungkin dipertahankan keasliannya. Kisah tentang bangunannya, walau baru sedikit terkuak, menarik untuk diketahui.

Ubin berpola indah di lobi. Foto: Silvia Galikano
Ubin berpola indah dan meja marmer medallion di lobi. Foto: Silvia Galikano

Pengelola Hotel Damai Residence Selo Emka (The Poo Tjwa) menerangkan, hotel yang mulai beroperasi pada Januari 2013 ini punya 23 kamar, terdiri dari 6 kamar Platinum, 5 kamar Gold, dan 12 kamar Silver.

Bangunannya ada dua, yang melintang sejajar jalan dan yang membujur. Bangunan melintang adalah bangunan utama, tempat lobi dan resepsionis serta kamar-kamar Platinum dan Gold. Sedangkan bangunan yang membujur adalah barisan kamar Silver yang bersambung ke service area hotel.

Teras depan dengan dua tiang utama yang kakinya berukir logo LKH
Teras depan dengan dua tiang utama yang kakinya berukir logo LKH

Pilar-pilar dari teraso merah menyambut tamu begitu melangkahkan kaki masuk. Di kaki dua pilar utamanya terukir logo “LKH” dalam font hias yang rumit.

Bangunan utamanya masih mempertahankan ubin lawas berpola, layaknya karpet terbentang, di area lobi. Di tengah-tengahnya berdiri meja marmer medallion kuno yang tembus sinar ketika disenter.

“Meja ini sudah ada di sini sejak dulu, bukan kami beli dari tempat lain,” ujar Selo ketika saya berkunjung ke hotel ini, Agustus lalu.

Bagian lain yang sebenarnya masih dipertahankan keasliannya adalah langit-langit yang tinggi bergaris-garis terbuat dari logam. Namun, kata Selo, khawatir langit-langit begini malah dianggap tamu terlalu tinggi, maka dilapisi dengan langit-langit baru yang lebih rendah berbahan gypsum. Langit-langit asli dapat dilihat di area penghubung bangunan utama dan bangunan samping.

Teras depan bangunan utama berhias kaca patri kuning dan hijau yang cantik sekali ketika petang tiba dan terkena sorot lampu. Motif kaca di pintu belakang, jika dilihat dari halaman belakang dalam jarak 10 meter, akan membentuk motif kepala orang. Masing-masing yang melihat akan punya gambaran sendiri. Saya melihatnya seperti kepala penyanyi reggae Bob Marley.

Logo LKH singkatan dari Liem Khik Hong. Foto: Silvia Galikano
Logo LKH singkatan dari Liem Khik Hong. Foto: Silvia Galikano

Bangunan yang diperkirakan dibuat pada awal 1900-an ini awalnya rumah tinggal milik orang Belanda. Bangunan yang membujur aslinya memanjang tanpa sekat. “Melihat bentuknya, bisa jadi dulu istal kuda,” ujar Selo.

Sesudah kemerdekaan, rumah ini dimiliki seorang Tionghoa bernama Liem Khik Hong. Dari nama itulah asal logo “LKH” yang terukir di dua kaki pilar teras depan. Ini mematahkan asumsi awal bahwa logo itu bertuliskan “LHK”, singkatan dari Liem Hok Kyong, seperti selama ini diketahui. Belum diketahui siapakah Liem Khik Hong dan latar belakangnya.

Dari Liem Khik Hong, pada 1950-an rumah ini beralih ke Phoa Ing Tjoen (David P.R.) yang berprofesi sebagai dokter dan tercatat sebagai dokter di Persatuan Haji Indonesia (PHI). Sampai sekarang pun tagihan listrik masih atas nama David P.R.

Dalam masa kepemilikan Phoa Ing Tjoen, bangunan ini dijadikan rumah bersalin selama beberapa tahun. Sepeninggal Phoa Ing Tjoen, kerabat memfungsikannya sebagai pabrik kecap.

Deretan Kamar Silver
Deretan Kamar Silver

Fakta-fakta ini baru diketahui Selo beberapa bulan lalu ketika Hotel Damai Residence dikunjungi adik David yang tinggal di Jakarta ingin bernostalgia melihat tempatnya tinggal dahulu. Sebelumnya, cerita masa lalu bangunan ini seperti rantai terputus, banyak cerita yang tak diketahui. Buktinya, logo pun keliru dibaca.

“Waktu dibilang bangunan ini pernah jadi rumah bersalin, papa saya Tom Nogo Kanoko (89 tahun) bilang koko saya lahir di sini, tahun 1957, ditangani dokter David itu,” ujar Selo.

Kaca pintu belakang yang dilihat dari jarak tertentu membentuk kepala manusia. Foto: Silvia Galikano
Kaca pintu belakang yang dilihat dari jarak tertentu membentuk kepala manusia. Foto: Silvia Galikano

Pemilik yang sekarang membeli rumah ini pada1998, lalu disewakan ke sebuah franchise kursus bahasa Inggris selama 12 tahun. Selo merahasiakan nama sang pemilik sebagaimana permintaan yang bersangkutan, dengan alasan privacy.

“Dia orang kaya lama,” kata Selo, namun sedikit memberi bocoran bahwa sang pemilik adalah orang Semarang, pengusaha sarang walet dan pemilik pabrik tinta.

Dulu, di halaman depan ada pohon mangga, tapi sekarang sudah ditebang untuk dijadikan lahan parkir. Tinggal beringin besar yang masih ada sampai sekarang. Di halaman belakang juga dulu tumbuh pohon jambu biji, tapi sekarang tak ada lagi. Hanya tiga pohon ketapang berjajar, tak jauh dari sumur tua.

Nah, sumur tua punya cerita juga. Sumur ini sumur timba. Sengaja tidak ditutupi atau disembunyikan atau disamarkan, sebaliknya, ditonjolkan dengan lampu-lampu yang membuatnya cantik pada malam hari. Kekunoannya semakin dikuatkan lewat aksesoris ember kayu yang tergantung di atasnya serta tambahan atap sirap.

Residence tampak belakang. Foto: SIlvia Galikano
Residence tampak belakang. Foto: SIlvia Galikano

Sumur tua ini dipertahankan bukan semata-mata sebagai hiasan pendukung label heritage Hotel Damai, melainkan masih berfungsi jadi sumber air hotel. Tentu saja sekarang tak perlu lagi menimba. Fungsi itu sudah digantikan pompa yang terpasang ke dalam sumur. Sejauh ini dapat memenuhi kebutuhan hotel di musim terkering sekalipun.

Bibir sumur yang asli masih ada, tapi hanya setinggi 5 sentimeter dari permukaan tanah. “Mungkin dulu tingginya sepinggang. Beberapa kali ada peninggian tanah karena Semarang sering banjir, bibir sumur jadi pendek,” kata Selo.

Sumur timba tua yang dipertahankan. Foto: Silvia Galikano
Sumur timba tua yang dipertahankan. Foto: Silvia Galikano

Kini tinggi bibir sumur dibuat 1 meter dari permukaan tanah dengan pertimbangan keselamatan. Bukan dengan menyambung bibir sumur lama, melainkan membuat dinding baru di lapisan dalam sehingga bibir sumur yang lama tetap terlihat.

Nah, jika ingin merasakan serunya menginap di bangunan tua, atau ingin “menerawang” seperti apa dulunya kehidupan di sini, silakan datang ke Semarang dan menginap di Hotel Damai Residence.

***

Dimuat di DetikTravel 16 Oktober 2015

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s