Ekspresi yang Melintas Batas

203b

Tak ada gaya yang ditetapkan sebagai identitas kedirian di karyanya. Joseph ingin berpayung pada sejumlah gaya dan teknik.

Oleh Silvia Galikano

Melukis layaknya sebuah kanal yang tidak semata-mata berkutat pada persoalan rupa: komposisi dan gaya. Melukis adalah juga representasi kegelisahan (ekspresi) saat melihat berbagai persoalan kehidupan. Itu sebabnya perupa otodidak asal Yogyakarta Joseph Praba lebih banyak berkarya dengan topik-topik persoalan etika Jawa, lingkungan/ekologi, dan mitologi.

Mengambil tajuk Mata Ekologi Joseph Praba menggelar pameran tunggal seni lukisnya di Bentara Budaya Jakarta, 8-17 Oktober 2015. Seluruh karyanya merupakan ekspresi kesadarannya yang kompleks tentang interaksi antarmakhluk hidup dan interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.

Mata Ekologi Joseph Praba mengingatkan kita pada karya Sardono W. Kusumo berjudul Meta Ekologi (1975), pergelaran gerak tubuh dengan panggung sebuah kolam lumpur dengan penari yang “menyelam” dan berkubang lumpur. “Mata” dan “meta” memang berbeda makna, namun kedua karya merujuk pada pergumulan, silang-sengkarut yang intens antarindividu makhluk hidup yang melibatkan lingkungan.

“Semua karya adalah tanggapan terhadap interaksi di relung hati di mana saya hidup. Tanggapan terhadap ketersediaan semua sumber daya hidup, keberadaan pesaing dan pemangsa dalam relung ekosistem ekologi saya. Seni bagi saya itu hidup. Karya seni adalah kepuasan berkarya untuk hidup dan menghidupi,” demikian rumusan Joseph Praba tertulis di katalog pameran.

Karenanya tak heran, tak ada gaya yang ditetapkan sebagai identitas kedirian di karyanya. Joseph ingin berpayung pada sejumlah gaya dan teknik. Di satu sisi, teknik melukis dengan mengandalkan improvisasi bahan sangat kental. Di sisi lain, dia membuat obyek yang dilukis dengan menggunakan kesadaran visual secara penuh, seperti membuat not balok, ikan, burung, dan pohon.

Gaya yang diterapkan juga ambang, wilayah abu-abu antara gaya representatif dan non-representatif. Lukisan tentang irama musik, seperti Palaran #1 dan #2, secara visual yang tampak adalah cipratan bahan dan obyek berupa tanda, yakni not balok. Menurut Joseph, not tersebut memang berbunyi, bisa dilagukan. Jadi Palaran adalah lagu yang bertahta pada sebidang kanvas.

Adapun kala melukis ekologi/lingkungan atau kritik sosial, Josep masih menawarkan sifat-sifat representasional. Ia melukis figur binatang, bunga, ornamentasi, dan wayang, masih tetap mengesankan realitas yang kita sepakati, meskipun dilukis lebih mendekati kesan karikatural. Ikan-ikan di Bersatu Lawan Perampok Ikan (2015), Ikan Pun Bisa Marah (2015), dan Pasukan Ikan (2015) berada pada wilayah representasional dengan catatan khusus.

Menurut kurator pameran Mikke Susanto, Joseph tidak sedang melukis ikan sebagai bentuk kekagumannya atas kekayaan laut, tapi ia berlaku sebagai anggota masyarakat yang mengalami persoalan saat mencermati kehidupan laut di negeri ini. Joseph tidak menamakan ikan yang dilukisnya sebagai sejenis ikan tertentu. Artinya, lukisan ikan-ikan Joseph bukanlah representasi naturalistik, melainkan lebih pada representasi kritis.

Demikian pula dengan kekayaan pemikirannya yang bersifat non-representatif. Sonata Waktu (2013), Adagio (2013), Masih Ada Harapan (2014), dan Sampur Bawono (2014) merupakan sejumlah karya dengan konsep non-representatif. Lukisan-lukisan ini bukanlah realitas kasat mata, tapi lebih merupakan impuls kejiwaan atau ekspresi spritualitasnya terhadap realitas/alam yang dihadapi. Sejumlah kajian seperti ekologi, politik, ketuhanan, dan kehidupan manusia menjadi kata kunci karya-karya tersebut.

Dari teknik warna, seniman kelahiran Madiun, 9 Juni 1954 ini mengerjakan warna-warna secara berlapis-lapis. Warna dalam kanvasnya terbentuk karena lelehan pigmen yang dicairkan, goresan kuas yang ditorehkan, maupun warna yang terbentuk karena mengikuti obyek yang dilukis. Beberapa teknik yang digunakan menyebabkan sejumlah warna lahir tanpa disengaja dan direkayasa. Penggunaan tekstur berupa kertas yang dikolase turut mempengaruhi kehadiran warna dalam lukisan-lukisannya.

Sejumlah perpaduan warna yang muncul karena beberapa teknik yang dikerjakan tampil menarik, seperti di Ikan Mata-mata (2015), perpaduan hijau dan merah muda membentuk dimensi baru. Warna-warna tersebut metaforis, penuh telaah dan mengiaskan sejumlah hal, misalnya tentang lingkungan laut yang terinfeksi zat-zat tertentu.

Joseph menggeluti banyak disiplin cabang kesenian, yakni musik, tari, seni rupa, teater, instalasi, dan sastra. Alhasil, medium seni yang dipilihnya selalu kemudian berubah menjadi semacam labirin, lorong-lorong berliku yang penuh sesak dengan idiomatik disiplin kesenian yang dia dalami.

Ekspresi yang lebih dekat dengan kebiasaan lintas batas tergambar dari beberapa karya dengan tema kajian musik yang digelutinya selama ini. Dia memberi ruang, atau mudah tak setia, dan tergoda untuk tidak disiplin dengan satu cabang kesenian yang jadi mediumnya. Namun boleh jadi di sanalah (sebagian) jatidiri Joseph Praba sesungguhnya berada.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 203, 19-25 Oktober 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s