Keramik dan Identitas yang Matang

204aHanya seniman terpilih yang dapat bertahan di dunia keramik. Proses yang lama dan rumit jadi alasan utama seniman menyerah di tengah jalan.

Oleh Silvia Galikano

Motif batik jadi identitas yang dilekatkan Bregas Harrimardoyo ke vas, kendi, pot, dan piring karyanya. Seperti seri Colour Chart on Kitchen Vases (2003) yang terdiri dari lima vas bermotif batik corak tambal berwarna sogan, bata, biru, hijau pupus, dan tarum di atas glasir matt.

Selain itu, di set kendi, gelas, dan piring (2015) ditambahkan motif batik kawung dengan teknik toreh (hand-drawn sgraffito) yang dia terapkan juga dalam pot besar bermotif batik Bali.

“Peralatan dapur” dengan tampilan lebih sederhana dibuat Haryo Senggono, seperti wadah dan bejana (2014-2015). Bermedium tanah liat diglasir, Haryo menerapkan teknik sederhana pinch, slab, coil, dan throwing.

Karya-karya tersebut terangkum dalam pameran keramik berjuluk Identitas di Museum Seni Rupa dan Keramik, 16-25 Oktober 2015 yang mengusung karya 13 seniman keramik Ibukota Jakarta. Para seniman itu antara lain Adhy Putraka, Bregas Harrimardoyo, Evy Yonathan, F. Widayanto, Haryoadiputro Soenggono, Geoffrey Tjakra, dan Silayana Setiadarma yang mengusung ciri khas masing-masing.

Karya yang terbilang rumit disuguhkan Silayana Setiadarma melalui beberapa seri indah, utamanya tentang anak-anak dalam Aku Juga Mau Sekolah dan Ada Matahari di Matamu… Ada Rembulan di Senyumanmu. Aku Juga Mau Sekolah menampilkan patung dada tiga bocah tanpa baju yang menonjolkan ketulusan, kepolosan, sederhana, dan apa adanya.

Di Ada Matahari di Matamu… Ada Rembulan di Senyumanmu, Silayana membentuk wajah innocent lima kanak-kanak dalam busana Tiongkok dan busana Eropa. Bunga-bunga ungu menghias dada mereka.

“Saya suka sekali dengan ekspresi anak-anak. Senyuman mereka adalah sekuntum indah kasih sayang, keceriaan, kegembiraan. Ekspresi hati paling jujur yang bisa bercerita tentang apa saja,” ujar Silayana pada hari pembukaan pameran.

Karya F. Widayanto, yang ditempatkan tak jauh dari pintu masuk, adalah seri Al-Oud (2013). Al-oud adalah instrumen musik berdawai asal Semenanjung Arab. Di Indonesia dikenal sebagai gambus. Alat musik ini punya tiga hingga 12 senar dan digunakan untuk mengiringi nyanyian dan tari zapin dalam pesta pernikahan atau syukuran.

Al-Oud yang berbahan tanah liat dari Sukabumi, Jawa Barat dibuat menggunakan teknik hand-building dan dibakar dalam suhu 1.250 deracat Celsius. Seri Al-Oud merupakan karya tanpa duplikasi.

F.Widayanto memasukkan ciri khasnya dalam karya yang didominasi warna biru itu, yakni unsur hewan dan tumbuhan. Dia tambahkan kupu-kupu dan beberapa kuntum bunga anggrek di bodi al-oud, finger board-nya dihiasi ornamen sulur-suluran, dan headstock-nya dibuat berbentuk hewan mitologi.

Seniman lain, Evy Yonathan, mengangkat kegembiraan rakyat di tengah minimnya fasilitas melalui dua karyanya, Berkah Alam Semesta dan Kapal Jukung. Keduanya menggunakan teknik hand-building serta teknik pewarnaan yang sangat sederhana menggunakan warna-warna tanah liat.

Berkah Alam Semesta adalah tentang dua nelayan dengan wajah riang memikul keranjang berisi ikan hasil tangkapan sehari. Karya ini terilhami nelayan Pulau Pari di Kepulauan Seribu yang pulang melaut pada sore hari. Suara mereka bersahut-sahutan gembira.

Sedangkan Kapal Jukung diilhami anak-anak Gili Gede, Lombok yang gembira tak kenal musim. “Padahal tempat itu terpencil, tak ada air bersih, tapi mereka senang-senang saja. Saya di kota ngapain aja?” kata Evy.

Sejak diadakannya pendidikan seni keramik secara formal di Seni Rupa ITB pada tahun 1964, tak banyak perupa keramik terlahir dibanding cabang seni rupa lainnya. Sebuah studio keramik mandiri yang dikelola seorang yang betul-betul hidup dari dunia tanah liat masih termasuk sangat sedikit.

Beberapa nama yang pernah muncul mengawali dunia seni keramik sekitar tahun 1980 (di Jakarta) adalah Indros, Hildawati Siddharta, Suyatna, Jane Chen, Lydia Poetri, Liem Keng Sien, Bonny Surya, Adi Munardi, Harriadi Mardoyo, dan F. Widayanto.

Liem Keng Sien (1954-2014) adalah guru dari banyak seniman keramik Indonesia walau dia bukan “orang keramik”, bukan berlatar belakang pendidikan keramik. Namun dari studionya, Keng Sien melahirkan serombongan personil yang aktif bekerja di bidang keramik dan kerap mengadakan pameran bersama. Sekitar 75 persen seniman yang berpameran di Identitas ini adalah murid Keng Sien, sosok guru inspiratif yang bekerja sepenuh hati dan menyuntikkan semangat tak mudah menyerah.

Kondisi ironis, dan rupanya terjadi secara global, sarjana-sarjana keramik dari perguruan tinggi tak menghasilkan perajin keramik yang ada sekarang. “Malah banyak yang akhirnya bekerja di bidang lain atau seni rupa lain,” kata F. Widayanto.

Keramik jadi tersisih karena prosesnya yang panjang dan njelimet, membuat para pemula bosan untuk menekuni bidang ini lebih lanjut. Pengenalan jenis dan proses tanah liat, teknik pembuatan, pengetahuan glasir, hingga tungku pembakaran adalah sebuah urutan panjang yang harus dilampaui dengan kesungguhan. Jika pecah, maka prosesnya harus diulang lagi dari awal. Seperti hidup.

Belajar dari para empu keramik terdahulu di Tiongkok, Jepang, dan Korea, dunia keramik membutuhkan pengenalan sebuah perjalanan secara menyeluruh, dedikasi total, dan penyerahan diri yang mutlak. Hanya seniman terpilih yang sanggup bersitahan dalam kondisi ini.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 204, 26 Oktober -1 November 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s