Merinding Girang Ala Goosebumps

203c

Film ini mempertemukan penggemar lama Steine dan anak-anak yang belum pernah kenal nama sang novelis. Sederet monster ikonik dimunculkan.

Oleh Silvia Galikano

Judul: Goosebumps
Genre: Action, Adventure, Comedy
Sutradara: Rob Letterman
Skenario: Darren Lemke, Scott Alexander
Produksi: Sony Pictures
Pemain: Jack Black, Dylan Minnette, Odeya Rush
Durasi: 1 jam 43 menit

Setelah kematian sang ayah, Zach (Dylan Minnette) bersama ibunya pindah dari New York ke kota kecil Madison, Delaware. Ibunya (Amy Ryan) mendapat pekerjaan sebagai wakil kepala sekolah di sini.

Pemuda ini berkenalan dengan tetangga sebelah rumah, Hannah (Odeya Rush), yang menongolkan kepalanya di jendela ketika Zach baru tiba. Mereka berkenalan resmi ketika Zach membuang sampah di halaman samping dan Hannah tiba-tiba saja sudah berada di belakangnya.

Hannah tinggal bersama ayahnya yang eksentrik dan overprotektif, Mr. Shivers (Jack Black). Demikian overprotektifnya sampai-sampai Hannah belajar lewat homeschooling diajar sendiri oleh sang ayah. Hannah menemui Zach di halaman samping itu pun diam-diam dengan cara menerobos pagar samping.

Pertemuan mereka ini dibubarkan Mr. Shivers yang kemunculannya sama-sama mengagetkan. Dia memperingatkan Zach untuk menjauhi putrinya jika tak ingin hidupnya sengsara.

Pada suatu malam, Zach mendengar suara Hannah menjerit-jerit berseling suara bentakan ayahnya. Zach juga melihat di jendela ada bayangan Mr. Shivers seperti membuat gerakan memukul.

Zach menelepon polisi melaporkan ada KDRT di rumah tetangganya. Polisi datang, tapi KDRT yang dilaporkan itu tak ada. Suara jeritan perempuan yang tadi Zach dengar ternyata berasal dari video. Mr. Shivers makin menunjukkan ketidaksukaannya pada Zach.

Namun Zach tak mundur. Dia curiga ada sesuatu yang disembunyikan di rumah itu yang mengancam keselamatan Hannah. Zach lalu mengajak kawan barunya yang culun, Champ (Ryan Lee), masuk rumah Mr. Shivers untuk memeriksa ada apa sebenarnya.

Keduanya mendapat temuan mengejutkan di ruang tengah, yakni ada rak yang dipenuhi buku serial Goosebumps karya R.L. Stine. Bentuknya masih kumpulan naskah ketikan dengan sampul kulit dan seluruhnya digembok.

Didorong penasaran, mereka mengambil satu buku dan membuka gemboknya. Seketika angin berpusar-pusar di ruangan itu, huruf demi huruf rontok dari tempatnya, hingga berkumpul di lantai membentuk Abominable Snowman. Makhluk mirip kera raksasa berbulu putih itu menggeliat ke sana ke mari.

Tanpa Zach sadari, satu buku terbuka lagi dan keluarlah Slappy si boneka ventriloquist jahat (disuarakan Black), pemimpin dari semua penghuni buku. Slappy membuka semua gembok dan memimpin penghuni-penghuninya untuk membalas dendam pada Mr. Shivers yang sudah mengurung mereka selama bertahun-tahun. Tapi, tunggu dulu, siapa sebenarnya Mr. Shivers?

Melihat sekilas judulnya, Goosebumps dapat disalahartikan sebagai film nostalgia anak-anak era 1990-an yang mengadaptasi salah satu serial novel Goosebumps karya R.L. Stine yang sudah laku 400 juta eksemplar di seluruh dunia. Faktanya bukan mengadaptasi novel, melainkan mengambil franchise 200-an judul novel seram Stine itu sebagai titik berangkat.

Sutradara Rob Letterman (Gulliver’s Travels dan Monsters vs. Aliens) dan penulis skenario Darren Lemke mengambil inspirasi dari bagaimana pembaca, yang sekarang sudah tumbuh dewasa, mengenang Stein dan buku-bukunya.

Goosebumps adalah rilis kedua Sony mengisi libur Halloween tahun ini, menyusul jejak Hotel Transylvania 2, sebagai ajang nostalgia penggemar Stine dan mereka yang baru kenal karya Stine. Film ini mengandung sarkasme yang dapat ditoleransi, kalimat-kalimat menggelikan dari ayah yang overprotektif, monster yang tampilannya tak mengerikan, dan tone yang sedikit ironis: seram-seram lucu.

Tertutupnya kehidupan sang pengarang jadi bagian alur cerita dengan berpijak pada Abominable Snowman of Pasadena. Stine sendiri di sini menjadi tokoh sentral dengan nama samaran Mr. Shivers.

Action dibangun lewat serangkaian horor ikonik bukunya, seperti werewolf di Fever Swamp, kurcaci dari keramik, belalang raksasa, dan jelly yang menenggelamkan siapa saja yang dilewatinya. Para sineas mengadopsi filosofi “the more the merrier” dengan menjejalkan puluhan monster, dipimpin alter ego jahat Stine, Slappy the Dummy.

Efek komputernya tampak murahan, yang bisa jadi disengaja untuk menguatkan kesan nyata dan seram bagi penonton muda. Patut pula dipuji, film Goosebumps tak melupakan bahwa buku-buku Stine bertujuan menakuti anak-anak.

Para pemain, yakni Jack Black, Dylan Minnette, dan Odeya Rush tampil apik dan genuine. Black sebagai satu-satunya pemain yang sudah punya nama, mendapat peran sebagai R.L. Stine yang asosial dan rewel.

Secara fisik, Black memang tidak mirip Robert Lawrence Stine. Namun dia menciptakan karakter lucu yang efektif lewat ekspresi wajah lebay yang jadi ciri khasnya serta bagaimana dia membuat penekanan demi penekanan kalimat, bahkan dalam keadaan terjepit, yang menjadikan film ini seru.

Tak ada yang revolusioner di Goosebumps. Pada titik tertentu seakan-akan ini film horor-komedi Cabin in the Woods (2012) tapi buatan Nickelodeon. Plotnya bahkan banyak yang bolong. Walau begitu, dongeng dan imajinasi tak pernah membosankan dan selalu jadi senjata ampuh yang menginspirasi anak-anak untuk melakukan hal yang belakangan kalah pamor dengan gadget: membaca buku.

***
Dimuat di Majalah Detik edisi 203, 19-25 Oktober 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s