Pertemuan yang Tertunda

Untitled-2

Pertemuan dengan Nh Dini di kediaman Prof. Edi Sedyawati, sepupu Dini, di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta, 22 Oktober 2015, sepulang dia dari Frankfurt Book Fair. Saya datang sebagai penggemar, membawa setumpuk buku untuk ditanda tangan. Namun tangan gatal sebagai wartawan tak tahan kalau diam saja, hingga terpencetlah “record” di ponsel.

Baca juga Taman Situ Lembang

Isi obrolan kami dari ujung ke ujung. Panjang. Saya berencana, sebagian besar isi obrolan diambil untuk mengisi salah satu rubrik Majalah Detik. Namun mendadak turun keputusan dari dewa, edisi 205 yang sedang digarap adalah penerbitan terakhir Majalah Detik.

Dari pada obrolan yang keren ini hanya tersimpan di ponsel, saya ambil saja cerita tentang hubungan Dini dan anak-anaknya, dituliskan di sini demi meluruskan yang selama ini sering salah kaprah. Semoga tak ada lagi yang menuduh Lintang dan Padang sebagai anak durhaka karena membiarkan ibu mereka merana dan tinggal di panti jompo.

Silvia Galikano
30 Oktober 2015.

Baca juga Misinya Menulis


Karya tulis dan terjemahan Nh Dini. Foto: Silvia Galikano.
Karya tulis dan terjemahan Nh Dini. Foto: Silvia Galikano.

Pada Sebuah Kapal sampai sekarang masih menafkahi Dini. Tiap enam bulan dia menerima laporan jumlah buku yang terjual sekaligus mendapat royalti buku-bukunya, rata-rata Rp3 juta dengan persentase terbesar dari Pada Sebuah Kapal.

Dini pernah selama tiga tahun bisa hidup hanya dari royalti Gramedia, yakni setelah keran reformasi dibuka, karena menerima royalti Rp 9-15 juta. Sesudah itu, pamor buku terjun bebas, kalah oleh gadget.

“Untunglah, Tuhan juga yang mengatur, sejak 13 tahun terakhir ini, anak saya, Padang, mampu mengirim US$500-US$1000. Apalagi sejak keluarnya film Minions (Juli 2015), tiap dua bulan saya dikirim US$2000 (setara Rp28 juta), jadi bisa bayar wisma yang terbaik di Indonesia.”

Dini tinggal di Wisma Lansia Harapan Asri, Banyumanik, Semarang, menempati kamar berukuran 7×9 meter dengan biaya sewa Rp5 juta per bulan. Wisma sangat memperhatikan makanan yang disediakan, menyesuaikan kondisi penghuni yang sudah sepuh. Menunya dirujuk ke dapur RS Elisabeth.

Ini meruntuhkan gosip bahwa Dini hidup merana di hari tua, diabaikan anak-anaknya, serta sudah lama tak bertemu Lintang dan Padang. “Padahal saya ke Paris waktu tayangan perdana Despicable Me 2 (2013).”

Baca juga Nh Dini yang (akhirnya) Gue Kenal

dini gabung
Nh Dini dan keluarga Pierre-Louis Padang. Foto: VOA-Indonesia.

Padang kini bekerja di Los Angeles, sementara istri dan dua anak mereka tetap di Paris dengan pertimbangan pendidikan lebih bagus di Prancis ketimbang di Amerika. Tinggal terpisah dari keluarga sempat jadi keluhan Padang saat bertelepon dengan ibunya.

“Saya bilang ke Padang, ‘Ya disyukuri, walau harus ulang-alik. Hidup kan pilihan.’ Kelihatannya dia dipercaya betul oleh produsernya, tidak ganti-ganti.”

Hubungan kakak beradik Lintang dan Padang pun tetap hangat. Paling sering, mereka saling telepon. Sesekali, kalau Padang punya libur cuma dua hari dan tidak pulang ke Paris, dia ke Kanada menengok sang kakak.

Lintang tinggal Windsor, Ontario, Kanada bersama suami dan dua anak mereka. Dini sudah “tidak berani” lagi ke Kanada karena makan waktu lama untuk perjalanan. Tiga hari dengan tiga kali naik pesawat, dan turun paling akhir di Detroit, AS. Dari Detroit ke tempat Lintang tinggal menyeberangi Sungai Detroit.

Marie-Claire Lintang.
Marie-Claire Lintang.

Visa yang dibutuhkan pun dua, visa Amerika dan visa Kanada. Visa Amerika mudah didapat karena di Surabaya ada konsulat dan sudah kenal Dini. “Yang repot mendapat visa Kanada. Walau sudah ada asuransi, ada surat tanggungan, tetap saya harus datang untuk wawancara. Jadi saya sudah tidak mau lagi.”

Maka Lintang-lah yang mendekat, bertemu di Bangkok atau di Bali atau di tempat lain sesuai perjanjian. Tahun lalu, misalnya, usai perjalanan Lintang ke Korea, Lintang dan keluarga bertemu Dini di Bali. Mereka berlibur di pulau itu selama tiga pekan.

“Sehari-hari saya di laptop, dia pergi sama keluarganya. Nanti dari jalan dia telepon, ‘Maman, kami makan siang di hotel, kamu jangan makan dulu, tunggu” atau “Maman, kami pulang jam 6 nanti, kamu makan sendirian tidak apa-apa ya?’”

marie3
Mesin tik Nh Dini dan fotonya bersama Padang. Foto: Agnes Tia/detikhot

Cara yang sama pernah sekali dicoba dengan keluarga Padang sewaktu anak-anak Padang masih berusia 8 tahun dan 5 tahun. Mereka bertemu di Bangkok. Cuaca Bangkok yang panas membuat anak-anak rewel terus. Akibatnya, liburan hanya berjalan lima hari.

Lintang sekarang guru di sekolah berbahasa Prancis di Ontario dan mengajar yoga di studio milik temannya, tempat dia sebelumnya belajar. Si jelita ini pemilik sabuk hitam judo serta penyandang gelar doktor (Ph.D.) di bidang komunikasi dan media dari Wayne State University.

Lintang menikah dengan pria Kanada keturunan Italia, Jacinto (Jessie) Simonetti. Orangtua Jessie masuk dalam gelombang buruh meninggalkan Italia menuju Kanada, usai Perang Dunia II.

Marie-Claire Lintang. Foto: windsorstar.com
Marie-Claire Lintang (kanan, baju hitam). Foto: windsorstar.com

Sesampai di Kanada, bapaknya tetap menjadi buruh bangunan, ibunya bekerja di restoran sebagai pencuci piring. Tadinya sang ibu hanya bisa memasak makanan keluarga. Tapi karena mengamati dan terus belajar, akhirnya bisa bikin sosis dan makanan olahan lain yang biasanya tidak dibuat di rumah tangga.

Setelah punya anak, ibunya keluar dari restoran untuk membuka usaha sendiri, membuat sosis kering dan sosis basah. Kala musim panas dan buah melimpah, dia membuat manisan buah dalam sirup yang disimpan dalam stoples.

“Gudangnya penuh. Langganannya sudah tahu. Walau bekerja di rumah, bisa membangun rumah. Semua anaknya sarjana. Perjuangan keluarga Simonetti ini keras sekali.”

***

Dimuat di CNNIndonesia.com, 28 Februari 2016

3 Comments

  1. Silvia..saya amat meminati Ibu Dini…bagaimana hendak bertemu dengan beliau…saya merupakan pelajar USM Malaysia…saya sedang membuat kajian tentang Ibu DIni…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s