Geger Kota Sang Inspektur

Pementasan "Inspektur Jendral" oleh Teater Koma,  5 Nov 2015. Foto: Image Dynamics
Pementasan “Inspektur Jendral” oleh Teater Koma, 5 Nov 2015. Foto: Image Dynamics

Oleh Silvia Galikano

Inspektur Jendral akan datang. Ibukota Kerajaan Astinapura mengirimkan Inspektur Jendral untuk menyelidiki kota kecil ini dengan alasan Astinapura akan berperang melawan Amarta.

Ananta Bura (Budi Ros) sang walikota pusing tujuh keliling menerima kabar tersebut.  Seketika kota terpencil yang dipenuhi pejabat korup, gempar. Hakim, kepala kesehatan, penilik sekolah, kepala kantor pos, polisi, hingga dua pria kembar bernama Nakuli dan Sadiwi tak ada yang tak korupsi.

Mau apa Inspektur Jendral datang ke tempat yang jauh dari ibukota? Kapan dia akan datang?

Saat para pejabat gaduh bersiasat agar korupsi mereka tak ketahuan Inspektur Jendral, Nakuli (Sir Ilham Djambak) dan Sadiwi (Asmin Timbil) datang tergopoh-gopoh. Dia memberi laporan ada orang muda datang dari ibukota, tampangnya terpelajar, sudah dua pekan menginap di hotel, belum bayar semalam pun.

Semua sepakat si laki-laki muda bernama Anta Hinimba (Rangga Riantiarno) adalah Inspektur Jendral yang datang sengaja tanpa pemberitahuan untuk menyelidiki para pejabat kota itu.

Satu demi satu pejabat datang menghadap Anta Hinimba sambil menyelipkan uang agar korupsinya tak dilaporkan ke ibukota. Jika ada pejabat yang tak meninggalkan uang, Anta terang-terangan meminta, tapi bilangnya “pinjam” dan berjanji akan dikembalikan.

Yang terakhir datang adalah walikota Ananta Bura. Dia memberikan uang sangat banyak pada Anta Hinimba serta meminta pemuda ini tinggal di rumahnya. Di rumah walikota, Anta Hinimba merayu istri dan putri walikota, hingga akhirnya bermaksud menikahi putri walikota.

Sementara itu, sebagian masyarakat, termasuk pedagang, menuntut agar walikota diganti. Momen kehadiran Inspektur Jendral di kota ini digunakan agar suara mereka cepat sampai ke ibukota.

Namun sekali lagi kabar mengejutkan datang. Anta Hinimba ternyata bukan Inspektur Jendral. Kepala Kantor Pos, yang selalu membukai setiap surat, mendapatkan surat dari Anta Hinimba yang sesungguhnya. Isinya, dia baru saja mengelabui seluruh pejabat di kota itu.

Anta Hinimba sendiri sudah dari tadi pagi angkat kaki dari rumah walikota, hendak ke rumah pamannya di kota lain. Semua pejabat panik. Semakin panik ketika terdengar genderang kerajaan mengiringi Inspektur Jendral yang asli datang.

Produksi ke-142 Teater Koma, Inspektur Jendral: K.P.K (Kalau Penguasa Kacau) dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta, 6-15 November 2015. Disutradarai N. Riantiarno, cerita kali ini mengadaptasi Revizor karya Nikolai Gogol (1809-1852).

Pertunjukan ini menghadirkan konsep dunia wayang dengan teknik modern. Tiga gunungan jadi latar belakang panggung. Wayang kulit dijajarkan di bibir panggung. Sebagaimana kisah wayang yang punya panakawan, Inspektur Jendral juga menghadirkan panakawan, lima perempuan dengan dandan meriah. Mereka adalah Limbik (Tuti Hartati), Canguk (Rita Matu Mona), Plitit (Daisy Lantang), Srikayon (Ratna Ully), dan Bunguk (Angga Yasti) yang tergabung dalam Pasukan Elit Canguk. Di dalam lakon ini mereka ingin mengganti walikota tapi akhirnya kalah melawan meriam dan karabin. Perang melawan korupsi jadi perang seumur hidup di kota kecil itu.

Ketika lakon Revizor atau The Government Inspector atau The Inspector General pertama kali dipentaskan pada 19 April 1836, masyarakat Kekaisaran Rusia geger. Segera terbentuk dua kubu. Yang satu dipimpin jurnalis Faddey Bulgarin, pendukung otoritas kekaisaran, menyerang habis-habisan karya Nikolai Gogol itu karena dianggap kritik vulgar terhadap pemerintahan.

Satu kubu lagi dipimpin Alexander Pushkin, penulis terkemuka dan sahabat Gogol, menganggap naskah parodi tingkah laku para pejabat Kekaisaran Rusia itu sebagai salah satu lakon komedi terbaik Rusia. Terbilang aneh ada naskah yang bisa dipentaskan berkat bantuan Tsar Nicholas I, pemimpin Kekaisaran Rusia ketika itu.

Revizor, yang diilhami kisah pribadi Pushkin, mengalami sejumlah perubahan hingga tahun 1842. Dampaknya begitu mendalam di dunia sastra Rusia hingga ada kritikus sastra berpendapat bahwa Rusia hanya punya satu lakon komedi, yaitu Revizor.

Naskah ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Ada versi komedi musikal Hollywood The Inspector General (1949) yang dibintangi komedian Danny Kaye, berlatar masa pemerintahan Napoleon di Prancis. Usmar Ismail membuat film Tamu Agung (1955) yang merupakan saduran bebas lakon ini.

Teater Populer juga mementaskan Inspektur Jendral (1970) yang disutradarai Teguh Karya dan ikut dimainkan N. Riantiarno. Berpijak pada naskah Teater Populer inilah N. Riantiarno membuat naskah untuk pementasan Teater Koma sekarang.

Sejarah Teater Koma

Poster pementasan "Rumah Kertas" (1977). Foto: Koleksi Teater Koma.
Poster pementasan “Rumah Kertas” (1977). Foto: Koleksi Teater Koma.

Teater Koma adalah kelompok kesenian nirlaba yang konsisten dan produktif. Didirikan di Jakarta pada 1 Maret 1977 dan diikrarkan oleh 12 pendirinya, yaitu; N. Riantiarno, Ratna Madjid, Sjaeful Anwar, Rudjito, Rima Melati, Jajang Pamontjak, Titi Qadarsih, Cini Goenarwan, Jimi B. Ardi, Otong Lenon, Zaenal Bungsu, dan Agung Dauhan di rumah Abdul Madjid, Jalan Setiabudi Barat No. 4, Jakarta Selatan.

Nama grup disepakati, yakni Teater Koma, sebuah metafora yang berarti “gerak berkelanjutan, senantiasa berjalan, tiada henti, tak mengenal titik”.

Pentas perdananya, Rumah Kertas, karya dan sutradara N. Riantiarno, digelar di Teater Tertutup PKJ-TIM, 2-3 dan 4 Agustus 1977.

Sanggar Teater Koma kini berada di Bintaro, Tangerang Selatan. Pentas-pentas Teater Koma kerap digelar lebih dari dua pekan dan dikenal punya banyak penonton setia.

Hingga 2015, sudah memproduksi 141 pementasan, baik di televisi maupun di panggung Taman Ismail Marzuki dan Gedung Kesenian Jakarta.

Berikut sebagian lakon pementasan Teater Koma:

Maaf.Maaf.Maaf. (1978) tentang seorang yang merasa dirinya Raja Dasamuka. Dia meminta seluruh keluarganya menjadi wayang. Akhirnya si tokoh Dasamuka itu dibawa ke rumah sakit jiwa. Pentas ke-3 Teater Koma ini untuk mengkritik Orde Baru yang tidak memberi kekuasaan kepada rakyat. Monolog Dasamuka, saat meresmikan M.C.K. (Mandi-Cuci-Kakus) Center, setiap hari direkam petugas badan intelijen, untuk dilaporkan.

Konglomerat Burisrawa (1990). Didi Petet, yang bergabung dengan Teater Koma sejak 1981, memerankan karakter Burisrawa.

Semar Gugat (1995). Berkisah tentang Semar yang pergi ke Kahyangan dan menggugat Batara Guru, Raja Dewa yang terlalu menguasai manusia. Lewat Semar Gugat, N. Riantiarno mendapat The Sea Write Award 1998 dari Raja Thailand.

Kala (1997). Dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, TIM, kemudian dibawa keliling Jawa (Bandung, Semarang, Cirebon, Surabaya, Malang, Kudus, Solo, Yogyakarta, Purwokerto, Tegal, dan Sukabumi). Sejumlah 17 orang pergi keliling, membawa satu truk, satu bus, dan satu pick-up. Mereka bermain di atas truk yang di atasnya dipasangi set-dekor, selama sebulan. Gratis.

Republik Bagong (2001). Ceritanya Bagong ingin jadi raja. Presiden Gus Dur ada dalam kursi penonton dan tertawa setiap mendapati adegan lucu.

Republik Togog (2004). Merupakan adaptasi Tartuffe karya Moliere yang dibuat dalam bentuk wayangan. Karakter Betari Durga yang dimainkan Sri Dadi Adhipurnomo saat itu menjadi perbincangan.

Republik Petruk (2009). Ini juga tentang Petruk yang ingin menjadi raja, tapi Bagong memberi tahu bahwa Petruk hanyalah panakawan, sama seperti Semar, ayahnya.

Rebublik Cangik (2014). Pementasan ini menjadi seri ke-4 Republik. Bercerita tentang rakyat yang memenangkan Jaka Wisesa menjadi raja Surasena. Tapi apakah Jaka Wisesa benar-benar menjadi raja.

Teater Koma juga memainkan wayang pada beberapa lakon, misalnya Suksesi (1990), Demonstran (2014), Wanita-wanita Parlemen (1986), Opera Rama Sinta (1994), Opera Mahabarata (1996), dan Opera Anoman (1998).

Lakon-lakon Tiongkok juga dimainkan, seperti Opera Ular Putih (2015), Siejinkwie (2010), Sienjinkwie Kena Fitnah (2011), dan Siejinkwie di Negri Sihir (2012). Orang bisa melihat Tiongkok sebagai latar belakang lakon, tapi tetap wayang sumber kreativitasnya.

***
Dimuat di cnnindonesia.com, 6 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s