Bermain dengan Nemo di Pahawang

IMG_5517
Pahawang dan pulau-pulau sekitarnya jadi primadona baru pariwisata Lampung. Foto: Silvia Galikano

Oleh Silvia Galikano

Pulau Pahawang di Kabupaten Pesawaran adalah primadona wisata baru Provinsi Lampung menyusul kesuksesan Teluk Kiluan dengan atraksi lumba-lumbanya.

IMG_5493
Dermaga Ketapang, tempat bertolak menuju Pulau Pahawang. Foto: Silvia Galikano

Pahawang menawarkan spot-spot snorkeling di perairannya, termasuk di perairan pulau-pulau kecil sekitarnya, yakni Pahawang Kecil, Kelagian, Cuku Bedil, dan Tanjung Putus. Lokasinya mudah dicapai. Ada kapal motor sewaan dari Pelabuhan Ketapang yang akan mengantar wisatawan ke Pulau Pahawang dan sekitarnya.

Selain snorkeling dan memandangi ikan-ikan badut (anemonefish), di perairan dangkal pulau-pulau tersebut kita dapat melihat budidaya terumbu karang. Bibit karang dicangkokkan di atas jaring-jaring kawat dan diletakkan di dasar laut.

20151110_125546
Selamat datang di Pahawang. Foto: Silvia Galikano

Candi kecil serta tulisan “Pahawang”, “Pulau Pahawang Wisataku”, dan “Welcome to Taman Nemo” yang ada di dasar laut antara Pulau Pahawang dan Pahawang Kecil beberapa tahun terakhir kerap dijadikan latar belakang foto wisatawan yang snorkeling di Pahawang. Selain dijadikan daya tarik, sebenarnya candi dan tulisan-tulisan dari semen itu adalah sebagai tempat tumbuhnya terumbu karang.

Karena lautnya dangkal, kurang lebih 3 meter, untuk melihat budidaya terumbu karang ini bisa dilakukan cukup menggunakan perangkat snorkeling. Demikian pula jika ingin berfoto di dekat candi dan tulisan-tulisan itu, tinggal menyelam sambil tahan napas beberapa detik tanpa perlu alat selam.

IMG_5523
Snorkeling di perairan Pahawang Kecil. Foto: Silvia Galikano

Namun ke Pahawang tak harus selalu snorkeling. Bisa memilih aktivitas bersepeda mengelilingi pulau Pahawang dengan harga sewa sepeda Rp15 ribu per jam. Bisa berenang saja di pantai Pulau Kelagian yang berwarna hijau toska. Bisa juga bermalas-malasan sepanjang hari di atas hammock yang diikatkan di antara dua pohon kelapa di pantai.

Penginapan bukan masalah di Pahawang. Sebagian rumah di sini menyewakan kamar-kamarnya sebagai homestay. Cottage ada bagi wisatawan rombongan.

IMG_5501
Ke Pahawang tak harus snorkeling. Bisa saja hanya bermain di pantai. Foto: Silvia Galikano

Wisatawan yang datang dengan memesan terlebih dahulu dapat pula sekalian memesan oleh-oleh khas Pahawang berbahan utama daun dan buah bakau, yakni keripik bakau, sirup bakau, dan dodol bakau.

Sejauh ini, keripik, sirup, dan dodol tak ada yang siap jual dengan pertimbangan makanan tersebut dibuat tanpa tambahan pengawet buatan, karenanya tiga hari harus sudah habis.

“Dodol, misalnya, kalau lebih dari tiga hari sudah tumbuh jamur. Itu sebabnya masyarakat hanya mengerjakan sesuai pesanan. Kalau ada wisatawan yang memesan sebelum datang, sehari sebelumnya disiapkan masyarakat sini,” ujar Suhendi, 25tahun, pemuda Pahawang yang mengelola tour operator Karya Wisata Pahawang.

20151110_142801
Suhendi, pengelola Karya Wisata Pahawang. Foto: Silvia Galikano

Suhendi inilah yang bersama nelayan Pulau Pahawang sejak 2012 merehabilitasi hutan bakau dan melakukan transplantasi terumbu karang di perairan Pulau Pahawang yang rusak akibat illegal fishing. Semua dilakukan secara mandiri.

Pemuda lulusan SMA di Bandarlampung ini meraih juara III tingkat nasional pemuda pelopor berprestasi untuk kategori pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan oleh Kemenpora pada 2 November 2015 atas upayanya menyelamatkan ekosistem laut Pahawang.

Semua berawal dari peduli lingkungan. Tiap pagi dia dan masyarakat Pahawang membersihkan sampah di pantai yang dibawa air laut dari luar. Pemuda lulusan SMA di Bandarlampung ini pun kemudian rajin mempromosikan Pahawang lewat media sosial, membuat kerja sama dengan pemilik kapal di Pelabuhan Ketapang, dan mengajak masyarakat Pahawang menyiapkan kamar dan rumah hingga layak untuk disewakan.

Berdatangannya wisatawan memberi manfaat besar bagi masyarakat Pahawang yang umumnya nelayan. Ada alternatif pekerjaan baru di bidang pariwisata, misalnya sebagai pemandu wisata dan pemilik penginapan.

“Pemuda putus sekolah bisa menjadi pemandu snorkeling, warung-warung milik masyarakat jadi bertambah pembeli tiap akhir pekan. Banyak rumah yang tadinya tidak punya toilet, sekarang punya toilet,” kata Suhendi.

***
Dimuat di cnnindonesia.com, 16 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s