Ke Lampung Wajib Nyeruit

IMG_5484
Cikwo Resto di Sumurbatu, Bandarlampung. Foto: Silvia Galikano

Oleh Silvia Galikano

Sekilas, tak banyak beda citarasa makanan Lampung dan Palembang, yakni asin dan pedas tanpa rasa manis. Namun jika diperhatikan benar, tetap ada yang berbeda di konsistensi kuah dan rasa bumbunya.

Gulai taboh (gurih), misalnya, yang pada September 2015 dimasukkan dalam daftar warisan budaya tak benda dunia dari Provinsi Lampung. Taboh adalah gulai dengan aneka isi, yakni ikan, ayam, udang, kacang-kacangan, dan biji melinjo. Boleh digabung semuanya, boleh juga hanya beberapa. Apa bedanya dengan gulai daerah lain?

IMG_5460
Gulai tabo iwa tapa semalam khas Lampung. Foto: Silvia Galikano

Santannya dipisah antara santan cair dan santan kental. Bumbu dimasak dulu bersama santan cair, baru belakangan ditambahkan santan kental, sehingga rasa santannya “tidak matang”.

“Gulai kami tidak pakai bawang putih, bumbunya tidak ditumis, dan gurihnya murni dari santan kelapa, tanpa bahan penyedap buatan,” ujar Isna Adianti, pemilik Cikwo Resto di Sumur Batu, Bandarlampung, restoran pertama di Lampung mengkhususkan diri pada kuliner Lampung.

Cikwo Resto berada di sudut jalan Nusa Indah 3, Sumur Batu, Bandarlampung. Meja-kursi disusun di dalam, di teras, dan di halaman. Di sudut halaman ada panggung kecil tempat ditampilkannya tarian tradisional Lampung sebagai pengantar tamu makan.

IMG_5476
Isna Adianti (kiri) dan Sopiah. Foto: Silvia Galikano

Di sini kita bisa menikmati seruit, segubal, pindang baung, cucokh mandan, kacang tujin, hingga cubik/ khemas dengan rentang harga Rp6 ribu hingga Rp35 ribu. Tak lupa kopi lampung, kopi robusta yang dihidangkan bersama susu kental manis dalam gelas mungil.

“Cikwo” adalah panggilan khas Lampung bagi anak perempuan tertua. Nama ini dipilih karena Isna adalah sulung dari empat bersaudara. Dia membuka restoran ini bersama minan (bibi)-nya, Sopiah, yang berpengalaman mengelola catering hidangan khas Lampung.

“Maunya semua makanan khas Lampung ada di sini, tapi karena kami lahir dan besar di Liwa, Pesisir Barat, jadi kebanyakan dari Pesisir Barat,” ujar Isna.

IMG_5455
Buak tat, biasa jadi hidangan Lebaran. Foto: Silvia Galikano

Restoran ini berdiri pada Februari 2015. Walau terhitung baru, bahkan belum genap setahun, sudah merebut hati masyarakat. Pelanggannya datang dari berbagai usia. Pelanggan dewasa menyukai hidangan beratnya, sedangkan pelanggan muda lebih suka makanan ringan dan kopi lampung yang mereka nikmati di halaman.

Di Cikwo ini kita bisa temukan makanan Lampung yang sudah jarang terhidang di atas meja, kecuali pada hari Lebaran dan perayaan-perayaan khusus. Ambil contoh segubal dan buak tat yang jadi hidangan Lebaran

Segubal adalah beras ketan yang dimasak bersama santan, dibungkus daun pisang, kemudian dimasak kembali, dengan total waktu memasak lebih dari 10 jam. Segubal dimakan bersama lauk opor ayam, rendang, dan sayur. Sedangkan buak tat adalah kue berbahan mirip nastar, yakni adonan terigu yang diisi selai nanas.

IMG_5452
Seruit, terdiri dari sambal, terong bakar, ikan bakar, dan lalap. Foto: Silvia Galikano

Tak lengkap bicara kuliner Lampung tanpa menyebut seruit. Demikian terkenalnya seruit, hingga di Lampung ada istilah “nyeruit” untuk menyebut aktivitas makan seruit.

Seruit adalah sambal, terong bakar, dan ikan bakar yang dimakan bersama lalap. Ikannya bisa ikan sungai, bisa pula ikan laut, umumnya nila. Sedangkan lalapnya gabungan lalap mentah dan lalap yang sudah dimasak, yakni daun pepaya rebus, daun singkong rebus, selada, timun, kol, terong bulat, petai, jengkol, dan julang-jaling.

Yang khas adalah sambalnya yang, kurang lebih, gabungan sambal terasi dan tempoyak (durian fermentasi), terdiri dari cabe merah, bawang merah, bawang putih, tomat, dan terasi. Sambal terasi dan tempoyak disajikan terpisah dengan pertimbangan tak semua orang suka durian.

Di piring makanlah keduanya disatukan, diaduk rata, hingga siap jadi cocolan ikan patin panggang, terong bakar, dan aneka lalap, menemani nasi pulen yang sedang mengepul-ngepul. Slurrpp. Nyeruit dulu, yuk.

***
Dimuat di cnnindonesia.com, 12 November 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s