Melihat Kecerdasan Arsitektur Lawang Sewu

IMG_5696
Lawang Sewu. Foto: Silvia Galikano

Oleh Silvia Galikano

Lawang Sewu kerap diidentikkan dengan ruang bawah tanahnya berikut cerita-cerita angker yang dilekatkan. Namun demikian itu tak menafikan keindahan Lawang Sewu secara keseluruhan.

Ruang tersebut lembap, digenangi air, berlangit-langit rendah, dan gelap. Fungsinya sebagai drainase, saluran air.

“Pengunjung dibolehkan ke ruang bawah tanah tak lain agar dapat mengetahui kecerdasan arsitektur zaman dulu,” ujar Waluya, pemandu wisata di Lawang Sewu. Ruang bawah tanah kini sedang dalam perawatan dan baru akan dibuka untuk umum tahun depan.

IMG_5660
Tugu Muda di Taman Wilhelmina. Foto: Silvia Galikano

Lawang Sewu, yang berada di Simpang Lima Semarang, berdiri berdampingan dengan bangunan-bangunan lama yakni Gereja Katedral Belanda, Museum Mandala Bhakti (dahulu Pengadilan Hindia Belanda), dan Wisma Perdamaian (dahulu kantor residen). Di tengah-tengah adalah Wilhelminaplein (Taman Wilhelmina) tempat berdirinya Tugu Muda.

Di sini pengunjung dapat melihat-lihat museum, galeri, serta peta-peta dan foto-foto zaman dulu. Kota Lama Semarang berada di timur laut Lawang Sewu, merentang sepanjang 2,7 kilometer dari Simpang Lima hingga Jembatan Berok, menyimpan 101 bangunan cagar budaya, termasuk di dalamnya Gereja Blenduk.

Pembangunan Lawang Sewu oleh Hindia Belanda berlangsung sepanjang 1904-1907 untuk Het hoofdkantor van de Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (Kantor Pusat Administrasi Kereta Api – NIS). NIS menunjuk Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Quendag dari Amsterdam sebagai arsiteknya.

IMG_5641
Gedung utama yang jadi ruang direksi. Foto: Silvia Galikano

Pembangunannya dilakukan dalam empat tahap. Satu tahap satu gedung. Gedung yang pertama dibangun adalah bagian belakang, pada 1904, sebagai tempat percetakan tiket kereta api. Gedung berikutnya adalah gedung utama, gedung dengan kaca patri indah, pada 1905-1907, yang jadi ruang direksi PT Kereta Api.

Kompleks bangunan ini dikenal masyarakat dengan sebutan “Lawang Sewu” atau pintu seribu karena jumlah pintu dan jendelanya banyak, sehingga disebut “sewu” (seribu, bahasa Jawa untuk menyebut sesuatu yang banyak sekali). Sedangkan jumlah persisnya 928 pintu dan jendela.

Banyaknya jumlah pintu dan jendela tak lepas dari iklim kita yang tropis, agar sirkulasi udara lancar. Gedung ini juga punya koneksi antarruang dengan pertimbangan keamanan.

IMG_5655
Kaca patri yang menceritakan eksploitasi besar-besaran hasil alam Nusantara oleh Belanda. Foto: Silvia Galikano

Satu spot favorit berfoto saat ke Lawang Sewu adalah dinding kaca patri berukuran tinggi lebih dari 2 meter. Kaca yang terbagi menjadi empat panel besar ini mencerminkan cerita eksploitasi besar-besaran hasil alam Nusantara. Flora dan fauna kita diangkut kereta dan dikumpulkan di kota-kota pelabuhan Pulau Jawa sebelum diperdagangkan di dunia, untuk memperkaya Belanda dan keluarga kerajaannya di bawah perlindungan Dewi Fortuna.

Detailnya seperti berikut. Di panel tengah-bawah berjajar Dewi Fortuna si dewi keberuntungan (berbaju merah), roda bersayap lambang kereta api, dan Dewi Sri dewi kemakmuran bangsa Jawa. Panel di atasnya adalah tumbuhan dan hewan yang menggambarkan Nusantara sebagai negeri kaya akan hasil bumi berikut simbol kota-kota dagang Batavia, Surabaya, Semarang.

Simbol kota-kota dagang Belanda, yakni Amsterdam, Rotterdam, dan Den Haag, berderet di panel kiri. Panel kanan menampilkan ratu-ratu Belanda.

Tak berhenti di situ daya tarik Lawang Sewu. Dari sisi arsitektur, lanjut Waluya, gedung ini dibangun tanpa menggunakan semen, melainkan adonan bligor, atau ada juga yang menyebutnya pese, yakni istilah lokal untuk menyebut campuran pasir, kapur, dan batu bata merah.

Kelebihan bligor dibanding semen adalah bangunan jadi tak mudah retak, tak heran tak ditemukan retakan di Lawang Sewu. Bligor juga lebih awet dan menyerap air, sehingga ruang dalamnya sejuk.

IMG_5705
Lawang Sewu dibuat tanpa semen. Foto: Silvia Galikano.

Konstruksinya juga tanpa besi. Atapnya dibuat berbentuk melengkung setengah lingkaran tiap setengah meter untuk mengurangi tekanan. Struktur atap dari bata yang disusun miring layaknya struktur jembatan.

“Kalau menggunakan besi, tekanannya berat,” kata Waluya.

Gedung yang paling akhir dibangun tahun 1916, kali ini menggunakan besi dan material lokal. Bata, genting, kaca, hingga ubin, semua buatan Semarang dan sekitarnya. Alasannya, saat itu di Eropa sedang Perang Dunia I. Pengiriman barang dari Belanda lambat, sehingga barang-barang lokal pun jadi prioritas.

Pada zaman Jepang, bangunan ini dijadikan markas militer Jepang, Kempetai dan Kidobutai. Saat itulah pecah Pertempuran Lima Hari di Semarang (14-19 Oktober 1945) antara pemuda Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) melawan Kempetai dan Kidobutai. Pertempuran ini dimenangkan AMKA dengan korban jiwa 2000 orang Semarang dan 850 orang Jepang.

Untuk mengenang pahlawan yang gugur pada Pertempuran Lima Hari di Semarang itulah dibangun Tugu Muda pada 1951 di Wilhelminaplein (Taman Wilhelmina) yang ada di seberang Lawang Sewu. Selain itu, bekas makam di area depan Lawang Sewu diberi penanda berupa potongan rel kereta api yang dibenamkan di tanah secara vertikal dan 20 centimeter menyembul keluar.

Setelah Kemerdekaan, bangunan ini berfungsi sebagai kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI), Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro), dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah sampai 1994. Dari 1994 hingga sekarang, bangunan yang juga masuk dalam daftar bangunan cagar budaya ini kosong. Lawang Sewu kini dikelola PT KAI dan menjadi atraksi wisata sejarah yang menarik di Kota Semarang.

Catatan bagi hendak ke Lawang Sewu, jangan segan-segan menggunakan pemandu wisata karena banyak informasi tak tertulis di brosur disampaikan langsung oleh pemandu. Jangan ragu juga untuk bertanya banyak-banyak.

***
Dimuat di cnnindonesia.com, 20 November 2015

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s