Menelusuri Jejak Sejarah di Monumen Krakatau

IMG_5546 kecil
Monumen Krakatau di Taman Dipangga, Teluk Betung, Bandarlampung. Foto: Silvia Galikano

Oleh Silvia Galikano

Dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada 1883 meninggalkan jejak nyata di Bandarlampung, kota yang berjarak sekitar 60 mil laut dari Krakatau.

Letusan gunung disusul ombak setinggi 2 meter menyebabkan peradaban berubah seketika. Tak kurang 36 ribu jiwa di Banten dan Lampung jadi korban. Saat itu penduduk Lampung 600 ribu jiwa.

“Bahkan konon, asal nama Kampung Pecoh (pecah) di Kelurahan Garuntang berasal dari kondisi kampung yang berantakan diterjang tsunami akibat Krakatau meletus,” ujar Wakil Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Lampung Yaman Azis.

Sebuah rambu laut terempas dari Pelabuhan Gudang Agen dan ditemukan di Kampung Opas. Dua tempat itu berjarak 1,2 kilometer.

Maka untuk memperingati dahsyatnya peristiwa tersebut, Belanda mendirikan Monumen Krakatau pada sekitar 1884-1885. Monumennya tak lain rambu laut yang terempas jauh itu, dan didirikan tepat di tempatnya ditemukan. Monumen ini sekaligus dijadikan penanda 0 kilometer Kota Telukbetung, tak jauh dari kantor Wakil Residen Lampung saat Lampung masih termasuk Karesidenan Banten.

Pada era 1980-an monumen itu dipindahkan 20-an meter ke arah tenggara dengan pertimbangan di tempat yang lama di tepi jalan. Lokasi baru persis di seberang Kantor Wakil Residen yang sudah jadi Kantor Polda Lampung, di tengah-tengah Taman Dipangga, Jalan W.R. Supratman, Telukbetung, Bandarlampung.

IMG_5547 kecil
Kaki monumen dihias relief yang menjelaskan peristiwa meletusnya Krakatau tahun 1883. Foto: Silvia Galikano

Rambu laut itu ditopang kaki dari semen sehingga tinggi totalnya 2 meter. Sisi-sisinya berhiaskan relief yang menjelaskan peristiwa lebih dari satu setengah abad lampau itu.

Usai tsunami, ada dua rambu laut yang ditemukan terlempar jauh dari tempatnya. Satu dijadikan Monumen Krakatau, satu lagi terempas sampai di tengah Kampung Talang, Kecamatan Telukbetung Selatan yang sampai sekarang masih ada dan diberi pagar.

Tinggalan lain dari peristwa meletusnya Krakatau adalah jangkar dan lampu suar yang sekarang disimpan di Museum Negeri Lampung. Dulu juga ada kapal dagang (ada juga yang meyakini ini kapal patroli Belanda) berukuran panjang 20-an meter yang terdampar sampai Sumur Putri, 2 kilometer dari bibir pantai di Gudang Agen. Ada yang menemukan batangan emas di dalam kapal ini.

Sekarang kapal ini sudah tidak ada, lenyap setelah jadi besi tua. “Dulu pernah jurnalis Belgia sengaja datang untuk minta dicarikan keberadaan kapal itu. Setelah dilacak, akhirnya cuma bisa menemukan gerigi mesinnya di bengkel las di Kecamatan Telukbetung Selatan,” kata Yaman.

 ***
Dimuat di cnnindonesia.com, 13 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s