Dulu, Menenun Sempat Dilarang

Perempuan Sasak menenun songket
Perempuan Sasak sedang menenun Songket di Desa Sukarara, Lombok. Foto: Silvia Galikano

Keistimewaan tenun Sasak adalah desain motifnya tidak digambar/ dijiplak, melainkan tersimpan dalam imajinasi, tempat paling aman ketika menenun jadi kegiatan terlarang.

Motif tenun yang paling dikenal sebagai khas Sasak adalah motif subahnala yang berbentuk belah ketupat dengan banyak kembangan. Ada cerita di balik lahirnya motif ini.

Kain kembang koma yang dikenakan masyarakat saat menenun dilarang
Kembang koma. Foto: Silvia Galikano

Dulu, penjajah melarang masyarakat Lombok menenun. Alhasil, motif-motif tenun dari leluhur hanya ada di dalam kepala dan diajarkan turun temurun secara sembunyi-sembunyi.

“Kain yang dikenakan masyarakat sehari-hari saat itu adalah kain katun sederhana tanpa motif, bernama kembang koma, itu pun ditenun secara diam-diam,” ujar Hj Robiah, pemilik toko kain tenun dan batik sasambo Darma Setia di Desa Sukarara, Lombok Tengah.

Hj Robiah, pemilik toko kain tenun dan batik sasambo Darma Setia di Desa Sukarara, Lombok Tengah
Hj. Robiah dengan latar belakang songket Sasak. Foto: Silvia Galikano

Tersebutlah seseorang yang diam-diam menenun songket dengan motif berbentuk belah ketupat, yang saat itu belum ada namanya. Begitu tenunan selesai, orang tersebut meninggal, namun sempat menyebut “subhanallah (bahasa Arab yang berarti maha suci Allah)” karena berhasil menyelesaikan misi besarnya. Sejak itulah motif belah ketupat disebut motif subahnala, dari kata subhanallah.

Setelah merdeka barulah masyarakat Lombok leluasa menenun. Songket hanya boleh digunakan para bangsawan. Tiap keluarga besar punya satu motif khas. Selain subahnala, dikenal pula motif lain, seperti bangkat (petak sawah), merak keket sebagai simbol gadis, subahnala lepang (kodok), dan bintang empat.

Proses membuat motif
Proses membuat motif. Foto: Silvia Galikano

Lama pengerjaan selembar tenunan tergantung rumitnya motif dan kualitas benang. Semakin rumit motif dan semakin halus benang yang digunakan, semakin lama waktu pengerjaan. Satu taplak meja, misalnya, rampung dalam 1-2 pekan, sedangkan satu sarung bisa sampai satu bulan.

 

Itu sebabnya harga jual Rp1-2 juta untuk selembar sarung songket motif subahnala menjadi harga yang layak, juga songket dengan benang emas bisa mencapai Rp2,5 juta per helai.

Merupakan tradisi masyarakat Sasak bahwa perempuan harus bisa menenun sebelum menikah. Rata-rata sejak berusia 10 tahun anak perempuan diajar menenun. Seperti pemandangan di Dusun Sade, bocah perempuan masih mengenakan rok seragam SD menenun di toko cenderamata yang ditunggui ibunya.

Songket dengan benang emas
Songket Sasak dengan benang emas. Foto: Silvia Galikano

Menjelang hari pernikahan, orangtua akan memberikan alat tenun lengkap kepada anak gadis mereka untuk menenun kain pengantinnya sendiri.

Menurut aturan Sasak, masyarakat asli Pulau Lombok, penenun songket wajib perempuan dan penenun ikat wajib laki-laki. Namun sekarang sulit mempertahankan tradisi tersebut.

Tuntutan ekonomi dan zaman tak memungkinkan laki-laki Sasak menenun ikat karena harus bekerja, bahkan sampai merantau ke luar negeri. Alhasil sekarang perempuan juga mengerjakan tenun ikat. Walau begitu, setiap anak laki-laki Sasak tetap diajarkan cara membuat tenun ikat.

***
Dimuat di cnnindonesia.com, 26 November 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s